"Apa yang buatmu yakin masuk Islam?"
"Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah" kataku dengan mantab.
"Terus??" tanya Mamed.
"Aku meyakini dan percaya Islam adalah jalanku, logika juga mengatakan hal ini."
"Jadi, menurutmu semua bisa pakai logika?"
"Ya..."
"Pernah lihat Allah?? Atau nabi Muhammad??" Mamed bertanya dengan sebuah jebakan maut
"Ya enggak, lah...."
"Kenapa kamu berani bersaksi, Mana Islam yang kau pilih itu?" tanya Mamed sudah menebar jebakan analogi yang tidak bisa aku hindari, "Ibarat di pengadilan, kau mau jadi saksi dengan modal yakin... Apa hal tersebut diperbolehkan tanpa adanya bukti?"
Aku hanya bisa terdiam tenggelam dalam pikiran yang mulai semrawut tak karuan.
"Kau itu suamiku, harusnya dukung dan bimbing aku masuk Islam saat hidayah aku terima"
Kata-kata yang keluar dari mulutku membuatnya sedih. Betapa menyedihkannya aku yang bersikeras menganggap dirinya adalah suamiku. Aku masih saja membenarkan delusi ini atau aku saja yang terlalu menyedihkan karena menerima delusi dengan senang hati.
Atau bisa juga kami berdua sama-sama menyedihkan karena perbedaanlah yang membuat kami masih merasa nyaman menikmati delusi tak berkesudahan ini?
*****
Banyak waktu terlewati dan hal tersebut tak terlewati bersama Mamed. Dan saat saat bersamanya tiba, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Menjadi Sephia bagi masing-masing kami merupakan hal tercela, namun kami menikmatinya. Dan menjilati ludah sendiri memang begitu nikmat untuk saat ini.
Tetapi berubah semenjak hari ini ketika Mamed melihatku begitu bahagia. Ia merasa aneh mendapati aku begitu manja seperti tak pernah terjadi sebelumnya atau memang hanya sekadar perasaan saja.
"Sayang..."
"Hmm?" Mamed merespon dengan santai saat aku bermanja duduk di pangkuannya diiringi TV berisik.
"Pernah enggak, sih ... bayangin kalau kita punya anak dan bahagia membesarkan anak kita nanti?" tanyaku.
Mungkin, mungkin jika seandainya Mamed punya alat penghenti waktu, maka ia akan tertawa terbahak-bahak melihat wajahku membeku bersama waktu. Masih saja aku membenarkan delusi ini, bahkan Mamed lebih menyedihkan karena masih senang dengan delusi yang aku ciptakan. Ia hanya bisa tersenyum
"Tentu, tahu enggak, sih ... Kalau kita melihat dunia penuh derita, tapi tetap saja kita menikah dan punya anak... Itu adalah cinta" ucapnya
Setiap perkataannya selalu berhasil membuatku tersenyum.
"Tidak ada seni paling indah ketika sepasang insan saling mencintai bersama merawat dan membesarkan buah hati, Karena sejatinya seni bukan selalu hasil melainkan bagaimana proses menemukan dan menciptakan seni itu sendiri"
Aku kecup lembut bibirnya.
"Tutup mata"