Hari ini...
Aku sudah lupa berapa lama dipindah tugaskan ke kota lain, walaupun tidak jauh tetapi rasanya rindu pada kota kelahiranku sulit terobati. Dan untungnya pindah tugas ini hanya sementara dan aku bisa kembali ke kota asalku. Beberapa barang sudah dikirim pulang, tinggal aku dan putra kecilku yang akan ikut pulang. Tiket kereta sudah berada di tangan, aku siap untuk memulai perjalanan panjang yang mungkin akan melelahkan ini.
"Jadi pulang hari ini?" tanya Mbak Vana terdengar jelas ditelepon.
"Iya, Mbak" balasku.
"Pulang ke rumah, kan? Jangan pulang ke kontrakan mu itu"
"Iya, Mbak... Mungkin sore nanti barangku sudah sampai rumah"
"Sudah ada yang jemput di stasiun? Kalau enggak ada, biar aku yang jemput"
"Enggak perlu, ada Mamed"
Mbak Vana diam, suara napasnya terdengar begitu jelas. Entah apa yang ada dalam benaknya.
"Mungkin aku sampai rumah malam, aku mau ke makam Papa Mama terlebih dahulu"
"Hati-hati di jalan, aku sudah enggak sabar buat ketemu keponakanku" ucap Mbak Vana dengan sedikit tawa, aku tahu betul itu tawa yang khas dan Mbak Vana memang benar-benar merindukan putra kecilku.
Perjalanan panjang yang begitu melelahkan masih dalam tahap awal. Putra kecilku sudah pulas tertidur walau kereta baru saja berjalan.
Sesosok pemuda dengan pakaian berwarna gelap duduk di kursi tepat berhadapan denganku. Ia melempar senyum menyapa yang tentu saja ku balas juga dengan senyum. Terlihat jelas ia memiliki kemiripan dengan seorang pria yang sudah ku kenali dengan sangat baik seumur hidupku, siapa lagi kalau bukan Mamed. Sepertinya sosok pemuda ini adalah kembaran atau reinkarnasi darinya. Ia membuka buku yang berada di genggaman dan segera menenggelamkan dirinya dalam dunia bacaan.
Ada sensasi menggelitik saat memperhatikan dirinya secara diam-diam. Awalnya sempat ku kira ia berasal dari masa lalu dan ada di sini dengan mesin waktu. Namun, konyolnya pemikiranku memang tak bisa lepas dari Doraemon. Dia adalah sosok yang paling aku kagumi meskipun hanya tokoh fiksi. Untuk menghindari bosan perjalanan, ku putuskan untuk menyelam ke kilas balik masa lalu dan melompat beberapa langkah mundur.
Hanya catatan yang aku bisa andalkan untuk saat ini. Catatan ini adalah kontrak perjanjian antara aku dan waktu. Karena aku yakin suatu hari nanti, ingatanku tentang semua ini akan pudar seiring waktu. Begitu juga tentang seorang pria bernama Mamed yang aku kenal dengan sangat baik hampir seumur hidupku ini. Dan biarkan aku menjadikannya abadi dalam sebuah tulisan.