Pukul empat tiga puluh tujuh.
Itu adalah waktu yang akan Rusmana ingat bertahun-tahun kemudian bukan karena sesuatu yang istimewa terjadi, tapi justru karena tidak ada yang istimewa. Karena pagi itu dimulai seperti semua pagi lainnya di rumah Indika dengan aroma kopi robusta yang baru digiling, dengan bunyi air keran di halaman belakang, dengan dinginnya lantai marmer yang ia pel dengan tangan setiap hari sebelum penghuni rumah bangun.
Tangannya sudah terbiasa dengan dingin itu. Dua puluh dua tahun hidup, dan sepuluh jarinya sudah lebih akrab dengan air dingin dan sabun cuci daripada dengan sentuhan manusia lain.
Ia berlutut di sudut ruang makan, menggosok noda yang hampir tidak terlihat di sela-sela marmer putih. Matanya menyipit bukan karena lelah, tapi karena mencari. Rusmana selalu mencari. Noda kecil, debu di sudut lemari, daun kering yang jatuh di taman. Hal-hal yang tidak dicari orang lain, karena orang lain tidak pernah melihatnya.
Atau tidak mau melihatnya, pikirnya suatu kali. Tapi itu pikiran lama. Pikiran yang sudah ia simpan di tempat yang sama dengan ia menyimpan foto ayahnya di laci kecil di kamarnya, di bawah tumpukan mukena yang sudah menipis.
Pukul lima lewat dua belas menit.
Ia bangkit dari lututnya. Lututnya memerah seperti biasa. Kulit di tempurungnya sudah mengeras, kapalan halus yang terbentuk dari bertahun-tahun berlutut di lantai yang sama. Kalau ada yang memperhatikan, mereka akan mengira itu tanda kerja keras. Tapi tidak ada yang pernah memperhatikan.
Rusmana berjalan ke taman belakang.
Rumah Indika tidak seperti rumah-rumah lain di kota ini. Kalau kamu berdiri di jalan dan melihatnya dari luar, kamu akan mengira itu hotel butik atau mungkin galeri seni yang salah tempat. Temboknya putih bersih, jendela-jendelanya besar dan tinggi, tirai-tirai krem yang selalu tertutup setengah. Halamannya luas, tapi tidak ada anak-anak yang berlari di atas rumputnya. Tidak ada suara tawa. Hanya suara mesin pemotong rumput yang datang setiap Rabu pagi, dan suara langkah kaki yang selalu terdengar seperti ingin cepat-cepat pergi dari satu ruangan ke ruangan lain.
Di sudut taman, di belakang pohon mangga yang sudah tua
satu-satunya pohon di rumah ini yang tidak terlihat seperti sengaja ditata ada taman kecil. Bukan taman yang dirancang arsitek lanskap. Bukan taman yang ada di brosur. Ini taman Rusmana.
Ia yang menanamnya, tiga bulan setelah ia datang ke rumah ini.
Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang peduli.
Bunganya sederhana melati, mawar kecil yang hampir selalu setengah layu karena kurang sinar matahari, dan satu tanaman kamboja yang tidak pernah berbunga tapi daunnya selalu hijau. Rusmana menyiramnya setiap pagi, sebelum siapa pun bangun. Bukan karena ia ingin dilihat. Justru karena ia tidak ingin dilihat. Ada sesuatu yang sunyi dan jujur tentang melakukan sesuatu yang tidak akan pernah diketahui siapa pun.
Ia memetik satu tangkai melati. Kelopaknya masih basah oleh embun. Warnanya putih putih yang hampir transparan, seperti tulang ikan yang sudah lama terendam air.
Rusmana membawanya ke dalam. Ke meja makan.
Meja makan rumah Indika panjangnya dua setengah meter. Terbuat dari kayu jati tua yang diimpor dari Jepara begitu kata Nyonya Samara suatu kali, sambil lalu, seperti menyebutkan harga sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Di atasnya, taplak putih bersih diganti setiap dua hari. Piring-piring porselen dengan pinggiran emas tipis. Sendok dan garpu perak yang berat di tangan.
Rusmana meletakkan tangkai melati itu di sudut meja, di dekat tempat yang biasanya diduduki Rafael.
Ia tidak tahu kenapa di situ.
Maksudnya ia tahu. Tapi ia tidak mau memikirkannya terlalu dalam. Karena kalau dipikirkan, jawabannya akan membawanya ke tempat-tempat yang tidak ingin ia kunjungi. Tempat-tempat di mana pertanyaan-pertanyaan seperti "kenapa aku melakukan ini?" dan "apa aku berharap sesuatu?" tinggal menunggu dengan sabar, siap menyergap.
Jadi ia hanya meletakkannya. Tanpa alasan. Tanpa harapan.
Bohong, bisik sesuatu di kepalanya. Kamu selalu punya harapan. Hanya saja kamu sudah pandai menyembunyikannya bahkan dari dirimu sendiri.
Rusmana mengabaikan suara itu. Ia sudah mahir mengabaikan banyak hal.
Ia mundur selangkah, memandangi meja yang sudah rapi. Piring-piring tersusun sempurna. Sendok dan garpu sejajar. Gelas-gelas kristal berkilau di bawah lampu gantung yang tidak pernah dinyalakan di pagi hari karena cahaya matahari sudah cukup dan karena Nyonya Samara bilang listrik bukan barang murah, meskipun suaminya memiliki setengah dari perusahaan listrik di kota ini.
Dan di sudut meja, tangkai melati itu. Kecil. Hampir tidak terlihat.
Seperti aku, pikir Rusmana. Lalu segera menghapus pikiran itu.
Pukul enam empat puluh satu menit.
Suara langkah kaki pertama terdengar dari lantai atas. Bukan langkah kaki yang pelan dan hati-hati seperti milik pembantu-pembantu lain yang bangun setelah subuh untuk bersiap-siap. Bukan langkah kaki tegas dan terukur seperti milik Tuan Hendrawan yang selalu turun tepat pukul tujuh kurang lima menit. Bukan langkah kaki yang sedikit terseret seperti milik Nyonya Samara yang lututnya mulai bermasalah.
Ini langkah kaki yang berbeda. Lebih ringan. Lebih cepat. Langkah kaki seseorang yang turun tangga bukan karena harus, tapi karena ingin cepat-cepat pergi.
Rafael.
Rusmana tidak menoleh.
Ia masih berdiri di dekat meja, merapikan sendok yang sudah rapi gerakan yang tidak perlu, ia tahu, tapi ia butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangannya. Tangannya selalu butuh sesuatu untuk dilakukan. Kalau tidak, ia akan mulai memainkan ujung bajunya, atau meraba tepi hijabnya yang sudah memudar - kebiasaan buruk yang selalu dimarahi ibunya dulu.
"Hijab itu cuma satu, Mana. Jangan dipegang-pegang terus. Nanti makin cepat rusak."
Tapi Rusmana tidak bisa berhenti. Ada sesuatu di tekstur kain itu kain katun murah yang sudah menipis di beberapa bagian, yang warnanya dulu hitam pekat sekarang sudah mulai keabuan yang menenangkannya. Seperti sauh kecil. Seperti bukti bahwa ada sesuatu di dunia ini yang bertahan, meskipun sudah aus.
"Hijab itu cuma satu, Mana."
Benar. Hijab itu cuma satu. Pemberian ayahnya dua minggu sebelum meninggal. Dibeli dari pasar tradisional di dekat stasiun, bukan dari toko kain mahal. Warnanya hitam. Tidak ada bordir. Tidak ada payet. Hanya selembar kain segi empat yang ayahnya pilih sendiri "Yang penting bersih, Nduk. Yang penting nutup."
Ayahnya tidak sempat melihat Rusmana memakainya.
Langkah kaki Rafael semakin dekat.
Rusmana akhirnya menoleh bukan dengan gerakan dramatis, bukan dengan kepala yang mendongak cepat. Hanya sedikit. Hanya cukup untuk melihat dari sudut mata.
Dan di sinilah semuanya berhenti.
Maksudnya tidak secara harfiah. Dunia tidak berhenti berputar. Jarum jam masih bergerak. Air di kolam taman masih mengalir. Tapi di dalam dada Rusmana, ada sesuatu yang berhenti. Sesuatu yang selalu berhenti setiap kali ia melihat Rafael. Seperti jantung lupa cara berdetak selama satu-dua detik. Seperti paru-paru lupa cara menghirup udara.
Rafael Mario Indika di usia delapan belas tahun.
Kalau kecantikan punya nama lain, mungkin Tuhan menyimpannya untuk Rafael. Kalau kesempurnaan fisik bisa menjelma menjadi manusia, mungkin ia sedang berjalan melintasi ruang makan sekarang, dengan tangan di saku celana dan mata yang menatap lurus ke depan tidak ke kiri, tidak ke kanan, tidak ke arah Rusmana yang berdiri seperti patung di sudut meja.
Rambutnya hitam,hitam yang dalam, hitam yang tidak bisa dihasilkan oleh pewarna rambut manapun. Potongannya selalu rapi, selalu dipangkas oleh tukang cukur profesional yang datang ke rumah setiap dua minggu sekali. Wajahnya... ah, untuk apa Rusmana mencoba mendeskripsikan wajah Rafael? Kata-kata akan selalu gagal. Orang-orang di kota ini sudah mencoba "putra mahkota Indika", "pewaris tampan", "pangeran" dan semua julukan itu jatuh seperti air di atas daun talas. Tidak pernah menempel. Tidak pernah cukup.
Yang paling menakutkan dari Rafael bukanlah ketampanannya. Tapi caranya membawa diri. Caranya berjalan seolah lantai marmer itu tidak layak untuk kakinya. Caranya menatap atau tepatnya, tidak menatap seolah orang-orang di sekitarnya adalah bayangan, adalah noda di kaca jendela, adalah sesuatu yang ada tapi tidak perlu diakui keberadaannya.
Delapan belas tahun, pikir Rusmana. Umurnya delapan belas tahun, tapi ia sudah bisa membuat orang merasa tidak ada tanpa berkata apa-apa.
Rafael menarik kursi. Duduk. Meraih remote AC tanpa melihat jari-jarinya sudah hafal letak tombolnya. Suhu ruangan yang sudah dingin menjadi lebih dingin. Rusmana melihat bulu-bulu halus di lengannya sendiri mulai berdiri tapi ia tidak yakin apakah itu karena AC, atau karena sesuatu yang lain.