Hari adikku lahir adalah hari ketika sesuatu di keluargaku hilang. Sejak saat itu, aku selalu merasa ada sesuatu yang diambil dariku.
Aku memang masih delapan tahun waktu itu, tapi aku ingat setiap momen.
Sore itu rumah kami dipenuhi tawa. Papan ular tangga terbentang di lantai ruang tamu, di antara bantal sofa dan karpet biru yang mulai kusam di ujung-ujungnya. Aku duduk bersila di satu sisi, mengguncang dadu di dalam genggaman seolah itu benda paling berharga di dunia.
“Giliran Elias!” seruku penuh semangat.
Di seberangku, ibu tertawa kecil. Perutnya yang bulat tertutup gaun rumah berwarna kuning lembut. Ia bersandar sedikit ke sofa, satu tangan menyangga punggungnya.
“Ayo, lempar yang bagus,” katanya, pura-pura serius.
Aku melemparnya tinggi-tinggi. Dadu kecil itu memantul di papan permainan sebelum berhenti.
“Enam!” Aku melompat kegirangan. “Aku bisa naik tangga!”
Pion merahku meluncur naik melalui tangga panjang yang hampir mencapai kotak akhir. Aku menepuk lantai dengan gembira.
“Ibu lihat? Aku hampir menang!”
“Iya, iya,” Ibu tersenyum hangat. “Tapi jangan terlalu yakin dulu. Giliran Ibu sekarang.”
Ia meraih dadu dengan gerakan yang lebih pelan. Belum sempat melemparnya, wajahnya tiba-tiba berubah sedikit pucat. Tangannya berhenti di udara.
“Ibu?” tanyaku.
Ia menutup mulutnya cepat-cepat.
“Sebentar…”
Ibu berdiri tergesa-gesa dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Langkahnya hampir seperti berlari.
Aku menatap papan ular tangga itu sebentar, lalu ke arah lorong. Tawa tadi terasa tiba-tiba hilang.
“Ibu?” panggilku lagi.
Dari dalam kamar mandi terdengar suara muntah.
Aku berdiri dan berjalan mendekat ke pintu, ragu-ragu. Pintu kamar mandi tidak tertutup rapat.
“Ibu…?” suaraku lebih pelan sekarang.
Beberapa detik kemudian, ibu keluar sambil mengelap mulutnya. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi ia tersenyum begitu melihatku berdiri di depan pintu.
Aku menatapnya dengan khawatir. “Ibu sakit?”
Ia tertawa kecil, lalu mengusap rambutku. “Nggak, sayang. Ibu nggak sakit.”
“Tapi ibu muntah…”
“Itu cuma mual.” Ia menarik napas pelan. “Orang hamil sering begitu.”
Aku menatap perutnya yang besar, seolah baru benar-benar menyadarinya lagi.
“Karena bayi?”
Ibu mengangguk. “Karena bayi.”
Aku berpikir sebentar, lalu berkata dengan nada serius seperti orang dewasa kecil.
“Kalau begitu kita cepat selesaikan permainannya sebelum bayi itu bikin ibu muntah lagi.”
Ibu tertawa, tapi kali ini tawanya lebih pelan. Ia menoleh ke arah ruang tamu, ke papan permainan yang masih terbentang di lantai.
“Bukan bayi itu, El,” sanggah Ibu, “tapi, adikku. Dan Ibu capek sekarang.”
“Sebentar saja?” pintaku. “Aku hampir menang.”
Ibu menepuk bahuku lembut. “Kita lanjutkan lain kali, ya.”
Aku mendengus, tapi tidak benar-benar marah. Ia lalu menunjuk ke arah ruang tamu.
“Tolong bereskan mainannya dulu.”
“Kenapa?”
“Karena ayahmu sebentar lagi pulang.” Ia mulai berjalan ke arah kamar dengan langkah lambat. “Dan ibu mau istirahat sebentar.”
Aku berdiri di lorong, melihatnya pergi. Lalu aku kembali ke ruang tamu.
Pion merahku masih berdiri di tangga panjang yang hampir mencapai kotak terakhir. Aku mengambilnya pelan, memasukkannya ke dalam kotak permainan bersama dadu dan pion lainnya.
Beberapa hari setelahnya, semuanya mulai terasa berbeda. Awalnya cuma sedikit.
Perut ibu semakin besar. Bukan besar seperti balon yang menyenangkan, tapi besar seperti sesuatu yang membuatnya sulit bergerak. Kadang ibu berjalan pelan sekali, satu tangan memegang punggungnya, seolah dia akan roboh kapan saja. Kakinya juga mulai bengkak.
Suatu sore aku duduk di lantai sambil menggambar mobil balap, ketika ibu mengangkat kakinya ke sofa dan mengeluh pelan.
“Aduh…”
Aku menoleh. “Kaki Ibu bengkak lagi.”
Ibu tertawa kecil. “Adikmu cukup berat. Dia sangat kuat, persis kayak kamu.”
Aku tidak tertawa. Aku hanya kembali menggambar, tapi garis mobilku jadi jelek.
Ayah juga lebih sering pulang membawa kotak kecil dari toko buah di ujung jalan. Dulu strawberry itu milikku. Jenis tristar adalah kesukaanku. Ayah biasa pulang membawa satu kotak, lalu aku duduk di meja makan dan menghabiskannya sendiri. Kadang Ibu mengambil satu, tapi hanya satu. Sisanya selalu untukku.
Tapi sekarang ayah berkata, “Ini buat calon adikmu.”
Aku berdiri di dekat meja makan dan melihat ibu memakan strawberry itu satu per satu.
“Aku boleh ambil satu?” tanyaku.
Ayah langsung berkata, “Jangan banyak-banyak, Elias. Adikmu yang butuh.”
Ibu hanya tersenyum, dia memberiku beberapa. Namun, aku tak berjingkrak waktu itu. Rasanya tetap manis. Tapi aku tidak merasa senang memakannya.
Ibu juga lebih sering muntah. Kadang pagi. Kadang siang. Kadang malam. Dan setiap kali aku meminta ditemani bermain, Ayah akan berkata, “Elias, jangan ganggu ibu.”
Aku cuma berdiri di situ. Padahal aku tidak merasa mengganggu. Aku cuma ingin seperti dulu. Namun, keadaan terus berubah. Seperti Ibu yang selalu menjemputku pulang sekolah, kini tak lagi bisa.
Ibu menyuruh adiknya untuk menggantikannya menjemputku. Kebetulan rumahnya satu arah dengan sekolahku. Om Hadi membuka toko kelontong di halaman sempitnya. Dan toko itu selalu ramai. Dia juga sering memberiku permen atau membiarkanku mengambil snack yang kusuka.
Aku suka Om Hadi, tapi kehadirannya yang mulai intens membuaku sedikit… muak.
Om Hadi biasanya menjemputku dengan motornya yang berisik. Helmnya terlalu besar untuk kepalaku dan selalu bau minyak. Aku tidak suka duduk di belakang motornya. Aku lebih suka berjalan pulang bersama ibu.
Suatu hari, Om Hadi tidak datang. Aku menunggu di depan gerbang sekolah. Anak-anak lain pulang satu per satu. Gerbang mulai sepi.
Pak satpam menatapku. “Kamu belum dijemput?”
“Sebentar lagi,” kataku.
Tapi paman tidak datang. Akhirnya aku berjalan pulang sendiri. Tas sekolahku terasa berat sekali. Jalan pulang terasa lebih jauh dari biasanya. Aku menendang batu kecil di jalan karena kesal.
Ketika sampai di rumah, pintu tidak terkunci. Aku masuk sambil terengah.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
“Ibu?”
Aku berjalan ke ruang keluarga.
Ibu duduk di sofa. Wajahnya pucat. Tangannya memegang perutnya yang besar. Napasnya agak berat. Di sekelilingnya ada banyak sekali barang-barang keperluan bayi. Bahkan aku melihat tempat tidur bayi yang ayah bicarakan kemarin dengan antusias. Padahal aku juga ingin ranjang baru, karena yang sekarang sudah berdecit.
“Ibu?”
Ia menoleh pelan. “Oh… Elias sudah pulang? Mana Ommu?”
“Aku lihat dia sibuk di tokonya waktu aku jalan tadi,” jawabku dingin.
Ibu terdiam. “Dia nggak jemput kamu?”
Aku menatapnya lama. “Kenapa Ibu kelihatan aneh?”
“Tidak apa-apa,” katanya cepat. “Cuma… perutnya agak sakit sedikit. Kontraksi kecil.”
Aku tidak tahu apa itu kontraksi. Aku cuma tahu Ibu terlihat seperti orang yang sedang kesakitan. Dan tiba-tiba semuanya terasa sangat tidak adil.
Aku melepaskan tas sekolahku. Menjatuhkannya ke lantai dengan keras.
“Kenapa semua orang sibuk sama bayi itu?!” Suaraku keras sekali.