Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #2

Tumbuh dalam Kebencian

Ruang keluarga terasa terlalu sepi sekarang.

TV menyala seperti biasa. Kartun favoritku sedang tayang, tokoh kecil berlari dikejar monster warna ungu. Biasanya aku akan tertawa sampai jatuh dari sofa. Tapi sekarang aku cuma duduk di lantai. Piring ada di pangkuanku. Di atasnya ada telur dadar yang agak hitam. Aku menusuknya dengan garpu, lalu menggigit sedikit.

Rasanya… pahit.

Dari arah luar terdengar langkah kaki. Mas Roy muncul dengan membawa sesuatu yang dilipat di tangannya—kain panjang hijau dengan tanda plus di tengah. Aku tahu itu apa.

Bendera duka.

Dia melipatnya pelan sekali. Lalu menaruhnya di salah satu rak bifet.

Rumah ini memang sudah sepi sejak beberapa hari terakhir. Tidak ada lagi orang yang datang. Tidak ada lagi suara doa. Tidak ada lagi tetangga yang duduk di kursi plastik di teras.

Aku menusuk telur lagi. “Ini gosong,” ulangku.

Mas Roy menoleh ke piringku. Lalu dia menggaruk belakang kepalanya.

“Iya… tadi apinya kebesaran.”

“Masakan ibu nggak pernah gosong.”

Aku langsung menyesal mengatakan itu.

Mas Roy berhenti bergerak. Wajahnya berubah sedikit. Tapi dia tetap mendekat dan duduk di sofa.

“Maaf ya,” katanya pelan.

Dia menunduk sebentar, lalu merogoh ranselnya yang bersebelahan dengan seragam putih abu-abu yang ia kenakan saat datang tadi. Dari sana dia mengeluarkan beberapa bungkus snack kecil.

Dia menaruhnya di meja di depanku. “Ini dari warung,” katanya. “Barang baru.”

Aku melihat bungkusnya. Merah. Bergambar strawberry.

Mas Roy tersenyum sedikit. “Rasa strawberry semua. Biasanya kamu kan paling dulu nyobain kalau ada yang baru.”

Dadaku terasa aneh. Aku mendorong bungkus snack itu sedikit menjauh.

“Aku nggak mau.”

Mas Roy mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Aku nggak suka.”

Dia terlihat lebih bingung lagi. “Kamu kan suka banget strawberry.”

Aku menatap piringku. “Aku nggak suka lagi.”

Suara TV masih berisik. Tokoh kartunnya sekarang sedang menari-nari. Tapi rasanya seperti suara dari tempat yang jauh sekali.

Mas Roy mengambil salah satu snack itu, memutarnya di tangannya.

“Aku tahu kamu sedih, El. Tapi kamu nggak harus menolak semua hal… Ayahmu bakal khawatir nanti.”

Aku hanya mengangkat bahu.

Mas Roy menghela napas kecil. Dia tidak bertanya lagi.

Lalu dari luar rumah terdengar suara mobil berhenti di depan pagar. Kami berdua menoleh bersamaan.

Mas Roy langsung berdiri. “Kayaknya mereka pulang.”

Aku tidak membalas. Tapi aku ikut bangkit juga.

Kami berjalan ke pintu depan.

Udara sore terasa agak dingin. Di halaman ada mobil ayah. Bagasi terbuka. Ayah dan Om Hadi sedang mengeluarkan beberapa tas dan kotak. Lalu pintu mobil sebelah kiri terbuka. Istri Om Hadi, Tante Lilis keluar.

Dia menggendong sesuatu, dibungkus kain. Wajahnya tertutup selendang tipis.

“Nak, bantu bapakmu sama Om Liam,” cetus Tande Lilis ke Mas Roy.

Mas Roy langsung turun dari teras. “Sini aku bantu, Om!”

Dia ikut mengangkat barang dari bagasi bersama ayah. Sementara aku tetap berdiri di dekat pintu.

Tante Lilis melihatku. Wajahnya langsung tersenyum lebar. “Oh, Elias.” Dia berjalan mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati.

Aku tidak bergerak.

Dia berhenti tepat di depanku. Lalu dia membuka selendang yang menutupi gendongannya.

“Ayo lihat,” katanya lembut sambil membungkuk sedikit supaya aku bisa melihat.

Bayi itu kecil sekali. Wajahnya merah. Matanya tertutup. Bibirnya bergerak-gerak seperti ikan kecil. Tangannya mengepal.

Aku menatapnya lama. Dadaku terasa sesak.

“Ini adikmu,” kata Tante Lilis dengan suara hangat. “Akhirnya dia pulang ke rumah.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku cuma melihat bayi itu. Dia kelihatan… lemah. Tapi semua orang terlihat begitu senang melihatnya.

“Namanya sudah diputuskan,” lanjut Tante Lilis.

Aku menelan ludah.

“Trista Julian Vallerius. Cowok. Terdengar seperti bangsawan Eropa ya.” Tante Lilis tersenyum lebar menyebutnya.

Namun bagiku… dunia terasa berhenti sebentar. Trista. Nama itu seperti jatuh tepat di kepalaku. Itu nama yang kupilih. Itu nama yang kukatakan pada ayah.

Dadaku tiba-tiba sakit sekali.

Aku ingin marah.

Aku ingin menangis.

Aku ingin bilang kalau itu nama yang paling kubenci di dunia ini.

Tapi suaraku tidak keluar.

Bayi itu bergerak sedikit. Mulutnya menganga kecil. Mas Roy yang lewat membawa tas besar tertawa saat melihatnya.

“Lucu sekali,” kata Tante Lilis.

Aku masih menatapnya. Dan untuk pertama kalinya… aku merasa sesuatu yang aneh di dalam dadaku. Bukan seperti waktu aku marah pada anak di sekolah. Ini lebih dingin. Lebih berat. Aku tidak tahu namanya waktu itu. Tapi sekarang aku tahu.

Itu… kebencian.

Aku menoleh tanpa berkata apa-apa. Lalu berjalan kembali ke dalam.

TV masih menyala. Kartun masih berlari-lari. Aku duduk lagi di lantai. Piring telur gosong masih di sana.

Aku mengambil sendok. Lalu mulai memakannya. Gigitan besar. Cepat. Entah mengapa rasa pahit di lidah lebih ringan daripada yang sedang bergejolak dalam dada.

Dan semakin hari, perasaan ini semakin pekat.

***

Pagi sekarang selalu dimulai dengan suara yang sama. Tangisan. Keras. Kecil. Tapi seperti tidak pernah berhenti.

Aku membuka mata dengan malas. Langit di luar jendela masih agak gelap. Aku menutup telingaku dengan bantal.

Tangisan itu tetap terdengar. “AAA… AAA… AAA…”

Lihat selengkapnya