Toko Om Hadi selalu ramai menjelang sore. Rak-rak kayu tinggi dipenuhi biskuit, sabun, mi instan, dan botol sirup yang berjajar rapi. Kipas angin di langit-langit berputar pelan, mendorong udara panas bercampur bau plastik, gula, dan kopi sachet.
Aku berdiri sebentar di depan pintu sebelum masuk. Bel kecil berbunyi saat pintu kudorong.
“Eh, Elias.”
Om Hadi yang sedang menghitung uang langsung menoleh dan tersenyum lebar. “Jarang mampir sekarang.”
Aku hanya mengangkat bahu. “Sekarang Om punya bel. Canggih.”
Om Hadi tertawa. “Itu ide masmu.”
Di belakang kasir, Tante Lilis sedang merapikan kardus snack. Sambil bekerja, dia terus bicara.
“Roy, itu jangan ditaruh di situ. Nanti jatuh kalau ada orang ambil yang bawah.”
“Iya, Bu,” jawab Mas Roy dari atas bangku kecil sambil menyusun dus minuman di rak paling atas.
“Hati-hati, Roy. Jangan berdiri terlalu pinggir.”
“Tenang aja, Bu. Aku nggak jatuh.”
Tante Lilis tetap mendekat, seolah siap menahan kalau bangkunya goyah. Om Hadi hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Roy itu sudah gede.”
“Ya tetap saja,” balas Tante Lilis. “Anak sendiri.”
Mas Roy turun. Begitu kakinya menyentuh lantai, Tante Lilis langsung merapikan kerah kaosnya.
“Kamu makan siang tadi?”
“Udah.”
“Benar?”
“Iya, Bu.”
“Kalau di Jogja nanti jangan telat makan. Jangan kebanyakan begadang. Kalau sakit langsung ke klinik atau puskesmas terdekat.”
“Iya, Bu.”
Om Hadi tertawa kecil. “Lilis, anaknya kerja, bukan mau perang.”
Mas Roy ikut tertawa. “Aku bakal baik-baik saja.”
Tatapan Tante Lilis penuh khawatir, tapi juga bangga. Lalu dia menyadari aku masih di pintu.
“Oh, Elias. Masuk saja.”
Aku melangkah masuk. Dari tempatku berdiri, aku masih melihatnya merapikan lipatan baju Mas Roy lagi—gerakan kecil yang sederhana, tapi terasa hangat. Sementara keluargaku…
Hari-hari belakangan ini berjalan lebih dingin.
Pagi sering dimulai dengan suara plastik yang dibuka. Sepertinya Ayah punya lebih banyak pekerjaan, dia lebih sering beli makanan ketimbang memasak. Trista baru saja masuk SD, dia tampak selalu senang dan ceria.
Sejak malam itu aku sering melihat ayah berdiri di depan pintu kamarku. Tidak benar-benar mengetuk. Hanya berdiri beberapa detik, seolah sedang memikirkan sesuatu. Kadang tangannya sudah terangkat, tapi akhirnya turun lagi. Lalu langkahnya menjauh.
Di meja makan juga begitu. Ayah kadang mencoba membuka percakapan.
“Di sekolah gimana?”
“Atau guru gambarmu masih yang sama?”
Aku biasanya hanya menjawab pendek.
“Iya.”
“Biasa.”
Kadang bahkan hanya mengangguk. Percakapan itu selalu mati sebelum benar-benar hidup. Ayah biasanya akan menghela napas kecil, lalu kembali fokus pada piringnya.
Trista juga berubah sedikit. Dulu dia sering berlari mendekatiku tanpa ragu. Menarik bajuku, menunjukkan gambar yang dia buat di sekolah, atau sekadar duduk di dekatku sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang bahkan tidak penting. Sekarang dia masih melakukannya. Tapi tidak terlalu dekat. Seperti ada garis tak terlihat di antara kami.
Garis yang aku ciptakan, kini ia perkokoh.
Dia sering berhenti beberapa langkah dariku, lalu berbicara dari sana.
“Kak… lihat gambarku.”
Aku biasanya hanya melirik sebentar.
“Bagus.”
Kadang dia tersenyum. Kadang dia hanya mengangguk kecil dan kembali ke ruangannya.
Beberapa kali aku menangkapnya mengintip dari balik pintu kamarku. Seolah ingin masuk. Tapi tidak pernah benar-benar masuk. Aku juga tidak pernah memanggilnya.
Rumah itu tetap penuh suara. Suara sendok yang beradu dengan piring. Suara televisi yang menyala di ruang keluarga. Suara Trista yang tertawa saat menonton kartun. Suara Ayah yang sesekali berbicara di telepon soal pekerjaan. Tapi di antara semua suara itu, ada sesuatu yang terasa… kosong. Seperti ada ruang di rumah ini yang tidak pernah terisi lagi.
Dan anehnya, tidak ada yang berani membicarakannya.
Mas Roy mendekat dan menyeringai. “Lama nggak ketemu, El.”
Aku buru-buru memasang senyum. “Betah di Jogja? Sekarang makin jarang pulang kutengok.”
Dia meraih bungkus rokok, dan langsung membukanya. “Mari ngobrol di depan.”
Aku pun mengikuti langkahnya.