Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #5

Kegilaan Pertama

Pagi itu aku berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam SMA yang masih terasa agak kaku. Entah kenapa setiap kali melihat seragam ini aku selalu merasa aneh. Seperti hidup tiba-tiba melompat lebih cepat dari yang kuinginkan.

Aku menyambar tas dari kursi, lalu keluar kamar.

Dari dapur terdengar suara sedotan diseruput. Aku melangkah ke sana.

Trista sudah duduk di kursi meja makan dengan seragam kemeja putih dan celana pendek merahnya. Rambutnya disisir rapi, agak miring seperti biasa. Di depannya ada segelas susu cokelat yang hampir habis, dan sebuah buku gambar terbuka. Dia menggambar sambil menyeruput susu, seolah dunia tidak punya masalah apa pun.

Aku melirik meja makan. Sarapan sudah ada di sana. Beberapa kotak makanan plastik terbuka. Nasi bungkus, tempe goreng, telur balado.

Di sudut meja ada bekas bungkus plastik yang diremas. Pasti beli lagi. Akhir-akhir ini ayah jarang masak.

Mataku lalu berhenti di buku gambar Trista. Di sana ada gambar keluarga. Dua orang dewasa dan dua anak. Digambar dengan krayon warna-warni. Kepala bulat, tangan seperti garis, mata cuma dua titik. Khas gambar anak SD.

Aku menatapnya sebentar.

“Di mana Ayah?” tanyaku.

Trista tidak berhenti menggambar. “Sudah berangkat,” jawabnya santai.

Aku mengernyit. “Pagi banget?”

“Iya.” Dia masih sibuk menambah warna di salah satu gambar.

Aku menghela napas kecil. “Terus kamu berangkat gimana?”

Trista akhirnya menoleh. Tanpa banyak bicara dia merogoh saku rok seragamnya, lalu mengulurkan sesuatu ke arahku. Sebuah kunci dengan gantungan berbentuk stroberi merah kecil.

Aku langsung mengenalnya. Kunci motorku.

“Ayah bilang aku bareng Kak El,” katanya.

Aku menatap kunci itu, lalu kembali menatapnya. “Sekolah kita berlawanan arah.”

Trista cuma mengangkat bahu kecil. Seolah itu bukan masalah besar.

Aku mendesah. Kadang aku tidak tahu dia ini benar-benar santai atau cuma tidak mikir.

Akhirnya aku mengambil kunci itu dari tangannya. “Kalau gitu cepat siap-siap.”

Belum selesai kalimatku, Trista langsung menenggak sisa susu di gelasnya.

Slurp.

Habis.

Aku menggeleng pelan. Mataku kembali ke buku gambarnya di meja. Aku menatap gambar keluarga itu lagi. Entah kenapa aku ingin bertanya. Siapa yang dia gambar. Kenapa ada empat orang. Tapi bahkan untuk sekadar membuka mulut rasanya… berat.

Akhirnya yang keluar malah hal lain. “Gambarmu jelek banget.”

Trista tidak tersinggung. Dia malah tersenyum kecil. Lalu menunjuk gambar itu satu per satu dengan krayonnya.

“Ini Papa.”

Tunjuk.

“Ini Kak Elias.”

Tunjuk lagi.

“Ini Trista.”

Lalu jarinya berhenti di satu gambar perempuan.

“Ini Ibu.”

Dadaku seperti dipukul sesuatu.

“Buat tugas Hari Ibu,” lanjutnya ringan. “Tapi aku kan nggak punya ibu. Jadi aku gambar saja.” Dia menatap gambar itu sebentar. “Keluarga yang utuh.”

Aku tidak langsung bicara. Ada sesuatu yang terasa menggerogoti di dalam dada. Campuran aneh antara sakit… dan rindu.

Trista lalu menoleh padaku. “Kak…”

Aku tidak menatapnya.

“Gimana sih Ibu orangnya?”

Pertanyaan itu jatuh begitu saja di antara kami. Dan rasanya seperti batu besar.

Aku menatap lantai. Bayangan wajah Ibu muncul begitu saja di kepalaku. Senyumnya. Matanya. Suara tawanya. Dadaku terasa sesak.

Aku menarik napas pendek. “Cepat siap-siap,” kataku akhirnya. “Atau kutinggal.”

Trista langsung bangkit dari kursinya. “Iya!”

Dia buru-buru menutup buku gambarnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Sambil melakukan itu dia bergumam kecil. “Memang jelek sih gambarku… nggak sebagus punya Kak Elias.”

Aku sudah berjalan ke arah pintu.

“Kak,” panggilnya lagi.

Aku tidak menoleh.

“Boleh lihat lukisan Ibu yang Kakak buat di kamar?”

Langkahku berhenti sepersekian detik. Tapi aku tidak menjawab. Aku hanya membuka pintu dan berjalan ke garasi. Di belakangku terdengar langkah kecil Trista berlari mengekor.

Aku langsung memasukkan kunci motor. Begitu keluar, Trista langsung naik.

Sepanjang perjalanan dia tak banyak bicara. Hanya berdendang samar.

Begitu jusa saat sampai di gerbang sekolahnya. Ketika anak-anak lain diantar oleh ayah atau ibu mereka, Trista seperti tak peduli. Dia hanya mengangguk padaku, berkata, “Hati-hati di Jalan.” Dan pergi masuk dengan santainya.

Setiap menatapnya, aku selalu teringat wajah Ibu yang pucat. Matanya yang terpejam. Dan bibirnya yang tak lagi merah. Namun, aku juga merasa takut. Entah takuit yang bagaimana.

Anak itu sangat membuatku tak nyaman.

***

Aku tiba di sekolah lebih telat dari biasanya.

Aku langsung masuk kelas, tanpa lihat kanan kiri, tanpa nyapa siapa pun. Kursiku di dekat jendela masih kosong. Aku duduk, naruh tas, lalu mengeluarkan buku dan pensil.

Suara kelas ramai. Ketawa, obrolan, kursi digeser. Aku tidak peduli. Mataku lurus ke depan, tapi sebenarnya kosong. Tanganku mulai menggambar garis-garis kecil di sudut buku. Bukan apa-apa. Cuma biar ada yang kulakukan.

Di luar jendela, beberapa anak masih di lapangan. Tertawa. Lempar-lempar bola. Hidup mereka kelihatan ringan. Di dalam sini… beda.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka keras.

BRAK.

Suara itu cukup bikin semua orang diam.

Sekelompok anak masuk. Seragam mereka berantakan. Kancing atas terbuka, dasi longgar, beberapa bahkan tidak pakai atribut lengkap. Di tengah mereka, Eko. Aku tahu namanya tanpa perlu lihat lama. Orang seperti dia selalu gampang dikenali.

Dia menyeret seseorang. Seorang anak laki-laki. Tubuhnya lebih kecil. Wajahnya pucat. Kerah bajunya dicengkeram dari belakang. Dia Kenta, kacung mereka. Anak itu hampir tersandung saat diseret masuk.

“Hei, ketua kelas!” Suara Eko keras, nyaris seperti teriak.

Semua orang langsung menoleh. Hening. Tidak ada yang berani komentar.

Lihat selengkapnya