Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #6

Luapan Amarah

Pagi itu aku datang lebih cepat dari biasanya. Jam tangan sudah melingkar di pergelangan tangan kiri. Bukan karena ingin lihat waktu. Tapi karena… harus. Langkahku tetap santai, tapi jari-jariku sesekali merapikan posisi jam itu. Sedikit digeser. Diputar. Ditekan lebih rapat ke kulit.

Pastikan nutup sempurna. Jangan kelihatan.

Halaman sekolah mulai ramai. Suara obrolan, tawa, langkah kaki. Semua bercampur jadi satu. Aku jalan lurus, nggak lihat kanan kiri. Sampai…

BRUK.

Seseorang menyenggol bahuku cukup keras. Tubuhku sedikit oleng ke depan. Refleks aku menahan langkah, tapi kakiku tetap mendarat… tepat di sesuatu yang empuk.

Krek.

Aku menunduk. Kuangkat kakiku.

Roti.

Sudah penyet.

“Eh—!” Suara panik langsung terdengar.

Aku mendongak. Anak itu juga sedang menatap ke bawah, ke rotinya yang sekarang bentuknya sudah nggak jelas. Tangannya gemetar sedikit.

“Duh… duh…” gumamnya cepat, nyaris berbisik. “A-ku… aku bisa mati…” Dia langsung menelan ludah, wajahnya pucat. “Eko pasti—”

Kalimatnya terhenti saat dia akhirnya menatapku. Kami saling diam beberapa detik. Ternyata Kenta. Tatapannya berubah begitu menyadari itu aku. Campuran takut… sama ragu, juga sesuatu yang tidak bisa kuartikan.

Aku diam. Kenta yang akhirnya bergerak duluan. Cepat-cepat dia jongkok, mengambil roti itu—yang jelas sudah nggak layak dimakan—lalu berdiri lagi. Tangannya masih gemetar. Kemudian kembali lari dengan cepat. Seolah kalau dia terlambat sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk bakal terjadi.

Kacung Eko itu sungguh pecundang sejati.

Saat sampai di depan perpustakaan, langkahku melambat sedikit. Bukan karena mau berhenti. Tapi karena seseorang berdiri tepat di jalurku. Nala. Dia membawa tumpukan buku paket matematika. Banyak. Hampir menutupi sebagian wajahnya. Tapi matanya masih terlihat. Dan sekarang… menatapku.

Aku berhenti seper-sekian detik. Dia juga.

Hening.

Lalu aku jalan lagi, melewatinya begitu saja.

“Elias.” Suaranya menyusul dari samping.

Langkahku tetap sama. Tidak melambat.

Dia menyamai langkahku. “Aku mau ngomong sebentar.”

Aku diam.

“Banyak anak kelas yang komplain,” lanjutnya. “Kamu nggak pernah piket.”

Aku masih diam. Tatapan lurus ke depan.

“Minimal bantu dikit. Geser bangku, atau apa. Nggak susah, kan?”

Nada suaranya tidak marah. Tapi jelas serius. Aku tetap tidak menjawab. Bahkan tidak menoleh. Seolah dia cuma suara latar.

Nala menghela napas pelan. Mungkin kesal. Mungkin capek. Baru saja dia mau bicara lagi…

“Nala!” Suara seorang guru terdengar dari belakang.

Kami berdua menoleh.

Guru matematika berdiri di ujung lorong, melambaikan tangan. “Tolong ke sini sebentar!”

“Iya, Bu!” jawab Nala cepat.

Dia langsung berhenti jalan, lalu dengan cepat menyodorkan tumpukan buku di tangannya ke arahku.

“Tolong bawa ini ke kelas dulu ya,” katanya.

Tanpa nunggu jawabanku, dia sudah berbalik dan berjalan cepat ke arah guru itu.

Aku mendesah panjang. “Sial…” Dengan terpaksa kau kembali berjalan, membawa buku-buku itu.

Aku melewati lorong menuju kelas. Langkahku santai. Sampai sebuah suara dari arah lorong toilet muncul dengan keras.

“Dasar Anjing!”

Aku melirik sedikit. Kulihat Kenta tersungkur di lantai. Tangannya menahan badan, napasnya kacau. Di depannya berdiri Eko dan dua temannya.

Roti yang tadi kuinjak … sudah hancur di lantai. Benar-benar tercabik-cabik.

“Gini doang tugas nggak becus, goblok,” kata Eko sambil menendang Kenta.

BUK.

Tubuh Kenta terdorong ke samping. Dia meringkuk. Tidak melawan. Tidak juga membalas. Cuma diam. Seperti biasa.

Seperti seorang pecundang bodoh.

Saat itulah matanya sempat terangkat. Dan… melihatku. Sekilas. Tatapan itu cepat, tapi cukup.

Aku tahu dia sadar aku di sana. Aku menghampirinya? Tidak. Aku hanya menatap sebentar. Lalu mengalihkan pandangan. Dan… lanjut jalan.

Langkahku tetap sama. Tidak lebih cepat. Tidak lebih lambat. Seolah suara itu tidak ada. Seolah apa yang kulihat… bukan urusanku.

Persetan dengan mereka.

***

Pelajaran matematika selalu terasa lebih lama dari seharusnya.

Aku duduk di bangku dekat jendela. Buku terbuka, tapi mataku tidak benar-benar membaca. Pensil di tanganku bergerak pelan, bikin garis-garis nggak jelas di sudut kertas.

Di depan kelas, Bu Guru berdiri sambil membawa setumpuk kertas.

Lihat selengkapnya