Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #7

Siapa Penjahatnya

Ruang BK terasa… pengap. Bukan karena panas. AC-nya nyala. Dingin, malah. Tapi tetap saja sesak.

Aku duduk di kursi plastik di depan meja. Punggung tegak. Tangan di paha. Nggak gerak. Bau obat merah samar masih nempel di kulitku. Hidung kiriku disumbat tisu. Kadang masih terasa hangat di dalam sana.

Darah.

Di seberangku, Pak Aman berdiri sambil menyilangkan tangan. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Bu Patmi duduk di kursi sebelahnya. Lebih tenang. Tapi matanya… tajam. Menilai.

“Mari kita mulai dari yang sederhana, Elias,” kata Bu Patmi pelan. Suaranya lembut, tapi jelas. “Apa yang sebenarnya terjadi di kelas tadi?”

Aku tidak menjawab. Pandangan tetap lurus ke permukaan meja.

Pak Aman menghela napas keras. “Kami sudah dengar dari banyak siswa. Kamu menyerang lebih dulu setelah situasi mereda.”

Aku tetap diam.

“Bahkan setelah Eko menjauh,” lanjutnya, suaranya mulai naik. “Kamu kembali menyerang. Berkali-kali.”

Aku berkedip pelan. Tidak mendongak, menyiyakan ataupun menyangkal. Hanya… ada.

“Ini bukan perkelahian biasa,” kata Pak Aman lagi. “Ini sudah masuk tindakan kekerasan serius.”

Bu Patmi menyela, lebih pelan, tapi justru terasa lebih menekan. “Elias, kamu sadar tidak… tindakanmu itu bisa berakibat fatal?”

Aku masih diam.

“Pulpen,” lanjut Bu Patmi, “itu yang kamu gunakan untuk menyerang, menancapkannya di pundak. Kalau saja meleset sedikit saja…” dia berhenti sebentar, menatapku lebih dalam, “itu bisa mengenai bagian vital. Tenggorokan, misalnya.”

Pak Aman langsung menyambung, suaranya tegas. “Dan itu bisa jadi percobaan pembunuhan.”

Hening.

Kata itu menggantung. Pembunuhan.

Aku masih menatap meja di depanku. Ada goresan kecil di permukaannya. Bekas entah apa. Aku mengikuti garis itu dengan mata. Pelan. Seperti lebih menarik daripada pembicaraan ini.

“Kamu dengar kami, Elias?” tanya Pak Aman.

Aku tidak menjawab.

“Apa kamu menyesal?”

Diam.

“Kenapa kamu melakukan itu?”

Tetap diam.

Aku nggak tahu harus jawab apa. Atau… mungkin aku tahu. Tapi rasanya… nggak penting.

Bu Patmi menghela napas panjang. Dia sedikit memiringkan kepala, mencoba menangkap mataku.

“Elias,” katanya lebih lembut. “Kami tidak di sini untuk menghukummu tanpa alasan. Kami ingin memahami.”

Memahami. Kata yang aneh. Aku bahkan nggak yakin aku sendiri paham.

Menagapa aku sebegitu marahnya?

“Apa kamu marah?” lanjutnya. “Takut? Tertekan?”

Aku berkedip. Pertanyaan itu… lewat begitu saja. Seperti angin.

Pak Aman mulai tidak bisa duduk tenang. Ia bangkit dan berjalan mondar-mandir. Jelas gelisah. “Ini tidak bisa didiamkan. Dua siswa sekarang di rumah sakit.”

Aku sedikit mengangkat pandangan. Entah kenapa… tidak terasa apa-apa. Penyesalan ataupun rasa puas.

“Orang tua mereka bisa menuntut,” lanjutnya. “Sekolah juga bisa mengambil tindakan tegas.”

Masih tidak ada reaksi dari tubuhku. Tanganku tetap diam di paha dan napasku normal. Seolah semua ini… bukan tentang aku.

Bu Patmi kembali bicara. Kali ini lebih pelan. Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Kamu tidak terlihat takut.”

Aku tidak menanggapi. Karena memang… entahlah. Apa aku harusnya takut? Yang ada cuma… berat. Kosong tapi berat.

Pak Aman berhenti berjalan. Menatapku lama. Frustrasi jelas di wajahnya.

“Kalau kamu terus diam seperti ini, kamu memperburuk keadaanmu sendiri.”

Aku tahu. Mungkin. Tapi tetap saja… tidak ada yang keluar.

Bu Patmi akhirnya bersandar di kursinya. Menghela napas pelan.

Beberapa detik hening.

Lalu dia bicara lagi. “Kami tidak bisa melanjutkan ini kalau kamu tidak mau bekerja sama, Elias.”

“Baiklah,” kata Pak Aman akhirnya, nadanya tegas, seperti memutuskan sesuatu. “Kalau begitu, besok kamu datang ke sini lagi.”

Aku tidak bergerak.

“Kami akan panggil orang tuamu. Karena mungkin orang tua anak di rumah sakit itu juga akan protes. Aku yakin dia akan datang membawa polisi.”

“Saya tahu kamu tidak mau melibatkan orang tuamu sebisa mungkin, kebanyakan anak begitu” lanjut Bu Patmi. “Tapi ingatlah, perbuatanmu ini bisa menyeretmu ke meja hijau. Dan karena itulah kamu butuh pendampingmu, walimu.”

“Pulanglah,” ucap Pak Aman pasrah. “Besok akan jauh lebih melelahkan lagi.”

Aku berdiri. Pelan. Kursi bergeser sedikit. Akhirnya aku berbalik dan pergi tanpa berkata apa pun.

***

Perjalanan pulang terasa… panjang. Padahal jalan yang kulewati sama seperti biasa.

Motor melaju pelan. Angin sore menerpa wajahku yang masih terasa nyeri. Setiap getaran kecil dari jalan seperti naik sampai ke tulang. Tapi aku tidak memperlambat. Tidak juga mempercepat. Biasa saja.

Lampu merah. Aku berhenti.

Orang-orang di sekitarku bergerak seperti biasa. Ada yang ngobrol, ada yang ketawa, ada yang sibuk dengan ponsel. Hidup mereka… jalan terus.

Aku menatap lurus ke depan. Kosong.

Lampu berubah hijau. Aku jalan lagi. Dan entah sejak kapan, aku sudah sampai di depan rumah.

Aku nggak langsung masuk. Beberapa detik duduk di atas motor. Diam. Lalu akhirnya turun.

Pintu rumah kubuka. Sunyi langsung menyambut. Tidak ada suara TV. Tidak ada suara langkah kaki kecil Trista. Tidak ada apa-apa.

Setelah itu aku masuk ke kamar. Tas kujatuhkan, dan duduk di dekat jendela. Satu kaki kuangkat ke atas kursi. Punggung bersandar.

Tanganku merogoh saku, meraih sebatang rokok dan korek.

Cekrek.

Aku menyulut ujung rokok itu. Tarikan pertama terasa kasar di tenggorokan. Rasa tembakau yang terbakar itu menyengat, meninggalkan jejak pahit dan getir yang sebenarnya mencekik di pangkal kerongkongan. Namun, dalam setiap isapan yang kasar dan tidak nyaman itu, bising di kepalaku seolah melambat, memaksa napas yang semula memburu untuk tunduk pada irama asap yang tenang. Pahit di lidah menjadi satu-satunya jangkar yang nyata, mengubah sesak emosional menjadi abu yang luruh, memberikan jeda dingin di tengah hantaman stres yang membakar. Asapnya keluar perlahan dari mulutku.

Aku menatap keluar jendela. Langit mulai berubah warna ke oranye pudar. Samar. Seperti… sesuatu yang hampir habis.

Mataku tidak benar-benar melihat. Hanya… menatap. Kadang pandanganku bergeser ke pojok ruangan. Lukisan itu masih ada di sana. Wajah Ibu. Belum selesai. Atau… mungkin nggak bakal pernah selesai.

Aku menatapnya lama. Ada bagian yang masih utuh. Ada yang sudah tertutup hitam. Berantakan. Seperti kepalaku.

Aku menarik napas lagi. Udara sesak oleh asap dan hening begitu bera, seperti ada sesuatu di dada… tapi tidak bisa keluar.

Aku mengusap wajahku pelan. Perih. Lebam. Semua terasa… nyata. Tapi yang di dalam… lebih kacau.

Aku menyandarkan kepala ke dinding. Menutup mata sebentar. Dan untuk sesaat bayangan itu muncul lagi. Ibu. Senyumnya. Suaranya. Lalu… hilang. Seperti selalu.

Lihat selengkapnya