Aku menunduk menatap permukaan meja. Suara kepala sekolah yang mengatakan bahwa aku dikeluarga dari sekolah menggema dalam kepala.
Lalu pintu di belakangku terbuka pelan. Bunyi engselnya kecil, tapi cukup untuk membuat semua orang menoleh.
Aku ikut menoleh. Itu Nala dan Kenta. Mereka berdiri di ambang pintu. Canggung. Kaku. Seperti salah masuk ruangan. Nala menggenggam ujung lengan bajunya sendiri. Kenta di sampingnya menunduk, bahunya sedikit gemetar.
Beberapa detik… tidak ada yang bicara.
“Ini ruang rapat,” suara Pak Aman langsung memotong, tajam. “Kalian tidak ada kepentingan di sini. Keluar.”
Nala dan Kenta tidak bergerak. Mereka saling melirik. Seolah… menunggu siapa yang lebih dulu berani.
Aku mengernyit sedikit. Bingung.
“Keluar,” ulang Pak Aman, kali ini lebih tegas.
“Pak…” suara Nala kecil. Hampir tidak terdengar.
Bu Patmi langsung menoleh padanya. “Ada keperluan apa, Nala?”
Nala menelan ludah. Aku bisa lihat dari jauh tenggorokannya bergerak.
“Kami…” dia melirik Kenta sebentar. “Kami mau… kasih kesaksian.”
Ruangan langsung hening lagi. Kepala sekolah mengangkat sedikit alisnya.
Lalu perlahan mengangguk. “Silakan. Maju ke depan.”
Nala menarik napas dalam. Lalu melangkah masuk. Kenta ragu sebentar… tapi akhirnya ikut.
Mereka berdiri di samping meja. Tidak duduk.
“Nama?” tanya kepala sekolah tenang.
“Nala, Pak. Ketua kelas… satu kelas sama Elias.”
Aku menatapnya. Dia tidak menoleh ke arahku. Tatapannya lurus ke depan.
“Baik, Nala. Silakan.”
Nala menarik napas lagi. “Waktu itu…” suaranya sedikit gemetar di awal, tapi dia memaksakan tetap stabil, “saya lagi di kelas. Belum mulai pelajaran. Tiba-tiba Eko dan teman-temannya masuk.”
Ibu Eko langsung mendengus pelan.
Nala tetap lanjut. “Mereka langsung ke meja saya. Ngerumunin.”
Pak Aman menyela, “Langsung ke inti, Nala.”
Nala mengangguk cepat. “Eko ngajak saya karaoke, Pak. Maksa.”
“Dan?” tanya kepala sekolah.
“Saya nolak. Terus dia mulai ngomong yang… nggak pantas.” suara Nala menurun sedikit. “Dia bilang saya… wanita murahan. Bahwa saya telah tidur dengan bayak cowok di luar.”
Ruangan terasa langsung berubah.
Ibu Eko tersentak. “Itu tidak mungkin—”
“Bu, mohon tunggu,” potong kepala sekolah tenang.
Nala mengepalkan tangannya kecil. Tapi dia tetap berdiri tegak. “Dia terus ngomong begitu. Teman-temannya ketawa. Saya disuruh ikut mereka. Kalau nggak… ya dibilang macem-macem.”
Aku menatap meja. Sangat bingung. Mengapa mereka melakukan ini, padahal aku bukan teman mereka. Aku bahkan memukul Kenta kemarin.
“Lalu?” suara kepala sekolah tetap tenang.
Nala menoleh sekilas ke arahku. “Elias datang,” lanjutnya. “Dan… ya… itu mulai. Dia menyuruh Eko pergi karena ia duduk di bangkunya. Dan Eko tiba-tiba saja mencekik Elias.”
Hening. Kali ini lebih berat.
Ibu Eko tertawa kecil, sinis. “Jadi anak saya diserang karena dia cuma bercanda?”
“Bukan bercanda, Bu,” suara Nala berubah. Lebih tegas. “Itu pelecehan.”
Ruangan langsung menegang lagi.
Ibu Eko berdiri setengah. “Kamu jangan asal bicara!”
“Bu,” salah satu polisi angkat suara. “Silakan duduk.”
Ibu itu duduk lagi, tapi wajahnya merah.
Kepala sekolah menoleh ke Kenta. “Kamu?”
Kenta kaget sedikit. Seperti tidak siap ditanya.
“Na-nama saya Kenta, Pak.” Kenta menelan ludah. Lama. Aku bisa lihat tangannya gemetar. “Eko… sama temen-temennya…” suaranya kecil, nyaris putus, “mereka sering… mukulin saya, Pak. Ngambil uang saya juga. Kalau nggak dikasih… saya dipukul.”
Ibu Eko langsung berdiri lagi. “ITU BOHONG!”
“Bu!” polisi langsung menegur lebih keras.
“Itu fitnah! Anak saya tidak mungkin seperti itu!”
Kenta langsung menunduk lebih dalam. Dia membuka kancing seragam atasnya, menunjukkan lebam di bahu. Jelas itu bukan pukulanku, karena kau memukulnya di wajah.
“Ini bekas tendangan eko. Sudah tiga hari,” katanya lirih.
“Dan kau tetap diam?” lontar salah satu polisi.
“Saya pernah lapor ke BK…”
Semua mata langsung ke Pak Aman.
“Dan?” tanya kepala sekolah.
Kenta melirik Pak Aman. Ragu. Takut.
“Dibilang… saya tidak boleh memfitnah teman sendiri…”
Pak Aman langsung berdiri. “Saya tidak pernah—”
Bu Patmi cepat menahan. “Pak Aman, sebentar.”
Kepala sekolah menatap tajam ke arah Pak Aman, tapi tidak berkomentar.
Ibu Eko tertawa pendek. “Lihat? Semua ini cuma akting. Mereka bela temannya yang sudah jelas kriminal!”
“Kalau Elias sampai dikeluarkan,” suara Nala tiba-tiba memotong. Tegas. “Saya akan laporkan Eko atas pelecehan.”