Aku mematikan mesin motor dengan satu gerakan kasar. Suaranya langsung mati, menyisakan denging tipis di telingaku. Halaman rumah terasa terlalu sunyi untuk kepalaku yang masih berisik.
Belum sempat aku menarik napas, suara deru mobil mendekat dari belakang. Aku tahu itu mobil ayah.
Refleks, aku turun cepat. Langkahku lebar, terburu-buru menuju pintu. Jemariku menekan sandi dengan sedikit gemetar—angka-angka yang sudah kuhafal sejak lama. Pintu terbuka dengan bunyi klik pelan, dan aku langsung masuk tanpa menoleh.
Di belakangku, pintu mobil terbuka.
“Elias!”
Aku tidak berhenti. Langkahku tetap cepat, hampir menghentak lantai. Pintu kututup begitu saja, tapi aku tahu dia akan menyusul.
“Elias, tunggu!”
Suaranya semakin dekat.
Aku melewati sofa ruang tamu, lalu masuk ke ruang keluarga. Baru di sana aku berhenti. Napas masih berat. Di lantai, karpet ruang keluarga penuh dengan mainan. Boneka kecil, pita warna-warni, dan kostum tari Trista tergeletak sembarangan—kainnya berkilau terkena cahaya.
Aku menatap semua itu. Lalu mengalihkan pandangan.
“Kenapa kamu selalu lari?” suara Ayah muncul di belakangku, kali ini lebih keras. “Kita harus bicara.”
Aku tertawa kecil. Kering. “Bicara?” kataku tanpa menoleh. “Bukannya Ayah sudah dengar semuanya dari Bu Patmi?”
Hening sejenak.
“Ayah mau dengar dari kamu.”
Aku menutup mata sebentar. “Capek,” jawabku pendek. “Aku capek.”
“Apa pun itu, kamu nggak bisa terus kabur seperti ini dari ayah,” nada suaranya mulai berubah. Ada tekanan di sana.
Aku berbalik. Akhirnya menatapnya.
“Dan Ayah?” tanyaku pelan, tapi tajam. “Ayah nggak kabur?”
Dia mengernyit. “Apa maksud kamu?”
Mataku mulai panas. “Kenapa Ayah nggak datang?”
Kalimat itu menggantung di antara kami.
Ayah terdiam. Dan dari situ, semuanya seperti runtuh begitu saja.
“Harusnya Ayah ada di sana,” lanjutku, suaraku mulai naik. “Hari ini. Di ruang itu.”
Dia menarik napas, tampak ingin menjelaskan sesuatu. “Ayah—”
“Tapi Ayah ke sekolah Trista, kan?” potongku cepat. “Pentas seni. Iya, kan?” Aku menunjuk kostum di bawah.
Wajahnya menegang. “Trista…”
“Selalu begitu,” suaraku pecah. “Selalu TRISTA.”
Aku bisa merasakan mataku mulai perih.
“Dia butuh Ayah,” jawabnya, nadanya tertahan.
Aku tertawa lagi. Kali ini pahit.
“Dan menurut Ayah aku tidak butuh ayah?”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa rencana. Dan begitu keluar… aku tidak bisa menariknya kembali.
“Ayah tahu nggak rasanya duduk di sana sendirian?” lanjutku, suaraku bergetar. “Aku harus menghadapi kepala sekolah, ibu bajingan itu, Pak Aman, dan polisi. SENDIRIAN!” Aku menelan ludah keras. “Dan Ayah nggak ada.”
Ayah tidak langsung menjawab. Wajahnya berubah. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang tidak biasa kulihat. Tapi itu tidak cukup.
“Dari dulu juga sama,” kataku lagi, lebih pelan tapi lebih dalam. “Trista selalu dapat semuanya. Waktu Ayah. Perhatian Ayah.”
Air mataku akhirnya jatuh. Aku bahkan tidak mencoba menahannya.
“Aku apa?” tanyaku lirih. “Aku ini apa buat Ayah?”
Ruangan terasa sunyi. Hanya ada suara napasku yang tidak teratur.
Ayah melangkah sedikit mendekat. “Elias, dengar—”
Aku mundur. Satu langkah.
“Jangan,” kataku cepat.
Dia berhenti.
Aku menggeleng pelan. “Sudah cukup.”
Suaraku turun. Hampir habis.
Aku berbalik sebelum dia sempat berkata apa-apa lagi.
Langkahku menuju kamar terasa berat, tapi aku tidak berhenti. Tidak menoleh. Tidak ingin melihat wajahnya lagi.
Pintu kamar kubuka dengan cepat. Dan kututup keras di belakangku.
Sunyi.
Aku berdiri di sana beberapa detik. Lalu lututku melemah.
Aku jatuh terduduk di lantai. Tanganku menutup wajah. Dan tangis itu datang lagi. Lebih dalam. Lebih hancur. Seolah semua yang kutahan selama ini akhirnya menemukan jalannya keluar.
***
Malam terasa panjang tanpa ujung. Aku terbaring menatap langit-langit, mata terbuka lebar, tapi tak ada sedikit pun rasa kantuk. Tubuhku lelah, tapi pikiranku tidak mau berhenti.
Aku akhirnya duduk, punggung bersandar ke dinding. Pandanganku jatuh ke sudut kamar—lukisan Ibu. Biasanya ada dorongan untuk mendekat, mengambil kuas, memperbaiki sesuatu. Tapi sekarang… tidak ada apa-apa. Kosong.
Aku meraih rokok, menyalakannya, mengisap dalam. Menunggu rasa tenang itu datang.
Tidak datang.
Isapan kedua. Sama saja.