Taman bermain itu penuh warna—terlalu penuh, sampai rasanya menyilaukan. Musik diputar keras dari segala arah, bercampur dengan suara tawa, teriakan, dan deru mesin wahana yang nggak pernah benar-benar berhenti. Aku berdiri di dekat pagar pembatas, memeluk kardigan tipisku lebih erat, seolah kain itu bisa menahan semuanya supaya nggak masuk ke dalam kepalaku.
“Ayo, Kak!” Trista menarik lenganku dengan antusias, matanya berbinar kayak anak kecil yang baru nemuin dunia. “Kita naik itu!” Dia menunjuk wahana yang berputar cepat di udara.
Aku menggeleng pelan. “Kamu aja.”
Dia meringis sebentar, tapi Ayah sudah datang, menepuk kepalanya ringan. “Ya sudah, sama Ayah saja.” Dan dalam hitungan detik, Trista kembali tertawa, menggenggam tangan Ayah, menyeretnya ke antrean.
Aku cuma berdiri di situ. Melihat mereka menjauh.
Wahana itu mulai bergerak. Perlahan, lalu semakin cepat. Lampu-lampunya berkedip, suara mesin meraung, dan di antara semua itu, suara tawa Trista terdengar paling jelas. Dia tertawa lepas—tawa yang sampai membuatnya terbatuk, sampai tubuhnya terhuyung saat turun nanti, mungkin pusing, mungkin hampir muntah. Tapi dia akan tetap tertawa.
Ayah di sampingnya juga tertawa.
Aku menatap mereka dari jauh, dari tempatku yang diam. Tanganku tanpa sadar semakin mencengkeram ujung kardigan. Angin menyelinap masuk, sejuk menyentuh kulit, tapi nggak cukup buat ngusir sesak yang menggantung di dada. Semua orang di tempat ini bergerak, berlari, bersorak, hidup.
Kecuali aku.
Aku nggak benar-benar ada di sini. Tubuhku mungkin berdiri di tengah keramaian, tapi rasanya seperti tertinggal jauh di belakang—di tempat yang tidak punya suara, tidak punya warna.
Trista turun dari wahana dengan langkah sempoyongan, tertawa sambil memegangi perutnya. “Pusing!” serunya, tapi wajahnya bersinar bahagia. Ayah menahan pundaknya, khawatir tapi juga tersenyum.
Mereka tampak seperti keluarga yang utuh. Seperti yang seharusnya.
Aku mengalihkan pandangan. Aku nggak pengin lihat terlalu lama. Karena semakin lama aku melihat, semakin jelas satu hal yang tidak bisa kuingkari… aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari itu.
Mereka sangat bersenang-senang.
Aku duduk di bangku panjang yang catnya mulai terkelupas, sedikit menjauh dari keramaian. Dari sini, aku bisa melihat kios es krim dengan jelas—etalasenya penuh warna, deretan rasa yang tampak terlalu cerah untuk nyata.
Trista berdiri di depan kaca, kedua tangannya menempel, matanya berbinar. Ia menunjuk ke sana-sini tanpa ragu, suaranya terdengar bahkan dari tempatku duduk. Ayah berdiri di sampingnya, sedikit membungkuk agar sejajar, mendengarkan dengan sabar setiap pilihannya, seolah nggak ada yang lebih penting dari itu.
Aku cuma melihat.
Beberapa saat kemudian, Ayah berjalan mendekat. Di tangannya ada es krim berwarna pink.
Dia menyodorkannya ke arahku. “Strawberry. Kesukaan kamu.”
Aku menatap es krim itu cukup lama. Warna itu terlalu mencolok. Terlalu manis. Terlalu banyak kenangan kelam.
“Sudah berapa kali kubilang,” kataku pelan, datar, “aku nggak suka strawberry.”
Ayah menghela napas pendek. “Ambil saja. Nggak bisa dibalikin.”
Aku tetap diam sejenak, lalu mengambilnya dengan enggan. Dingin di tanganku terasa asing, kayak benda yang nggak seharusnya ada di sana.
“Ayah cuma mau kita senang-senang di sini,” katanya lagi, kali ini nadanya sedikit mengeras. “Tapi kamu dari tadi—”
“Aku memang nggak mau ikut,” potongku.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tegas. Tidak menyisakan ruang.
Untuk sesaat, kami saling diam. Suara taman bermain di sekitar tetap riuh, tapi di antara kami, semuanya terasa seperti ditarik menjauh.
Ayah mengembuskan napas panjang, menahan sesuatu. “Ya sudah,” katanya akhirnya. “Ayah ke toilet dulu. Kamu lihat Trista.”
Aku tidak menjawab. Dia sudah berbalik pergi.
Belum lama, suara Trista berpindah ke kios sebelah. “Kak! Sini!”
Aku mengangkat kepala, melihatnya melambaikan tangan dengan penuh semangat. Anak ini cepat sekali. Dengan langkah malas, aku menghampiri.
Ternyata dia berdiri di depan rak kecil berisi berbagai stiker. Matanya langsung tertuju pada satu bungkus plastik berisi bintang-bintang kecil.
“Aku mau ini,” katanya cepat. “Buat di langit-langit kamar.”
“Tunggu ayah,” jawabku singkat.
“Cuma tinggal satu, Kak. Nanti habis.” Suaranya mulai berubah, sedikit memelas. “Please…”
Aku mendesah panjang. Kepala terasa berat.
Akhirnya aku merogoh saku, membayarnya tanpa banyak kata. Trista langsung menerimanya dengan wajah berbinar, seolah aku baru saja memberinya sesuatu yang sangat berharga.
“Makasih!” serunya, hampir melompat.
Aku hanya mengangguk pelan, kembali kelelahan tanpa alasan yang jelas.
Ponselku bergetar. Nama Nala muncul di layar. Aku mengangkatnya sambil berjalan menjauh, ke sudut kios yang lebih sepi.
“El, kita jadi ke pantai nanti sore,” suaranya langsung terdengar cepat. “Aku, Kenta, sama Anggi, mantan ketua OSIS. Kita sudah beli perlengkapan camping. Ikut, ya.”
Aku menutup mata sebentar. “Nggak.”
“Kenapa sih? Sekali ini aja.”
“Kalau aku ikut, malah tambah capek.”
Nala terdiam sebentar. “Kamu lagi di mana?”
Aku menoleh sekilas ke arah taman bermain. “Di… taman bermain. Sama keluarga.”
“Hah.” Nada suaranya berubah, lebih pelan. “Gimana rasanya?”
Aku tidak langsung menjawab.
Rasanya bagaimana?
Aku menatap ke arah keramaian. Lampu, suara, orang-orang yang ketawa tanpa beban.
“Rasanya…” kataku akhirnya, pelan. “Asing.”
Aku menoleh lagi ke arah kios.
Kosong.
Trista nggak ada di sana.