Pantai itu menyambut dengan suara ombak yang panjang dan terbuka. Angin laut datang tanpa izin, membawa bau asin yang langsung menempel di kulit. Langit masih terang, matahari belum sepenuhnya turun, dan air memantulkan cahaya seperti ribuan pecahan kaca kecil.
“WOI!” Kenta berteriak pertama, menjatuhkan ranselnya begitu saja di pasir.
“GILA BAGUS BANGET!” Nala menyusul, sudah berlari lebih dulu.
Anggi hanya tertawa kecil, tapi tetap ikut melepas sandalnya dan berlari ke bibir pantai.
Mereka semua langsung menyatu dengan tempat itu. Semua… kecuali aku.
Aku masih berdiri di tempat, ransel tergantung di bahu, kaki setengah tenggelam di pasir. Angin menerpa wajahku, tapi tidak membawa apa-apa selain rasa kosong yang sama. Terlalu ramai. Terlalu hidup.
“El!” Nala menoleh, lalu tanpa menunggu, dia berlari kembali ke arahku. Tangannya langsung menarik lenganku. “Ayo!”
“Aku di sini aja—”
Terlambat. Dia sudah menyeretku, ranselku jatuh begitu saja ke pasir. Aku hampir kehilangan keseimbangan saat kakiku menyentuh air. Dingin.
“Kena!” Kenta langsung menyiprati air ke arahku.
“WOI!” Anggi ikut, tertawa.
Air asin mengenai wajahku, masuk ke mata, ke mulut. Refleks, aku mengangkat tangan, menutupi wajah.
“Berhenti!” kataku, suaraku tertahan di antara tawa mereka. “Sudah—”
Tapi mereka masih menyiram lagi, lagi, seperti tidak ada yang salah.
“WOI, EL IKUT LAH!” teriak Kenta.
Aku mundur setengah langkah, tetap menutupi wajah. “Sudah, sumpah… berhenti.”
Mereka akhirnya berhenti, mungkin karena nadaku tidak lagi bercanda.
Air menetes dari rambutku, dari lengan, dari ujung kardigan yang kini basah dan berat. Aku menurunkan tangan perlahan, menarik napas. Sunyi kecil terbentuk di antara kami, hanya diisi suara ombak.
Kenta menggaruk belakang kepalanya. “Ya audah… maaf, Bro.”
Anggi menepuk bahunya pelan. “Santai aja. Nanti juga cair sendiri.”
Nala menatapku sebentar, lalu tersenyum kecil. Tidak memaksa lagi.
“Eh,” Kenta tiba-tiba berkata, mencoba mengalihkan suasana. “Kita dirikan tenda di mana? Kalau di sini, bisa-bisa pasang waktu malam.”
Anggi langsung menunjuk ke arah samping. Sebuah bukit kecil, hijau, menghadap langsung ke laut. “Di situ. Lebih aman. View-nya juga dapet.”
Kami semua menoleh.
Masuk akal.
Akhirnya kami kembali ke darat, mengambil barang masing-masing. Pasir menempel di kaki, angin terasa lebih kencang saat kami mulai mendaki.
Aku mengambil ranselku tanpa banyak bicara.
Bukit itu tidak terlalu tinggi, tapi cukup membuat napas terasa lebih berat saat sampai di atas. Angin lebih dingin di sini, dan suara ombak terdengar lebih jauh, lebih dalam.
“Kita di sini aja,” kata Anggi, menjatuhkan tasnya.
Semua mulai bergerak.
Aku dan Kenta membuka tenda, membentangkan kainnya di atas rumput. Tanganku bekerja otomatis… menarik, menahan, mengikat.
“Aku seneng sih kamu jadi ikut,” kata Kenta tiba-tiba.
Aku tidak langsung menjawab.
“Serius,” lanjutnya, sambil menancapkan pasak. “Aku tadi sempet mikir bakal jadi satu-satunya cowok. Ngeri juga.”
Aku berhenti sebentar. Menatap tanganku sendiri.
“Bahkan ayahku hampir nggak ngasih izin,” tambahnya santai. “Banyak tanya, ribet.”
Aku mengangkat kepala sedikit. “Kau… deket sama ayahmu?”
Kenta berhenti. Pertanyaanku mungkin terdengar aneh. Dia menatapku sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya. “Lumayan.”
“Lumayan gimana?”
Kenta mengangkat bahu. “Ya… normal. Kadang nyebelin. Kadang juga… ya gitu, protektif banget.”
Aku terdiam sejenak. “Lo pernah cerita ke dia?” tanyaku lagi. “Tentang… yang di sekolah?”
Kenta berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Dia tahu maksudku. Tentang Eko dan gengnya.
Dia menatapku, lalu mengalihkan pandangan ke arah laut. “Nggak semuanya.”
“Kenapa?”
Kenta menarik napas pendek. “Ya… nggak semua hal harus diceritain, kan?”
Aku menatap laket. “Tapi keluargamu bisa membantu.”
“Jadi apa kamu selalu cerita ke ayahmu, El?” Dia memalikkan pertanyaan itu padaku.
Aku tidak menjawab.
“Tiap orang punya bagian yang mereka simpan sendiri,” lanjutnya. “Bukan karena nggak percaya. Tapi… ya emang nggak bisa aja.”
Aku kembali menatap tali di tanganku.
“Kalau aku cerita semua,” katanya lagi, “bisa jadi malah bikin ribet. Atau bikin mereka khawatir berlebihan. Mungkin bisa membantu, tapi… entahlah. Mungkin itu masalah setiap anak.”
Aku mengencangkan simpul itu lebih keras dari seharusnya.
“Lagipula…” Kenta tersenyum kecil, tipis. “Kadang kita juga nggak tahu harus mulai dari mana. Kadang bercerita juga bisa menghancurkan dari dalam.”
Kalimat itu menggantung. Aku tidak sadar kapan aku berhenti bergerak.
“Eli?” Kenta melirik. “Lo kenapa?”
Aku menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Tapi pikiranku tidak di sini.
“Kau ikut ke sini…” Kenta tiba-tiba berkata lagi. “Karena Nala?”