Pintu gerbang sekolah terbuka lebar, menyambut ratusan siswa dengan seragam putih abu-abu yang masih tampak kaku. Bagi sebagian orang, ini adalah awal dari tahun yang panjang, penuh dengan ujian, tugas, dan tekanan. Tapi bagiku... ini adalah hitungan mundur.
Tahun terakhir SMA. Kelas 12.
Nggak ada lagi waktu buat melamun di dekat jendela. Nggak ada lagi ruang buat coretan-coretan nggak bermakna di buku tulis. Mataku tidak lagi kosong, ada api kecil yang menyala di sana, terus-menerus memberiku energi untuk bergerak.
Tekadku hanya satu, keluar dari rumah itu.
Aku ingin pergi sejauh mungkin. Ke tempat di mana tidak ada bayangan Ibu yang tertinggal di setiap sudut, tidak ada rasa bersalah yang mencekik, tidak ada canggung yang kaku bersama Ayah.
Aku, Elias, yang dulu selalu berada di urutan paling bawah, kini menjadi orang pertama yang datang ke kelas dan orang terakhir yang pulang. Buku-buku tebal menjadi teman baruku. Rumus matematika yang dulu tampak seperti bahasa asing, perlahan mulai masuk akal.
Di jam istirahat, Meja Sekutu di halaman belakang gudang tidak pernah sepi. Kakinya yang keropos masih bertahan di tanah, miring namun tetap berdiri.
“Elias,” suara Kenta terdengar datar tapi tegas, “ini salah. Rumus turunan fungsinya bukan pakai yang itu.”
Dia si genius matematika. Dan dia tidak pernah bosan memperbaiki kesalahanku. Dia mencoret jawabanku dengan pulpen merah, lalu menuliskan cara yang benar di sampingnya. Rapi. Jelas.
“Tapi yang ini benar, kan?” tanyaku, menunjuk soal fisika.
Nala melirik sebentar, lalu mengangguk kecil. “Benar.”
Aku tersenyum tipis. Kemajuan.
Kenta bisa mengerjakan soal-soal limit dan integral dengan mata setengah tertutup, sambil mengunyah roti murahnya.
“Kamu tinggal pindahin variabelnya ke kiri, El,” katanya santai, coretan pensilnya bergerak cepat di atas kertas. “Gampang, kan?”
“Gampang buatmu,” gumamku.
Tapi mereka berdua ada di sana. Tidak memaksaku untuk kuat, tapi memberiku alat untuk bertahan. Nala dengan ketelitiannya, Kenta dengan logika matematikanya. Kami adalah sekutu yang semakin solid.
Sore hari, jadwalku semakin padat. Aku masuk les bahasa Mandarin. Tujuannya satu… Hong Kong.
Ajakan Nala malam itu bukan sekadar angin lalu bagiku. Itu adalah pintu keluar. Sebuah kesempatan untuk mulai dari nol. Aku belajar pinyin, menghafal hanzi, memutar lidah untuk mengucapkan nada yang benar.
Wǒ yào qù Xiānggǎng. Aku ingin pergi ke Hong Kong.
Setiap kata yang kuhafal rasanya seperti satu langkah menjauh dari rumah.
Hubunganku dan Nala juga berubah. Bukan lagi sekadar sekutu di bawah pohon. Ada sesuatu yang tumbuh di antara kami, perlahan tapi pasti, seperti tanaman yang akhirnya menemukan cahaya matahari.
Pernah suatu sore, kami pulang paling terakhir dari les Mandarin. Jalanan sudah mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Kami berjalan berdampingan di trotoar.
Angin berhembus sedikit kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Nala.
“Capek?” tanyanya pelan.
“Lumayan,” jawabku jujur.
Dia tidak bicara lagi. Hanya bergeser sedikit lebih dekat, hingga lengan kami bersentuhan. Gerakan kecil, sederhana, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang.
Saat menyeberang jalan, tangannya tiba-tiba meraih tanganku. Menggenggamnya erat. Aku tidak melepaskannya. Jari-jari kami bertaut di tengah keramaian kota. Dingin di luar, tapi hangat di dalam genggaman itu.
Nala menoleh padaku, tersenyum simpul—senyum yang membuatnya sangat cantik di bawah cahaya lampu jalan.
“Kita bakal sampai ke sana, El,” bisiknya. “Ke rumah kita.”
Aku tidak menjawab. Hanya menggenggam tangannya lebih erat. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Malam hari adalah medan perangku yang sesungguhnya.
Kamar adalah ruang operasiku. Lampu meja belajar menyala, menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang temaram. Buku-buku berserakan di atas meja, pensil dan pulpen bertumpukan di dalam gelas.
Insomnia yang dulu menyiksaku, kini kututupi dengan belajar. Setiap kali mataku mulai sulit dipejamkan, setiap kali pikiran gelap mulai merayap, aku membuka buku. Aku memaksakan otakku untuk bekerja, menghafal kosa kata Mandarin, mengerjakan soal-soal biologi.
Aku belajar sampai mataku perih. Sampai tanganku gemetar karena terlalu banyak menulis. Sampai tubuhku benar-benar kelelahan dan akhirnya terlelap karena rasa capek yang ekstrem, bukan karena ketenangan.
Hubunganku dengan Ayah… normal. Bukan normal yang akrab seperti Mas Roy ke Om Hadi, tapi normalnya keluarga kami.
Canggung. Kaku. Tapi ada.
“Ayah, seragamku sudah diambil dari laundry?” tanyaku saat kami papasan di lorong pagi hari.
“Ada di sofa,” jawabnya singkat.
Atau Ayah yang bertanya, “Uang bensin masih ada?”
“Habis.”
Dia merogoh dompet, memberiku beberapa lembar uang tanpa banyak bicara.
“Makasih,” kataku, lalu melewatinya.
Kami nggak pernah lagi membahas tentang tentang luka di pergelangan tanganku yang kini tertutup kaus lengan panjang di balik kardigan. Ayah tidak bertanya, aku tidak bercerita. Tak ada yang tahu tentang Mbak Erika, tentang klinik. Semuanya seolah tersimpan rapi di bawah karpet, berpura-pura tidak ada, meski kami berdua tahu itu masih di sana.
Dan Trista… dia kayak biasa. Riang. Cengeng. Nggak peduli. Sebagaimana anak-anak yang emosinya nggak stabil.
Dia lebih sering mengerjakan PR di ruang keluarga. Ayah biasanya duduk di sampingnya, mencoba membantu. Tapi Ayah adalah seorang pria yang terbiasa mengurus proyek-proyek besar, cetak biru bangunan, dan negosiasi bisnis. Bukan soal matematika anak SD.
Jika aku tak sengaja dengar, aku biasanya berhenti sejenak untuk menguping. Entah apa yang ingin kupastikan.
“Papa, ini maksudnya gimana?” Trista menunjuk buku cetaknya.
Ayah mengerutkan dahi, membaca soalnya berulang kali. “Ini… ya ini tinggal dikalikan, Tris.”
“Tapi di sini katanya dibagi!” Trista mulai kesal.
“Ya kalau dibagi berarti… ah, sebentar.” Ayah mengacak rambutnya frustrasi. “Kenapa soal anak SD susah banget sih?”
Trista akhirnya menangis. Menangis karena nggak paham, menangis karena bukunya membingungkan, menangis karena Ayah nggak bisa memberikan jawaban yang dia mengerti.