Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #15

Hongkong dan Kebebasan

Wǒ zài Xiānggǎng.

Pulau Chek Lap Kok dengan pemandangan yang menyilaukan. Jembatan-jembatan raksasa yang melintasi laut, perbukitan hijau yang terjal, dan deretan gedung pencakar langit yang seolah tumbuh dari sela-sela gunung.

Ini adalah dunia yang baru. Kota cahaya yang modern dan padat, di mana masa lalu dan masa depan bertabrakan di setiap sudut jalan.

Aku tinggal di asrama kampus, sebuah gedung tinggi yang menghadap ke pelabuhan. Kamarku… yah, agak ramai. Universitas Hong Kong (HKU) memang didominasi oleh mahasiswa internasional, jadi tidak heran kalau aku berbagi ruang dengan tiga pria dari latar belakang yang sangat berbeda.

Ada Junjie, pria dari Yunnan yang dijuluki “Raja Game”. Dia jarang terlihat tanpa headset di kepala dan tangannya yang bergerak cepat di atas keyboard. Wajahnya selalu diterangi cahaya monitor, dan aroma mi instan rebus selalu tercium dari sudut mejanya.

“El, kau mau ikut raid malem ini nggak?” tanyanya, matanya tidak pernah lepas dari layar. “Wǒ xūyào nǎimā.”

Lalu ada Qiu Qiu, pria dari Taiwan yang sangat rapi dan kutu buku. Mejanya selalu tertata rapi, buku-bukunya disusun berdasarkan abjad, dan dia punya koleksi alat tulis yang mencengangkan. Dia selalu bangun pagi untuk belajar, dan dia punya kebiasaan aneh: selalu meminta izin sebelum menyentuh barang apa pun di kamar.

“Bù hǎoyìsi, El,” katanya pelan, “apa aku bisa pinjam charger-mu? Punyaku ketinggalan di perpustakaan.”

Dan yang terakhir, Viraj. Pria dari India yang cerewet dan agak jorok, tapi sangat asyik. Pakaian-nya berserakan di mana-mana, dia selalu menyanyikan lagu-lagu Bollywood dengan suara sumbang, dan dia punya kebiasaan makan camilan pedas yang baunya memenuhi seisi kamar. Tapi dia juga orang yang paling ramah dan selalu punya cerita lucu untuk diceritakan.

“Eh, kalian tahu nggak, kemarin aku lihat ada orang berantem di MTR, gila lucu banget!” katanya sambil tertawa terbahak-bahak, tangannya sibuk mengaduk-aduk bungkusan keripik.

Awalnya, aku sangat penyendiri. Aku lebih suka duduk di pojok kamar, membaca buku atau menatap ke luar jendela, membiarkan kebisingan mereka menjadi latar belakang yang jauh. Di awal-awal, aku masih membawa tembok itu di dalam dadaku, tembok yang kubangun bertahun-tahun untuk melindungiku dari rasa sakit.

Tapi lambat laun, mereka membuatku merasa nyaman. Junjie tidak pernah memaksaku untuk ikut bermain, tapi dia selalu menyisakan mi instan untukku kalau aku pulang larut. Qiu Qiu sering meminjamkan buku-bukunya yang menarik dan tidak pernah protes dengan kebiasaanku yang berantakan. Dan Viraj… yah, Viraj selalu punya cara untuk membuatku tersenyum, meski dengan leluconnya yang paling garing.

“Kamu tahu gak, El,” kata Viraj suatu sore, “aku lihat kau itu kayak kucing liar. Keliatannya galak, tapi aslinya pengin dielus juga.”

Aku hanya mendengus pelan, tapi di dalam hati… aku merasa hangat. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menanggung semuanya sendirian.

Universitas Hong Kong adalah tempat yang menakjubkan. Gedung-gedung tuanya yang bergaya kolonial berdiri megah di sela-sela gedung-gedung modern yang menjulang tinggi. Kampus ini didominasi oleh mahasiswa internasional dari segala penjuru dunia—Eropa, Amerika, Afrika, dan tentu saja, Asia.

Pemandangan ini membuatku merasa nyaman. Di sini, aku bukan satu-satunya orang luar. Aku tidak perlu takut untuk tidak mengerti bahasa mereka, karena kami semua menggunakan bahasa Inggris dalam setiap pembelajaran. Aku tidak perlu takut untuk tidak cocok, karena kami semua sedang berusaha untuk menemukan jalan kami sendiri.

Pelajaran di kampus juga terasa lebih menyenangkan. Tidak ada lagi rumus-rumus fisika yang kuanggap kutukan, atau kosa kata Mandarin yang kuhafal tiap malam di sela susah tidurku. Di sini, aku belajar tentang hal-hal yang benar-benar kuminati—desain grafis, seni digital, dan komunikasi visual. Aku menemukan kembali passion-ku yang selama bertahun-tahun terkubur di bawah tumpukan duka.

Dan kebebasan itu… ah benar kata Mas Roy, kebebasan itu adalah candu.

Aku akhirnya merasakan betapa menyenangkannya hidup. Tidak ada lagi Ayah yang memandangku dengan cemas, atau Trista yang selalu membuatku kesal. Aku bebas untuk pergi ke mana pun yang kuinginkan, kapan pun yang kuinginkan. Aku bebas untuk menjadi siapa pun yang kuinginkan, tanpa harus takut untuk dinilai atau disalahkan.

Hubunganku dengan Nala juga berkembang sangat baik. Kami biasa menghabiskan makan siang di kantin kampus yang ramai, berbagi cerita tentang pelajaran, teman-teman asrama, dan tentu saja, rencana kami untuk masa depan.

“Kamu tahu nggak, El,” kata Nala suatu siang, sambil menyuapkan sesendok nasi curry, “aku suka banget sama kelas sejarah seni di sini. Dosennya seru banget kalau lagi cerita tentang seni Renaissance.”

Aku tersenyum tipis. “Aku juga suka kelas desain grafis. Dosennya galak, tapi ilmu-nya banyak banget.”

Setelah makan siang, kami biasa jalan-jalan sore keliling kota. Hong Kong adalah kota yang menakjubkan, penuh dengan keindahan laut dan pemandangan kota yang padat. Kota ini terbagi menjadi tiga wilayah berbeda: Pulau Hong Kong, Semenanjung Kowloon, dan Wilayah Baru.

Kami biasa naik Star Ferry yang legendaris, menyeberangi Victoria Harbour dari Pulau Hong Kong ke Semenanjung Kowloon. Angin laut yang kencang menerpa wajah kami, membawa aroma garam dan dingin yang menusuk. Tapi di dalam genggaman Nala… aku merasa hangat.

Lihat selengkapnya