Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #16

Perubahan-perubahan Itu

Tahun ketiga di Hong Kong tidak datang dengan kembang api, melainkan dengan sunyi yang menekan. Kamar asrama yang dulunya penuh dengan teriakan game Junjie, nyanyian sumbang Viraj, atau omelan rapi Qiu Qiu, kini terasa seperti ruang tunggu yang dingin. Momen-momen kecil di kamar kini menjadi kemewahan yang langka.

Malam itu Junjie tenggelam dalam tumpukan buku referensi, matanya lebam karena persiapan sertifikasi. Ia menoleh ke arahku yang sedang melamun di meja belajar.

“El,” panggilnya serak. Ia menyodorkan bungkusan spicy strips dari kampung halamannya. “Makanlah. Otakmu butuh gula atau kau akan mati sebelum lulus.”

Kami makan dalam diam, hanya suara kunyahan dan desau pendingin ruangan, tapi aku tahu itu adalah caranya bilang, bertahanlah.

Pernah suatu malam ia mau mengenalkanku pada teman wanitanya. Jelas aku menolak, aku sudah punya Nala. Entah sejak kapan dia menjadi playboy kelas kakap di kota ini. Seperti dia tahu betul apa yang ia lakukan. Selalu begitu.

Viraj? Dia sudah magang di sebuah perusahaan multinasional di Central; dia lebih sering tidur di sofa kantor atau apartemen temannya daripada pulang ke asrama. Suatu pagi ia pulang dengan kemeja yang berantakan setelah lembur di kantor magangnya. Ia menjatuhkan diri di kasurku karena kasurnya penuh dengan tumpukan baju kotor.

“El, temanku… dunia orang dewasa itu penipuan,” gumamnya dengan aksen India yang kental sebelum mendengkur dalam hitungan detik. Aku hanya bisa menghela napas, menyelimutinya dengan selimutku sendiri, dan merasakan kelelahan yang sama menular ke tulang-tulangku.

Sementara Qiu Qiu, si perfeksionis itu, kini menjadi asisten dosen sekaligus bekerja paruh waktu di sebuah bar berkelas di Soho. Suatu sore sebelum berangkat kerja ke bar, ia melihatku frustrasi dengan tumpukan jurnal. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan segelas kopi kaleng dingin di dekat tanganku.

“Susun prioritasmu, El. Jangan biarkan jurnal itu memakanmu,” ucapnya pelan sambil membetulkan letak kacamata. Ia selalu tahu kapan aku mulai kehilangan kendali atas duniaku.

Aku sendiri terjepit di antara tumpukan portofolio desain dan kecemasan mencari tempat magang yang layak. Satu-satunya tempatku untuk bersnadar dan beristirahat adalah pacarku, Nala. Namun, Nala perlahan juga berubah… seperti semua orang.

Nathan Road malam itu adalah sungai cahaya. Papan neon bertumpuk-tumpuk dalam aksara Mandarin, bus tingkat merah yang menderu, dan ribuan manusia yang berdesakan di trotoar. Di tengah kegilaan itu, aku berjalan di samping Nala.

Nala tampak sangat bersemangat. Ia baru saja mendapatkan telepon dari ibunya di Indonesia, dan sepanjang jalan ia bercerita tentang rencana liburan keluarganya ke Bali, tentang adiknya yang baru masuk kuliah, dan betapa ia merindukan masakan rumah.

Aku? Aku hanya mengangguk pelan, memberikan gumaman “oh” atau “baguslah” sesekali. Setiap kali topik keluarga muncul, dadaku terasa seperti disiram air es. Aku ogah. Aku benci mendengar kehangatan yang tidak bisa kupahami. Bagiku, masa lalu adalah lubang hitam, dan keluarga adalah pengingat bahwa aku adalah pelarian yang gagal.

“El, lihat! Es krim ini kelihatan enak banget,” Nala menarik lenganku ke sebuah kedai kecil. Ia membeli satu cone es krim stroberi yang warnanya merah muda pucat.

“Cobain deh, El. Serius, ini stroberinya kerasa banget, nggak kayak yang di kantin,” ia menyodorkan es krim itu ke depan mulutku.

“Nggak, Nal. Aku nggak suka stroberi. Kamu tahu itu,” jawabku datar.

“Ayo dong, satu jilat aja. Kamu itu terlalu kaku,” ia mulai memanja, mendekatkan es krim itu hingga hampir mengenai hidungku. “Anggap aja hadiah karena hari ini kita nggak berantem. Ayo, Elias… satu jilat aja!”

“Nal, berhenti. Kamu kayak adikku saja, suka sama buah bodoh itu…” kataku, nada suaraku mulai meninggi karena jengah.

“Elias!” ia tertawa kecil tapi tetap mendesak, es krim itu mulai meleleh dan menetes ke tangannya. “Ayo, buka mulutmu!”

Rasa jengkel yang sedari tadi kutahan mendadak meledak. Saat ia mendorong es krim itu sekali lagi, tanganku refleks bergerak menampisnya.

Plak.

Cone es krim itu terlepas dari genggaman Nala, jatuh terbalik di atas trotoar Nathan Road yang kotor, hancur berkeping-keping dalam genangan merah muda yang meleleh cepat di bawah lampu jalan.

Hening mendadak menyergap di antara kami, di tengah kebisingan Hong Kong.

“Maaf… Nal, aku nggak sengaja. Sumpah,” aku segera merogoh saku, mencari tisu. “Aku beli lagi ya? Maaf… Maaf banget.”

Nala tidak bergerak. Ia menatap es krim yang hancur itu, lalu menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, bukan karena es krimnya, tapi karena penolakanku yang kasar. Karena dia tahu aku benci stroberi karena suatu alasan bodoh.

“Bukan soal es krimnya, El,” suaranya bergetar, tapi nadanya dingin. “Kamu itu… kamu itu egois banget, tahu nggak?”

“Aku cuma nggak suka stroberi, Nal.”

“Bukan cuma soal es krim! Kamu selalu begini! Setiap kali aku cerita soal rumah, kamu langsung pasang tembok. Setiap kali aku coba masuk ke duniamu, kamu dorong aku keluar!” Nala meledak. Ia tidak peduli pada orang-orang yang melirik kami. “Kamu pikir cuma kamu yang punya luka? Kamu pikir cuma kamu yang berjuang di sini?”

“Sayang…” Aku berusaha meraih tangannya.

Dia mundur satu langkah. Tak mau disentuh. “Kenapa kau sangat membenci stroberi? Kenapa kau sangat membenci adikmu? Bukankah kau yang memeberinya nama Trista, karena kau suka stroberi jenis tristar? Aku ingat betul apa yang dikatakan ayahmu saat di bandara saat kita berangkat. Dia begitu membanggakanmu. Apa yang kau lakukan, El? Ada apa denganmu?”

Aku terhenyak. Kalimatnya menghantamku.

Ia kembali melangkah maju, mencecearku kembali dengan pertanyaan yang selama ini kuhindari. “Coba kasih tahu aku, El. Kapan terakhir kali kamu bicara sama Ayahmu? Bukan cuma angkat telepon, tapi bicara?”

Aku terdiam. Otakku mendadak kosong.

Lihat selengkapnya