Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #17

Beratnya Menjadi Dewasa

Lampu neon di langit-langit asrama berkedip sekali sebelum kembali stabil, menerangi kamar yang kini terasa lebih sempit karena tumpukan barang yang tak terurus. Kamar itu sedang lengkap. Junjie sedang bertarung dalam turnamen online dengan gumaman makian dalam bahasa Mandarin yang pelan. Viraj sedang sibuk melipat beberapa kemeja kantornya—sesuatu yang langka—dan Qiu Qiu sedang menekuni catatan asisten dosennya dengan kacamata yang melorot di ujung hidung.

Aku duduk di tepian kasur, menatap layar ponsel yang mulai memanas di genggamanku. Saldo tabunganku masih diam di angka yang sama sejak bulan lalu. Ayah benar-benar berhenti mengirimkan uang.

Secara logika, aku tidak perlu khawatir. Tabunganku masih cukup untuk membayar uang sewa asrama dan makan mewah di restoran Michelin star selama beberapa bulan ke depan. Ayah selalu mengirimkan lebih dari yang kubutuhkan. Tapi, ada sensasi dingin yang merayap di tengkukku. Sesuatu terasa salah. Atau mungkin, ini hanya bentuk denial karena aku mulai mencemaskannya setelah percakapan dengan Mas Roy malam itu.

Aku membuka kontak Ayah. Jemariku melayang di atas ikon gagah telepon hijau. Cukup tekan, dan semua tanda tanya ini akan terjawab. Tapi egoku, atau mungkin ketakutanku akan kenyataan, menekan jariku kembali. Aku mengurungkan niat itu.

Aku butuh pengalihan.

Aku bangkit dan menghampiri meja Qiu Qiu. Dia sedikit terkejut saat melihat bayanganku menutupi catatannya.

“Qiu Qiu,” panggilku canggung.

“Ya, El?” Dia menoleh, merapikan kacamatanya.

“Pekerjaanmu di kasino… lancar?”

Qiu Qiu mengernyitkan dahi. Dia meletakkan pulpennya, menatapku dengan tatapan menyelidik. “Sun lei. Tumben kau tanya sedetail itu? Kau biasanya tidak peduli kalau aku pulang subuh dengan bau cerutu.”

Aku berdehem, menggeser tumpuan kakiku. “Kira-kira… di sana ada lowongan untukku?”

Qiu Qiu terdiam sejenak. Dia memutar kursinya sepenuhnya menghadapku. “Lowongan? El, kau tahu sendiri aku hanya runner di sana, aku tidak banyak tahu soal posisi lain. Lagi pula…” Dia menjeda, menatapku sangsi. “Nǐ bù tǎoyàn dǔchǎng ma? Kau bilang itu tempat para pecandu judi yang norak.”

“Aku hanya ingin lebih mandiri,” jawabku singkat, mencoba terdengar setegar mungkin. “Aku ingin mencari penghasilan sendiri mulai sekarang.”

Qiu Qiu mengangguk pelan, sepertinya dia menghargai alasanku meski dia tahu ada sesuatu yang kusembunyikan. “Oke. Sepertinya ada lowongan untuk cashier. Tapi nanti aku tanyakan dulu ke manajerku kalau ada posisi. Dan jangan berharap terlalu banyak, ya?”

“Xie xie.”

Tiba-tiba, suara tepukan tangan yang keras memecah suasana. Viraj berdiri di tengah ruangan, wajahnya yang biasanya jenaka kini tampak lebih serius, meski senyum khasnya tetap ada.

“Péngyǒumen! Zhùyì!” seru Viraj.

Junjie melepas sebelah headset-nya, sementara Qiu Qiu mendongak.

“Aku punya pengumuman resmi,” lanjut Viraj. “Aku harus… keluar dari asrama.”

Hening sejenak. Tapi tidak ada yang kaget. Tidak ada teriakan tidak percaya. Kami semua sudah melihat koper-koper yang mulai dicicilnya dan kemeja-kemeja kantor yang makin banyak.

“Kapan tepatnya kau pindah?” Qiu Qiu bertanya dari kursinya.

“Hari Sabtu. Apartemen baruku di dekat Central sudah siap,” jawab Viraj bangga.

Junjie tiba-tiba mencetuskan ide dari balik monitornya. “Kalau begitu, kita harus mengadakan pesta perpisahan. Benar-benar pesta, bukan cuma makan mi instan di kamar.”

“Setuju!” Viraj bersorak. “Malam Minggu nanti. Tidak ada yang boleh punya jadwal. Elias, jangan bilang kau mau kencan dengan Nala, kau harus ikut!”

Lihat selengkapnya