Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #18

Di Bawah Purnama

Hari-hari di Hong Kong merayap seperti kabut di atas pelabuhan—dingin, lembap, dan perlahan menelan segalanya. Kamar asrama kini menjadi saksi bisu sebuah akhir. Junjie mulai terlihat mengepak kardus-kardus berisi komponen komputer dan tumpukan action figure-nya. Dia tidak bicara banyak, tapi pengumuman kelulusan dan kontrak kerja di Shenzhen sudah terpampang jelas di matanya yang lelah. Satu per satu, kepingan hidupku di asrama ini terkelupas.

Hubunganku dengan Nala? Kami seperti dua orang yang sedang berusaha menambal perahu bocor di tengah badai. Kami mencoba menekan ego, menelan kata-kata tajam, dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Rasanya melelahkan. Ada rasa hambar yang menyusup di setiap percakapan, sebuah jarak yang tetap ada meski jemari kami bertautan. Tapi aku tidak bisa melepaskannya. Aku masih sangat mencintainya, mungkin karena dia adalah satu-satunya jangkarku yang tersisa.

Sore itu, Hong Kong sedang bersolek. Kota bersiap menyambut Festival Pertengahan Musim Gugur. Jalanan sempit yang padat dihiasi ribuan lampion warna-warni yang bergoyang ditiup angin laut. Toko-toko roti beraroma manis mentega dari kue bulan yang baru dipanggang.

Kami menyusuri trotoar yang sesak. Nala menggigit kue bulan teratai kecil di tangannya, tampak sangat menikmati keramaian itu.

“Jadi… gimana magangmu di perusahaan ayahnya Jiangxi?” tanyaku, mencoba terdengar kasual meski nama itu terasa seperti duri di tenggorokanku.

“Lancar,” jawab Nala singkat tanpa menoleh. “Orang-orang di sana sangat profesional. Aku belajar banyak soal manajemen aset. Jiangxi juga sering bantu kalau aku bingung.”

Aku menarik napas panjang, menahan diri agar tidak meledak. Aku ingin menjadi dewasa, Elias yang baru, Elias yang tidak lagi sinis seperti yang Nala inginkan. “Baguslah. Aku senang kamu dapat tempat yang oke.”

“Kamu sendiri gimana? Magangmu?” Nala bertanya balik.

“Masih interview sana-sini,” bohongku. Aku tidak ingin dia tahu betapa frustrasinya aku ditolak di beberapa studio desain karena portofolioku yang dianggap terlalu kelam. “Kerja di kasino juga nggak seburuk itu, kok. Gajinya lumayan.”

Itu bohong besar. Aku benci setiap detik yang kuhabiskan di balik kaca loket itu. Aku benci bau asap cerutu dan wajah-wajah serakah para pejudi. Tapi aku harus bertahan.

“Oh ya, El,” Nala berhenti sejenak, menatapku. “Teman-teman kampus mau kumpul di Victoria Park besok malam buat ngerayain festival. Ada pawai naga api juga. Kamu… mau datang?”

Aku terdiam. Aku benci keramaian, benci basa-basi dengan teman-temannya yang selalu memandangku aneh. Tapi aku melihat binar di matanya. Dia ingin datang. Dia ingin kita menjadi pasangan normal di mata teman-temannya.

Aku memaksakan sebuah senyum tipis dan mengangguk. “Aku akan datang. Kita akan datang ke sana.”

Wajah Nala seketika cerah. Dia hendak memelukku, tapi tepat saat itu, gelombang orang yang berdesakan mendorong bahunya. Nala tersentak, kakinya goyah, dan terdengar bunyi krak yang menyakitkan.

“Aduh!” Nala memekik, hampir terjatuh jika aku tidak sigap menangkap pinggangnya.

Aku menuntunnya minggir ke depan sebuah ruko yang agak sepi. Nala mengangkat kaki kanannya, memeriksa sepatu heels-nya. Haknya patah total, lepas dari solnya.

“Ya ampun… rusak,” gumamnya sedih. Dia mengelus sepatu itu dengan wajah mendung. “Padahal ini sepatu yang mau kupakai ke festival besok, El. Ini sepatu kesayanganku.”

“Makanya, aku sudah bilang berkali-kali,” omelku pelan sambil berjongkok memeriksa kerusakannya. “Jangan pakai heels tinggi kalau mau jalan-jalan di trotoar Hong Kong yang nggak rata begini. Menyusahkan diri sendiri, kan?”

Nala hanya mengerucutkan bibirnya, tampak ingin menangis. Melihat wajah sedihnya, rasa jengkelku menguap. Aku mendongak dan melihat sebuah butik sepatu kecil tepat di seberang jalan.

“Ayo,” kataku sambil membantunya berdiri. “Kita beli yang baru.”

Kami masuk ke butik itu. Nala memilih sebuah sepatu heels berwarna merah menyala, elegan namun tampak lebih kokoh. Saat tiba di kasir, aku segera mengeluarkan kartu debitku.

“Biar aku yang bayar,” kataku tegas saat Nala hendak merogoh dompetnya.

“El, ini mahal—“

“Aku ingin membelikan pacarku sesuatu dari gaji pertamaku di kasino,” aku memotongnya, menatap matanya dalam-dalam. “Anggap saja ini investasi untuk langkah-langkah kita ke depan.”

Nala terdiam, lalu tersenyum sangat manis, senyum yang sudah lama tidak kulihat. Dia menghargai momen itu, dia menghargai usahaku untuk tetap ada di sampingnya meski badai sedang menghantam kami dari berbagai arah.

Sore itu, di tengah hiruk-pikuk Nathan Road, aku merasa cinta kami perlahan menguat kembali. Kami memang sedang retak, kami memang sedang tertatih, tapi setidaknya kami masih mencoba untuk memperbaiki semuanya di bawah cahaya lampion Hong Kong yang mulai menyala.

***

Victoria Park malam itu berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan lampion berbentuk kelinci dan naga bergoyang ditiup angin malam, menciptakan pendar kemerahan yang hangat di wajah setiap orang. Wangi dupa dan kue bulan menyeruak di antara kerumunan mahasiswa yang tertawa lepas. Di tengah taman, sebuah panggung kecil berdiri megah, dikelilingi oleh lautan manusia yang terpukau.

Di atas panggung itu, Jiangxi sedang memegang mikrofon.

Dia menyanyikan sebuah lagu Kanton melankolis dengan teknik yang sempurna. Suaranya berat, stabil, dan penuh penjiwaan seolah-olah dia memang terlahir untuk berdiri di bawah lampu sorot. Aku berdiri di kejauhan, memperhatikan Nala yang tertawa bersama sahabat-sahabat wanitanya, sesekali mereka bertepuk tangan mengikuti irama musik. Dadaku berdesir cemburu, tapi aku menahannya rapat-rapat. Aku ingin menjadi Elias yang dewasa malam ini. Elias yang tidak hancur hanya karena seorang pria lokal yang pandai bernyanyi.

Setelah turun dari panggung, Jiangxi menghampiri lokasiku berdiri. Ia memegang segelas minuman, menatapku dengan senyum miring yang khas.

“Bagaimana penampilanku, El? Terlalu norak untuk seleramu?” tanyanya memprovokasi.

Lihat selengkapnya