Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #19

Dia Rumahku

u di Hong Kong tidak pernah berjalan, ia berlari. Tahun keempat memburuku seperti predator. Aku akhirnya diterima magang di sebuah studio desain kecil yang progresif, dan tanpa ragu sedikit pun, aku melemparkan seragam rompi kasino itu ke tempat sampah. Aku berhenti menghitung uang judi Jiangxi. Namun, kebebasan itu dibayar mahal dengan jadwal yang mencekik: ujian akhir, proyek studio, dan tenggat waktu magang yang saling tumpang tindih. Aku dan Nala? Kami menjadi dua orang asing yang saling mengirim pesan “selamat tidur” di jam tiga pagi.

Kamar asrama yang dulu penuh hiruk-pikuk kini terasa seperti kuburan kenangan. Junjie akhirnya pindah ke Shenzhen, menyisakan ranjang kosong yang dingin. Lalu, kejutan pahit datang dari Qiu Qiu. Si perfeksionis itu tiba-tiba jatuh. Nilai-nilainya merosot tajam, dan aku sering menemukannya menatap kosong ke arah buku teksnya di tengah malam.

“Aku akan berhenti, El,” ucapnya suatu malam, suaranya parau. “Aku terlalu fokus bekerja di kasino dan bar. Akademikku hancur. Aku tidak bisa mengejarnya lagi.”

“Tinggal satu tahun lagi, Qiu Qiu! Sayang sekali kalau kau menyerah sekarang,” aku mencoba menahannya, tapi matanya sudah mati rasa.

Qiu Qiu akhirnya bulat dengan keputusannya. Ia keluar dari asrama, meninggalkan aku sendirian di kamar itu. Ketika pihak kampus mengatakan kamar tersebut akan diisi oleh mahasiswa baru, aku merasa mual. Aku tidak siap berbagi ruang dengan orang asing setelah semua sejarah yang kami ukir. Maka, aku pun memutuskan pindah. Sebuah flat kecil di kawasan Tai Kok Tsui—sempit, tapi milikku sendiri.

Setahun berlalu dalam kegilaan kerja keras, hingga akhirnya hari itu tiba: Wisuda.

Matahari Hong Kong bersinar terik saat aku, Junjie, dan Viraj berdiri di depan gedung ikonik kampus dengan jubah hitam yang berat. Kami berfoto bersama, tertawa lebar meski ada lubang kecil di hati kami karena Qiu Qiu tidak ada di sana. Aku juga berfoto berdua dengan Nala; ia tampak cantik luar biasa dengan buket bunga matahari di pelukannya. Hari itu, aku merasa telah memenangkan dunia. Aku bukan lagi Elias si pecundang yang kabur dari Jakarta; aku adalah Elias, sarjana desain dari Hong Kong.

Tak lama setelah itu, Nala pindah ke flatku. Kami mulai mengisi ruang sempit itu dengan perabotan baru—sebuah meja besar untukku bekerja, tanaman indoor yang ia sukai, dan tawa yang menggema di setiap sudut. Kami seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara, hidup dalam gelembung kebahagiaan yang kami ciptakan sendiri. Aku pun mulai bekerja di sebuah studio animasi ternama, pekerjaan impian yang selalu kubayangkan sejak dulu. Hidupku terasa sempurna.

Hingga hari itu datang. Hari peringatan kematian Ibuku. Hari di mana adiknya, Trista, lahir.

Sudah bertahun-tahun aku mengubur ingatan ini. Wajah Ibu sudah sangat samar di kepalaku, seolah tertutup kabut tebal Hong Kong. Namun, yang paling menyiksa adalah bayangan Trista. Anak itu… alasan mengapa duniaku hancur. Selama bertahun-tahun di sini, aku bahkan tidak pernah melihat fotonya atau mendengar suaranya. Aku percaya aku membencinya. Tapi di balik kebencian itu, ada ketakutan yang luar biasa: ketakutan bahwa luka masa lalu ini akan merayap keluar dari kuburnya dan menghancurkan kebahagiaanku yang sudah sempurna sekarang.

Aku duduk di lantai flat, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota. Nala datang, duduk di belakangku dan memeluk leherku erat.

“El… sudah waktunya,” bisik Nala lembut di telingaku. “Pulanglah sebentar. Temui Ayahmu, temui adikmu. Kamu tidak bisa terus-menerus lari di tempat yang sama.”

Aku menggeleng pelan, tubuhku menegang. “Aku tidak bisa, Nal.”

“Ayahku juga ingin bertemu denganmu, El,” lanjutnya, mencoba membujuk. “Beliau ingin kita membicarakan hubungan ini secara serius di Jakarta. Beliau ingin tahu siapa pria yang membuat putrinya betah di negeri orang.”

Mendengar kata Jakarta dan Trista membuat dadaku sesak, seolah oksigen di flat ini mendadak habis. Aku membalikkan badan, menyembunyikan wajahku di pelukan Nala. Aku menangis tanpa suara, hanya bahuku yang berguncang hebat.

“Jangan paksa aku pulang, Nal… tolong,” rintihku. “Di sini aku merasa hidup. Di sana… aku hanya akan mati lagi.”

Nala hanya bisa menghela napas, mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Namun, di matanya, aku bisa melihat sedikit kekecewaan. Ia tahu, selama aku belum berdamai dengan bayangan di Jakarta, rumah yang kami bangun di Hong Kong ini selamanya akan berdiri di atas tanah yang goyah.

***

Hong Kong bukan lagi taman bermain lampion untuk kebebasanku, melainkan mesin penggiling yang tak punya belas kasihan. Studio animasi tempatku bekerja menuntut segalanya. Deadline adalah tuhan, dan revisi adalah hukuman abadi. Aku sering dimarahi habis-habisan oleh bosku, seorang pria lokal yang bicaranya secepat peluru dan sekasar amplas.

“Fèiwù!”

“Tài lípǔ le!”

“Nǐ nǎozi yǒu wèntí ma?”

Aku pulang dengan bahu yang merosot, mata merah karena menatap layar monitor empat belas jam sehari, dan stres yang mengendap di dasar paru-paru.

Namun, di depan pintu flat, aku selalu menarik napas panjang, memaksakan senyum, dan menghapus sisa lelah. Aku ingin terlihat baik-baik saja untuk Nala.

Nala pun punya bebannya sendiri. Ia sering mengeluh tentang tekanan di departemen keuangan, tentang angka-angka yang tidak pernah sinkron. “Untung ada Jiangxi, Sayang,” ucapnya suatu malam sambil menyandarkan kepala di bahuku. “Dia sering bantu aku kalau sistemnya error. Dia benar-benar bisa diandalkan di kantor.”

Aku hanya bisa terdiam. Ada rasa panas yang menjalar di dadaku, tapi aku menelannya bulat-bulat. Aku tidak berhak marah. Jiangxi adalah realita profesionalnya, sementara aku hanyalah kekasih yang bahkan sulit meluangkan waktu untuk makan malam tenang.

Lihat selengkapnya