Aroma parfum mawar yang lembut memenuhi udara flat yang sempit, menutupi bau detergen yang biasanya mendominasi. Nala berdiri di depan cermin kecil kami, memoles lipstik merah muda yang senada dengan gaun chiffon pink yang membalut tubuhnya. Ia tampak seperti mimpi di tengah realita kami yang abu-abu.
“Mau ke mana, Nal?” tanyaku, berusaha menekan rasa getir yang tiba-tiba naik ke kerongkongan.
“Pesta perusahaan, El. Perayaan pencapaian kuartal ini,” jawabnya tanpa menoleh, jemarinya sibuk memasang anting-anting perak.
Aku terdiam cukup lama, memandangi pantulan punggungnya di cermin. “Jiangxi… dia ada di sana juga?”
Nala mengangguk mantap, gerakannya tak ragu sedikit pun. “Tentu saja. Dia adalah masa depan perusahaan, El. Dia yang mengatur hampir semua acara malam ini.”
Hatiku mencelos, tapi aku berusaha tetap tenang. “Kamu tidak makan malam dulu? Aku bisa membuatkan sesuatu yang cepat.”
Nala tersenyum menoleh padaku. “Tidak usah. Lagian kita belum belanja, kan?”
“Benarkah?” Aku mengernyit. “Kalau begitu nanti aku akan keluar nanti.”
Nala bangkit dan mulai berjalan ke depan. “Besok saja.”
Aku melangkah mengikutinya. “Nggak apa-apa. Sekalian aku juga mau ke suatu tempat nanti.”
“Oh ya? Kalau begitu tolong ya, Sayang…”
Aku mengangguk.
Nala kemudian, mengambil sepasang heels hitam di rak sepatu—sepatu yang waktu itu dipinjamkan Jiangxi—dan memasukkannya ke dalam totebag.
“Sekalian mau kukembalikan ini,” ucapnya pelan.
Lalu, ia membungkuk dan mengambil sepasang sepatu lain. Sepatu heels merah. Jantungku berdegup kencang melihatnya. Itu adalah sepatu merah yang kubelikan dari gaji pertamaku di kasino. Sudah lama, warnanya mungkin tak secerah dulu, tapi Nala tetap memakainya malam ini. Keyakinanku yang sempat goyah mendadak tegak kembali. Jika dia masih memakai sepatu itu untuk pergi ke pesta di mana Jiangxi berada, artinya akulah yang ia pilih untuk menopang langkahnya.
“Aku pergi dulu ya, El. Jangan lupa makan malam,” ia mengecup pipiku singkat sebelum menghilang di balik pintu.
Begitu deru lift menjauh, aku terduduk di tepi ranjang. Keheningan flat ini terasa mencekik. Aku butuh kepastian. Aku butuh sesuatu yang nyata untuk menahan Nala agar tidak hanyut lebih jauh.
Aku melangkah ke meja riasnya, membuka laci kecil tempat ia menyimpan koleksi perhiasannya yang tak seberapa. Jemariku mengaduk pelan hingga menemukan sebuah cincin perak berbentuk mawar kecil—cincin favoritnya yang sering ia pakai di jari manis. Aku mengambilnya, menggenggamnya erat di telapak tanganku, lalu menyambar jaketku dan berlari keluar.
Aku duduk di kursi bus tingkat, menempelkan kening di kaca jendela yang dingin. Di luar sana, Hong Kong memamerkan kemegahannya. Lampu-lampu neon di sepanjang Nathan Road berkilat seperti berlian yang tumpah di atas aspal hitam. Gedung-gedung pencakar langit Victoria Harbour berpendar, seolah mengejek flat kecilku yang pengap.
Namun, malam ini, aku tidak merasa kecil.
Aku ingin menikahinya, batinku mantap. Narasi tentang kegagalan, tentang studio yang hampir bangkrut, dan tentang Jiangxi, perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah bayangan Nala yang menungguku di laundry, Nala yang menangis di pelukanku, dan Nala yang masih setia memakai sepatu merah pemberianku.
Aku ingin mengikatnya. Aku ingin dunia tahu bahwa dia adalah rumahku, dan aku adalah pelabuhannya. Masa sulit belakangan ini justru menyadarkanku bahwa tanpa Nala, Hong Kong hanyalah tumpukan beton yang mati. Aku ingin memujanya dengan cara yang paling sah yang bisa dilakukan seorang pria.
Bus berhenti di kawasan Mong Kok. Aku melangkah masuk ke sebuah toko perhiasan keluarga yang nampak bersahaja namun elegan. Di balik etalase kaca, mataku menyapu deretan perhiasan hingga jatuh pada sepasang cincin pasangan. Desainnya polos, tanpa permata besar yang norak, namun kilaunya menunjukkan kualitas logam yang murni. Elegan dan abadi.
“Boleh saya lihat yang ini?” tanyaku pada pemilik toko, seorang pria tua berkacamata tebal.
Aku mengeluarkan cincin mawar milik Nala dari saku. “Ini contoh ukurannya. Tolong pastikan yang ini pas dengan ini.”
Pemilik toko memeriksa kedua cincin itu dengan teliti. “Pilihan yang bagus, Anak Muda. Sederhana tapi kuat. Kami bisa mengukir nama di bagian dalamnya jika mau.”
Senyum merekah di wajahku—senyum tulus pertama setelah berbulan-bulan stres melanda. “Ya, tolong ukir nama kami. Dan tolong kerjakan dengan sangat hati-hati, Tuan. Cincin ini… akan saya gunakan untuk melamar kekasih saya.”
Pemilik toko itu tersenyum hangat, mengangguk paham. “Aku akan memberikan sentuhan terbaikku. Semoga beruntung dengan lamaranmu.”
Aku berdiri di sana, memandangi cincin polos itu dengan penuh harapan. Di kantong jaketku, sisa tabungan terakhirku mungkin terkuras habis untuk benda ini, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak takut akan hari esok. Aku punya rencana. Aku punya janji. Dan aku punya Nala.
Sesuai janjiku pada Nala. Setelah berdiskusi cukup panjang dengan pemilik toko, yang katanya cincinku bisa diambil beberapa hari lagi, aku berpindah ke supermarket untuk belanja.
Dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.