Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #21

Hilang

Hong Kong tidak pernah tidur, tapi pagi itu, studio kami terasa seperti peti mati yang menolak ditutup. Udara pengap oleh aroma kopi murahan dan kegelisahan yang memuncak. Bos berdiri di depan meja besar, wajahnya yang biasanya merah padam oleh amarah kini pucat, kuyu seolah seluruh nyawanya telah disedot keluar.

“Kita tutup,” suaranya parau, nyaris berbisik. “Hari ini. Sekarang juga.”

Suasana mendadak gaduh. Teriakan protes dan makian dalam bahasa Kanton bersahutan menabrak dinding kaca. Aku hanya mematung di kursiku. Monitor di depanku masih menampilkan siluet karakter yang belum selesai kuberi nyawa.

“Gajiku…” gumamku, suaraku tertelan keributan. “Dua bulan terakhir… bagaimana?”

Rekan di sebelahku tertawa sumbang, tawanya terdengar seperti kaca pecah. “Dua bulan? Aku sudah tiga bulan belum dibayar, El! Si brengsek ini harus menjual semua komputer di sini, atau pakai uang pribadinya untuk membayar kita!”

Aku tidak ikut berteriak. Aku hanya merasakan dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke jantung. Semua jembatan yang kubangun di kota ini runtuh serentak. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada uang sewa. Dan di rumah… tidak ada lagi pelukan yang menanti.

Matahari tenggelam dengan warna jingga yang menyakitkan, seolah langit sedang memar. Aku berjalan kaki menuju Mong Kok, mengambil kotak beludru di toko perhiasan tua itu. Pemilik toko menyerahkannya dengan senyum hangat, tanpa tahu bahwa benda di dalamnya kini tak lebih dari monumen kegagalan.

Aku berakhir di sebuah halte bus saat hujan turun dengan derasnya. Air jatuh seperti tirai tebal yang mengisolasi aku dari dunia. Bus demi bus datang dan pergi—nomor 102, 112, 970—tapi tak satu pun kunaiki. Aku hanya duduk termenung di bangku besi yang dingin.

Di seberang jalan, seorang pria paruh baya memiringkan payung birunya hingga menempel ke bahu. Ia membiarkan separuh kemejanya gelap terpapar air, sementara lengan kecil anak lelakinya tetap kering di balik genggamannya. Mereka melangkah ritmis, menembus genangan tanpa ragu. Tak jauh dari sana, sepasang kekasih berlindung di bawah satu jaket kulit yang diangkat tinggi-tinggi; sang gadis tertawa kecil saat hidungnya bersentuhan dengan bahu pasangannya, sebuah gestur sederhana yang seolah mampu memadamkan dinginnya badai.

Aku menarik napas, tapi udara yang masuk terasa padat, menyumbat tenggorokanku. Riuh tetesan air yang menghantam atap seng halte mendadak senyap di telingaku, digantikan oleh detak jantungku yang berdentum lambat dan menyakitkan.

Kugenggam erat kotak cincin di saku jaket—benda kecil yang kini terasa seberat bongkahan batu. Kupandangi gedung-gedung pencakar langit yang berpendar di balik tirai hujan; lampu-lampu neon itu tampak seperti permata yang tumpah, cantik tapi tak bisa kusentuh. Aku merasa seperti bayangan yang memudar di tengah hiruk-pikuk Nathan Road. Kota ini terus berdenyut, bus-bus terus melaju, dan orang-orang punya tujuan untuk pulang. Sementara aku, aku hanya sebutir debu yang tersangkut di celah trotoar beton yang dingin ini.

Hong Kong tidak pernah mengenal namaku, dan aku pun tak pernah tahu bagaimana cara mencintai aspalnya tanpa rasa takut. Di sini, di bawah lampu kota yang angkuh, aku hanyalah orang asing yang sedang menunggu keruntuhannya sendiri.

Hujan mereda menjadi gerimis tipis saat aku akhirnya memutuskan untuk pulang.

Di sepanjang jalan, yang kupikirkan hanyalah bagaimana aku memperbaiki hidupku… memperbaiki hubunganku.

Lihat selengkapnya