Aku berdiri di pinggir The Peak, tempat di mana Hong Kong meletakkan seluruh kesombongannya di bawah kakiku. Di depanku, hutan beton mencakar langit, ribuan gedung tinggi yang berdesakan seolah berebut oksigen. Mereka terbelah oleh Victoria Harbour, laut sempit yang berkilau ketakutan di bawah tatapan fajar yang angkuh.
Matahari terbit. Cahayanya jingga keemasan, menyentuh puncak-puncak gedung pencakar langit, perlahan mengubah kota yang gelap menjadi lautan cahaya yang menyilaukan.
Tapi aku tidak merasakannya. Tidak ada keindahan yang meresap ke dalam pori-poriku. Cahaya itu… ia tidak menghangatkanku. Ia hanya terasa tajam, menguliti lapisan pertahananku yang sudah menipis.
Aku duduk di bangku batu yang dingin, membiarkan angin laut yang kencang menampar wajahku. Mataku tertuju pada bus-bus yang tampak seperti mainan kecil di bawah sana, merayap di jalanan yang berliku. Ribuan manusia di dalamnya, bergegas mengejar mimpi, mengejar uang, mengejar kehidupan yang… hancur dalam semalam bagiku.
Kugenggam kotak cincin itu kuat-kuat di saku jaket. Kotak beludru yang kini terasa seberat bongkahan batu. Monumen kegagalanku. Di toko itu, pemiliknya tersenyum hangat, mengukir nama Nala dan Elias dengan penuh harapan. Harapan yang kini membusuk di telapak tanganku.
Waktu terus berjalan, tapi aku terjebak dalam gerak lambat. Matahari naik semakin tinggi, mengubah langit menjadi biru terang yang menyebalkan. Hutan beton di bawah sana semakin berpendar, berteriak tentang kesuksesan dan kemajuan yang… tidak pernah mengenalku.
Hong Kong… kau tidak pernah mencintaiku, batinku pedih. Kau hanya tempat pelarian yang salah.
Depresi ini… ia tidak datang dengan teriakan atau tangisan histeris. Ia datang dengan keheningan yang menyesakkan, seperti kabut tebal yang perlahan menelan jiwaku. Ia merayap dari ujung kaki, mematikan setiap saraf perasaan, meninggalkan kekosongan yang absolut di dadaku.
Aku menatap laut sempit itu. Victoria Harbour. Ia tampak begitu dalam, begitu tenang. Sebuah tempat di mana semua rasa sakit ini bisa berakhir. Satu langkah saja, Elias. Satu langkah menuju kedamaian yang abadi.
Hanya satu langkah…
Aku membayangkan diriku melayang jatuh, menembus hutan beton, lalu tenggelam dalam pelukan laut yang dingin. Tidak akan ada lagi penyesalan, tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi bayangan Nala yang meninggalkanku di tengah flat yang kosong.
Hanya satu langkah…
Aku berdiri, melangkah mendekat ke pagar pembatas. Angin menerpa wajahku semakin kencang, seolah memanggilku untuk bergabung dengannya. Di sakuku, kotak cincin itu bergetar, seolah memohon untuk tidak dibuang.
Untuk apa, Elias? Untuk apa kau bertahan?
Aku tertegun. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku tidak punya apa-apa lagi selain napas yang tersengal.
***
Dentuman bass di klub malam ini terasa seperti palu yang menghantam gendang telingaku, berirama dengan denyut di pelipis yang tak kunjung reda. Lampu strobe warna-warni menyambar-nyambar, menyinari lautan manusia yang bergoyang liar di lantai dansa, tapi aku tetap di sini—terpaku di kursi bar yang tinggi, memeluk gelas wiski kelimaku.
Dunia di sekitarku adalah keriaan yang memuakkan. Aku adalah titik hitam di tengah lukisan neon yang terlalu terang.
Tiba-tiba, seseorang menggeser kursi di sampingku. Aroma parfum mahal yang tajam menusuk penciumanku yang sudah tumpul oleh alkohol. Aku melirik sekilas. Jaket kulit dengan potongan sempurna, jam tangan chronograph yang berkilau di bawah lampu remang-remang, dan gestur tubuh yang penuh percaya diri.
“Elias?”
Suaranya familiar, tapi otakku yang terendam wiski butuh waktu beberapa detik untuk memprosesnya. Aku menyipitkan mata, berusaha menembus kabut mabuk yang menghalangi pandanganku.
“Qiu Qiu?” suaraku parau, nyaris tak terdengar di tengah bisingnya musik EDM.
Ia tersenyum tipis. Qiu Qiu yang berdiri di depanku bukan lagi mahasiswa kurus yang kutinggalkan di asrama dua tahun lalu. Ia tampak seperti pengusaha muda yang baru saja menutup kesepakatan jutaan dolar.
“Aku kira kau sudah pulang ke Taiwan setelah keluar dari kampus,” gumamku, lalu tertawa sumbang. “Gila… lihat dirimu. Pakaian mahal ini… jam ini… Sial, kupikir tadi Jiangxi yang datang mengejekku lagi.”
Qiu Qiu tertawa pelan, suara tawa yang dalam dan tenang. “Jiangxi? Orang kaya sombong itu?” Ia tersenyum masam. “Hanya saja Hong Kong punya cara unik untuk mengubah seseorang jika kau tahu lubang mana yang harus dimasuki.”
Ia memesan minuman yang sama denganku. Kami mulai tenggelam dalam obrolan kawan lama. Namun, seiring gelas yang terus bertambah, tembok pertahananku runtuh. Di depan satu-satunya saksi masa laluku di asrama, aku menumpahkan segalanya.