Ruang sidang di West Kowloon Law Courts terasa lebih dingin daripada lemari pendingin di supermarket Mong Kok. Dinding-dindingnya yang tinggi dan kayu ek yang gelap seolah menghisap setiap partikel oksigen yang tersisa di paru-paruku. Aku duduk di kursi terdakwa, diapit oleh dua petugas polisi yang berdiri tegap seperti patung semen.
Di depanku, seorang pengacara publik yang disediakan pemerintah—seorang pria muda dengan kacamata tebal yang tampak lebih mengantuk dariku—membacakan pembelaan yang terdengar seperti gumaman tak berarti.
“Klien saya hanyalah korban keadaan… dia tidak tahu-menahu tentang isi paket tersebut…”
Kebohongan yang sia-sia. Di meja jaksa, bukti-bukti tersaji dengan angkuh. Tas kulit palsu itu, rekaman CCTV dermaga yang menunjukkan wajahku yang kebingungan, dan fakta bahwa aku tinggal di rumah atap ilegal di Sham Shui Po.
Polisi telah menggeledah rumah atap itu. Hasilnya? Kosong. Qiu Qiu lenyap seperti asap yang tertiup angin laut Kwai Chung. Tidak ada jejak digital, tidak ada kontrak sewa atas namanya, bahkan tanaman-tanaman di rooftop yang kusirami setiap pagi pun dibiarkan mengering dan mati. Polisi hanya menemukan sidik jariku di setiap sudut ruangan. Di mata hukum Hong Kong, Qiu Qiu tidak pernah ada. Hanya ada aku: Elias, si imigran gagal yang beralih menjadi kriminal demi uang sewa.
Satu-satunya barang pribadi yang mereka sita dariku saat penangkapan adalah sebuah ponsel berisi foto-foto masa lalu yang menyakitkan, dan sebuah kotak beludru berisi cincin perak.
“Terdakwa Elias…”
Suara Hakim mengetuk meja, memecah keheningan yang menyesakkan. Aku mendongak, menatap pria tua di balik jubah hitam itu. Matanya tidak menunjukkan kebencian, juga tidak menunjukkan belas kasihan. Baginya, aku hanyalah angka statistik dalam sistem perlindungan kekayaan intelektual Hong Kong yang suci.
“Berdasarkan bukti-bukti yang ada, pengadilan menyatakan Anda bersalah atas kepemilikan dan distribusi barang mewah palsu secara ilegal. Anda dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan denda sebesar 50.000 Dolar Hong Kong.”
Dua tahun.
Angka itu menghantamku, tapi aku tidak bergetar. Aku tidak menangis. Aku bahkan tidak merasa takut. Rasa sakit yang selama ini mencabik-cabik dadaku—soal Nala, soal pekerjaan, soal Ayah—tiba-tiba membeku menjadi sebuah kekosongan yang absolut. Aku sudah mencapai dasar palung terdalam. Tidak ada lagi tempat untuk jatuh.
Aku hanya mengangguk pelan saat petugas menarik lenganku untuk berdiri. Kakiku melangkah dengan mekanis, menyeret rantai imajiner yang kini terasa nyata di pergelangan kakiku.
Penjara Lai Chi Kok menyambutku dengan aroma karbol yang tajam dan derit besi yang beradu.
Mereka membawaku ke sebuah ruangan kecil yang terang benderang. Seorang petugas dengan wajah datar menyalakan mesin cukur. Bzzzzzz… Rambutku, satu-satunya bagian dari diriku yang masih tersisa dari hari-hari di Jakarta, jatuh berguguran ke lantai seperti helaian janji yang diingkari. Dalam hitungan menit, kepalaku terasa dingin dan asing.
Lalu, mereka melemparkan seragam berwarna kusam padaku. Kainnya kasar, berbau apek gudang. Di bagian dada, tertera sebuah nomor dengan tinta hitam yang tebal.
039.
Aku bukan lagi Elias. Aku bukan lagi desainer yang punya mimpi di Hong Kong. Aku adalah 039.
Petugas menggiringku menyusuri lorong panjang dengan sel-sel jeruji besi di sisi kiri dan kanan. Mata-mata liar menatapku dari kegelapan sel, tapi aku tetap menunduk, menatap ujung sepatuku yang kini digantikan oleh sandal plastik murah.
KREEEEKKKK…
Pintu sel itu terbuka dengan derit yang memilukan. Aku didorong masuk ke dalam sebuah kotak beton sempit yang pengap. Hanya ada kasur tipis dan sebuah toilet tanpa sekat di sudut ruangan.
DUM!
Pintu besi itu tertutup. Suara dentumannya bergema di seluruh sel, lalu diikuti oleh keheningan yang lebih mematikan daripada kematian itu sendiri.
Aku duduk di tepi kasur, menatap tembok beton yang dingin. Aku meraba dadaku, mencari rasa sakit itu, tapi yang kutemukan hanyalah kehampaan. Nala benar, aku harus pulang untuk menyelesaikan urusanku dengan Ayah. Tapi sekarang, jangankan pulang, melihat matahari pun aku harus menunggu izin dari balik jeruji.
Di kota yang dulu kupuja sebagai tanah harapan, aku kini terkubur hidup-hidup. Aku tidak hanya gagal menjadi kekasih, kakak, atau desainer. Aku telah gagal menjadi manusia.