Aku pulang sebagai orang asing yang dideportasi, membawa aroma sel tahanan yang seolah telah menyatu dengan sumsum tulangku. Jakarta menyambutku dengan tamparan udara panas yang pekat dan bau knalpot yang akrab, namun rasanya seperti menghirup debu dari makam yang baru digali.
Di antara kerumunan orang di Terminal 3, sosok itu berdiri. Mas Roy. Dia tampak lebih kokoh, lebih dewasa dengan brewok tipis yang membingkai rahangnya, sangat kontras dengan bayanganku tentangnya saat baru menikah. Aku memaksakan sebuah senyum lebar—senyum pertama yang otot wajahku bentuk setelah ribuan hari membeku.
Mas Roy melebarkan tangan. Aku menghambur ke pelukannya. Hangat. Sebuah kehangatan yang hampir membuat pertahananku runtuh seketika.
“Lihat dirimu, El… kamu sudah dewasa sekarang,” bisiknya setelah melepas pelukan, matanya menelusuri wajahku yang kuyu.
“Mas juga,” suaraku serak. “Mas benar-benar sudah jadi bapak-bapak sekarang.”
Ia tertawa kecil, tawa yang membawa sedikit oksigen ke dadaku yang sesak. “Ya, anak dua, El. Hidup memang secepat itu.”
Ada jeda di antara kami. Sebuah keheningan di mana rindu mencoba mengisi celah-celah pengkhianatan waktu. Mas Roy menatapku lebih dalam, lalu tangannya terulur, mengusap kepala cepakku yang kasar. Tatapannya berubah lembut, seolah ia bisa membaca setiap bilur luka yang kusembunyikan di balik jaket kumalku.
“Bagaimana kabarmu, El?” tanyanya pelan. Terlalu pelan.
Aku menahan napas sejenak, membiarkan oksigen Jakarta yang kotor memenuhi paru-paruku. Aku mengangguk. "Baik, Mas. Aku baik-baik saja."
Kebohongan itu meluncur begitu lancar, namun kami berdua tahu itu hanya bungkus kado untuk kotak yang kosong.
Kami meninggalkan bandara. Di dalam mobil, aku menurunkan kaca jendela, membiarkan angin panas menerpa wajahku. Jakarta telah bersalin rupa; gedung-gedung baru menjulang seperti nisan-nisan modern, dan jalanan yang dulu kuhafal kini terasa asing.
Mas Roy banyak bicara, mencoba memecah kesunyian dengan cerita tentang keluarganya. Tentang dua anaknya, Radit dan Rajata, yang katanya sangat nakal. “Mereka sering bertengkar dan menghabiskan jajanan di toko, El. Persis kelakuanmu dulu kalau lagi manja sama Om Liam.”
Mendengar nama itu, jantungku berdenyut nyeri. Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya sanggup melontarkan pertanyaan yang sedari tadi menyumbat tenggorokanku.
“Ayah… bagaimana dia meninggal, Mas?”
Suasana di dalam mobil mendadak berubah. Mas Roy mematikan radio. Nadanya memberat, matanya lurus menatap kemacetan di depan.
“Om Liam punya penyakit jantung, El. Beberapa tahun setelah kamu pergi, kondisinya drop. Sempat membaik, bahkan dia berhasil menormalkan keuangannya lagi. Karirnya bangkit. Tapi jantungnya… jantungnya tidak pernah benar-benar pulih.”
Aku mengernyit bingung. “Penyakit jantung?” ulangku.
Ia menarik napas panjang. “Dua bulan lalu, dia selesai dalam perjuangannya. Dia sudah capek, El. Sekarang dia sudah tenang, dimakamkan tepat di samping ibumu.”
“Ayah tidak punya riwayat sakit jantung sebelumnya,” ucapku landai.
Mas Roy kembali menoleh sekilas. Ada sesuatu dari sorot matanya yang ingin menghakimiku. “Sejak kamu pergi, Om Liam menjadi perokok.”
“Perokok?” Aku terlonjak. Benar-benar kaget. “Tapi dia benci rokok.”
Mas Roy mengangguk sambil memutar kemudi. “Semua orang berubah, El. Ingat pertama kali aku mengajarimu merokok?”
Aku menunduk, mengingat-ingat. “Merokok dapat meredakan stres?”
“Mungkin Om Liam sedang stres… atau mungkin dia merindukanmu, El.” Mas Roy tak lagi menoleh, dia terus menatap jalan. “Dia menjadi perokok parah. Lalu suatu hari pingsan, dan dokter menyimpulkan itu adalah efek merokok.”