Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #25

Harga untuk Sebuah Rumah

Sore itu, aku berdiri mematung di depan pintu kamarku sendiri. Gagang pintu logam itu terasa dingin, seolah menolak sentuhanku. Aku tidak akan kaget jika saat kubuka nanti, ruangan itu sudah berubah menjadi gudang pengap berisi kardus-kardus tak terpakai, atau mungkin barang-barang lamaku sudah dibuang ke tempat sampah. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian, lalu menggoyangkan gagang pintu itu.

Klik. Terkunci.

Aku tertegun sejenak, lalu bahuku merosot. Penolakan fisik dari sebuah pintu kayu terasa lebih jujur daripada basa-basi Mas Roy. Aku berbalik, melangkah menuju kamar Trista. Aku berdiri cukup lama di depan pintunya yang tertutup rapat, tanganku terangkat ingin mengetuk, namun keraguan menahannya di udara. Apa yang harus kukatakan? “Maaf aku telat sewindu?” Kedengarannya menjijikkan.

Aku menurunkan tangan dan berjalan menjauh, kakiku membawaku ke ujung lorong, ke kamar utama. Kamar Ayah.

Pintu itu tidak terkunci. Saat aku mendorongnya perlahan, bau kayu tua dan sisa-sisa aroma minyak kayu putih menyeruak, memicu memori yang membuat dadaku sesak. Kamar itu masih sangat rapi, meski sprei kasurnya sudah hilang, menyisakan kasur polos yang tampak telanjang. Mataku tertuju pada dinding. Foto pernikahan Ibu dan Ayah masih tergantung di sana.

Wajah Ibu yang tersenyum cerah dalam balutan gaun putih tampak begitu abadi. Aku menatapnya lama, merasakan rindu yang perih menyerang ulu hatiku. Ibu tidak pernah melihatku menjadi narapidana. Ibu tidak pernah tahu anaknya pulang sebagai pesakitan. Aku segera keluar dan menutup pintu itu rapat-rapat, seolah takut debu dosa yang kubawa akan mengotori kenangan di dalamnya.

Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang keluarga, membiarkan diriku tenggelam dalam kegelapan rumah yang asing ini.

Tengah malam, aku terbangun oleh suara denting kaca yang halus dari arah dapur. Aku beranjak pelan, langkahku tanpa suara karena terbiasa bergerak dalam sunyi di sel penjara. Di sana, aku melihatnya. Trista duduk di meja makan dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi cahaya remang lampu jalan yang masuk dari ventilasi. Di depannya ada segelas air putih.

Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang tampak ringkih. Pandangan Trista kosong, lurus menatap tembok, seolah dia sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak bisa kulihat. Keheningan di antara kami begitu berat, hingga aku harus memaksa satu langkah maju untuk memecahnya.

“Sedang apa kau?” tanyaku pelan, hampir berbisik.

Trista hanya menoleh sesaat. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan dingin. “Ambil minum,” jawabnya singkat, tanpa nada.

Ia langsung bangkit, kursi kayu itu berderit pelan. Tanpa menyentuh gelasnya yang masih terisi hampir penuh, ia melangkah hendak kembali ke kamar.

“Kamarku terkunci,” kataku, menahannya dengan kalimat yang terdengar bodoh di telingaku sendiri.

Trista berhenti sejenak, menoleh tanpa benar-benar menatap mataku. “Papa yang menguncinya sejak dulu,” ucapnya dingin. “Dia tidak pernah mengizinkan siapa pun masuk ke sana. Termasuk aku.”

Lihat selengkapnya