Pagi itu, aroma bawang putih goreng dan jahe memenuhi dapur—aroma masakan Mandarin sederhana yang kupelajari dari Junjie. Tanganku masih kaku, tapi aku memaksa diri bergerak. Di atas meja, dua piring nasi goreng sewarna emas tersaji, lengkap dengan telur mata sapi yang pinggirannya garing.
Suara langkah kaki mendekat. Trista muncul, mengenakan seragam olahraga lengan panjang. Meski cuaca Jakarta mulai menyengat, dia selalu membungkus dirinya rapat-rapat.
“Makanlah dulu,” seruku tanpa menoleh, sibuk menata sendok.
Trista berhenti tepat di ambang pintu dapur. Matanya menatap meja makan dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci dan asing. “Aku tidak biasa sarapan berat. Aku lebih suka roti dari toko Om Hadi,” ucapnya dingin.
Aku berbalik, menyandarkan punggung di meja. “Pak Burhan menyuruhku memastikanmu makan. Duduklah.”
Trista mengambil satu langkah tegas ke arahku. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Dengar,” desisnya, “Tidak perlu repot-repot berlagak menjagaku hanya demi mendapatkan rumah ini. Karena rumah ini tidak akan pernah jadi milikmu.”
Dia berputar, hendak melangkah pergi begitu saja.
Kring!
Aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi. Di jemariku, sebuah kunci motor dengan gantungan stroberi berbahan kaca beradu, menimbulkan bunyi denting yang nyaring dan tajam. Mendengar suara itu, langkah Trista membeku. Dia berbalik pelan, matanya tertuju pada kunci di tanganku.
“Duduk,” kataku dengan nada rendah yang menuntut. Bukan sebuah ajakan, tapi ancaman yang tenang.
Trista menatapku tajam, napasnya memburu karena marah, tapi ia tahu dia kalah telak. Tanpa kunci itu, dia tak bisa pergi ke mana pun. Dengan hentakan kaki yang kasar, ia menyeret kursi dan duduk di meja makan. Ia mulai menyuap nasi goreng itu dengan gerakan mekanis.
Aku tidak mengambil nasi untuk diriku sendiri. Aku hanya duduk di seberangnya, menopang dagu, memperhatikan setiap gerakannya. “Kenapa pakai seragam olahraga? Ujian sudah dekat. Mata pelajaran tak penting belum dibatalkan?”
Trista melirikku dengan sudut mata yang pedas. “Kamu jadi bawel,” gumamnya sinis.
Aku terdiam. Kami terjebak dalam keheningan yang lama, hanya suara denting sendok Trista yang beradu dengan piring. Aku terus menatapnya, mencari celah di balik wajah suram itu.
“Aku kembali mendengar suara dari dapur tadi malam,” ucapku pelan. “Apa kamu berjalan sambil tidur?”
Gerakan tangan Trista terhenti di udara. Matanya menunduk, menatap butiran nasi di piringnya. Sejenak, kulihat bahunya menegang. “Ambil air,” jawabnya pendek, suaranya nyaris hilang. Ia kembali makan dengan terburu-buru, seolah ingin segera melarikan diri dari pertanyaanku.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Mas Roy masuk dengan wajah ceria, membawa dua bungkus makanan yang aromanya langsung menyeruak.
“Wah, masakan Mandarin? Hebat kamu, El!” puji Mas Roy saat melihat meja makan. Ia menaruh bawaannya di meja. “Ini, aku bawakan tambahan lauk dari rumah. Ibu semangat sekali dengar kamu pulang.”
Ting!
Trista menaruh sendoknya dengan keras di atas piring yang sudah bersih. Ia menatapku tajam sejenak, lalu berkata singkat, “Aku sudah selesai.”
Aku tidak membalas tatapannya. Kutaruh kunci motor dengan gantungan stroberi itu di atas meja. Trista langsung menyambarnya secepat kilat.
“Ingat, Tris,” Mas Roy mewanti-wanti dengan nada serius saat Trista hendak melangkah keluar. “Jangan berani-berani bolos lagi. Kalau wali kelasmu telepon Mas Roy lagi bilang kamu hilang dari sekolah, habislah kamu. Mengerti?”
Trista tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan, keluar dari rumah, disusul suara deru motor yang menjauh dengan kasar.
Mas Roy menghela napas, menepuk bahuku yang masih kaku. “Sabar, El. Dia cuma perlu waktu.”
Aku menatap piring kosong yang ditinggalkan Trista. Aku tahu, bukan hanya nasi yang dia telan dengan terpaksa, tapi juga keberadaanku di rumah ini.
“Aku juga butuh waktu,” gumamku sembari beranjak ke teras.
Mas Roy mengikuti.
Halaman terasa hangat, namun teras depan rumah ini setidaknya memberikan sedikit embusan angin yang membawa debu jalanan. Mas Roy duduk di kursi rotan, tangannya bergerak lincah menyulut sebatang rokok. Begitu asap pertama mengepul, ia mendesah panjang seolah baru saja melepaskan beban satu ton di pundaknya.
“Ibu dan istriku benar-benar cerewet sekarang. Sejak kematian Om Liam, mereka melarangku menyentuh benda ini,” keluhnya sambil menatap batang rokok di jarinya. Ia menyodorkan bungkusnya padaku. “Mau?”
Aku menatap batang-batang tembakau itu, lalu menggeleng pelan. “Tidak, Mas.”
Mas Roy menarik kembali tangannya, matanya menatapku menyelidik, tajam di balik kepulan asap. “Kenapa? Kamu juga takut karena apa yang terjadi pada Ayahmu?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk, menatap retakan kecil di ubin teras. Halaman rumah yang biasanya terdengar ramai oleh celoteh anak-anak tetangga, sore ini terasa sangat hening. Seolah alam pun ingin mendengar apa yang akan kukatakan.
Mas Roy mengembuskan asap pertamanya ke udara, lalu bertanya dengan suara yang jauh lebih dalam dari biasanya. “Sebenarnya… ada apa, El? Apa yang terjadi di Hong Kong?”