Suara hujan di luar seolah tenggelam oleh deru napas Trista yang memburu. Air menetes dari ujung seragamnya, menciptakan genangan yang terus meluas di lantai.
“Aku kehujanan, akan kubersihkan lantainya nanti,” gumam Trista. Tangannya memeras erat ujung seragamnya hingga buku jarinya memutih. Jaketnya naik-turun tak stabil, dan sorot matanya yang memerah itu gemetar hebat.
Aku tahu getaran itu. Aku tahu persis rasanya saat seluruh dunia terasa menekan dadamu hingga kau ingin meledak. Trista melangkah, mencoba melewatiku seperti bayangan.
“Kenapa?” suaraku menghentikan langkahnya. Aku berbalik. “Kenapa kau hujan-hujanan, Tris?”
“Apa maksudmu?” Ia menoleh, matanya liar.
"Kenapa kau membiarkan dirimu basah kuyup? Apa yang coba kau sembunyikan di bawah air itu? Air mata? Atau sesuatu yang lain?” tuntutku, suaraku mulai meninggi.
Trista terdiam. Wajahnya yang pucat kian memerah. “Kau… ingin jawaban apa?”
Aku tak sempat menjawab. Trista maju satu langkah, menekan setiap kata dengan kebencian yang murni. “Sudah kubilang, jangan pura-pura peduli. Rumah ini tidak akan jadi milikmu hanya dengan akting kakak teladan ini!”
Ia berbalik, melangkah cepat menuju ruang keluarga. Jejak air di lantai semakin panjang, seperti luka yang diseret. Aku mengejarnya, amarah dan rasa iba bergejolak menjadi satu. “Kenapa? Mengapa kau begitu penuh kebencian, Tris!”
Trista berbalik lagi. Kali ini dia berteriak, suaranya melengking menyakitkan. “Kenapa? Kau masih tanya kenapa?! Kau selalu menganggapku tidak ada! Kau menyalahkanku atas segala yang menimpamu, lalu pergi begitu saja! Kau membuat Ayah hancur karena khawatir, dan sekarang kau pulang setelah dia meninggal dan tiba-tiba bersikap seperti kakak? Kau pikir apa yang sedang kau lakukan, bajingan!”
Aku tercekat. Frustrasi di matanya, kegugupannya setiap malam, pandangan kosongnya… semuanya kini terbaca jelas. Dia sedang meniru jalanku. Dia sedang duduk di ruangan dan semua orang menghakiminya tanpa ada pertolongan, seperti aku dulu.
Tanpa pikir panjang, aku melangkah maju dan menyambar tangannya. Trista meronta, tapi aku lebih kuat. Aku menyibak lengan seragam olahraganya yang basah. Di pergelangan tangannya tak ada apa-apa, tapi saat aku membalikkan punggung lengannya ke atas, duniaku runtuh.
Di sana, di kulit yang seharusnya mulus itu, berjajar sayatan-sayatan horor. Cukup banyak. Dua di antaranya masih merah meradang, seolah baru saja dibuat semalam. Dia menyakiti dirinya sendiri. Persis seperti yang kulakukan di saat remaja dulu.
“Apa yang kau lakukan?!” teriak Trista sambil menarik tangannya kasar. Ia mundur hingga menabrak bifet kayu di ruang tengah.
Aku menatapnya dalam. “Tenanglah… kita perlu bicara. Duduklah dulu.”
“AAAAGGGHHH!!!” Trista menjerit. Dengan satu gerakan kalap, ia menyapu jejeran gelas kaca di atas bifet.
Prannggg!
Suara pecahan itu menggelegar, membangkitkan trauma masa kecilku yang terkubur dalam.
“AKU TIDAK MAU DUDUK!”
Ingatan tentang malam kelahiran Trista mendadak menyerbu; saat aku sendirian di rumah, memecahkan gelas karena ketakutan menanti kabar Ibu, dan berakhir meringkuk di pojok dapur. Dadaku naik-turun, napas mulai tersendat-sendat. Mataku terpaku pada pecahan kaca yang berserakan di lantai, mengkilap tajam di bawah lampu.
“Jangan suruh aku duduk! Kau tidak berhak memerintahku! Kau bukan Papa!” Trista benar-benar meledak. Urat lehernya menonjol. “Lihat aku, bajingan! Lihat!”
Aku mendongak, menatap matanya yang basah oleh air mata dan hujan.
“Kau…” kalimatnya terhenti. Lalu, “Jangan lihat aku dengan tatapan itu! Seolah kau mengerti!” suaranya serak, parau oleh tangis. “Kau tak tahu rasanya! Kau tak tahu rasanya hidup sebagai aku! Rasanya aku sedang ditikam setiap pagi!”
“Kau yang pergi lebih dulu!” pekiknya lagi, suaranya pecah. “Kau dan Papa meninggalkanku! Kaulah awal dari segalanya. Kaulah alasan kenapa keluarga ini begini! Kau yang pertama pergi! Kau, Kak!”
Untuk pertama kalinya, dia memanggilku ‘Kak’, namun panggilan itu terasa seperti pisau panas yang ditusukkan ke telingaku. Trista mulai meraung, tangisnya tak lagi tertahan.
“Sekarang… kau tiba-tiba masuk, kau datang dan bersikap seperti pahlawan. Seolah kau selalu ada buatku. Kau sadar? Kaulah yang membunuhku untuk pertama kali.”
Air mataku jatuh. Ketakutanku akan pecahan gelas itu kalah oleh rasa sakit yang luar biasa melihat adikku hancur. Kukira akulah korbannya. Kukira dialah pelakunya. Tapi sekarang… itu terbalik.
Trista menurunkan nadanya, suaranya parau, melangkah mundur perlahan.
“Jangan khawatirkan aku lagi. Pergilah…”
Aku ingin bicara, tapi tak ada kata yang cukup luas untuk menampung duka ini. Kami berdiri di tengah kekacauan itu. Pecahan kaca berserakan seperti puing-puing otak yang patah. Napas Trista masih terpecah-pecah, hingga akhirnya lututnya tak lagi sanggup menopang tubuh yang terlalu lama pura-pura kuat.
Tubuhnya berguncang, lalu goyah. Dia jatuh. Tak anggun. Tak pelan. Dia runtuh seperti bangunan tua yang akhirnya menyerah pada waktu. Wajahnya tertunduk, air matanya jatuh ke lantai yang dingin.
“Aku lelah, Kak…” Suara itu keluar seperti serpih kaca. Patah. “Aku sudah mencoba… sungguh-sungguh mencoba. Tapi…”
Trista tak sanggup melanjutkan. Dia menangis tersedu-sedu, meringkuk di lantai.
Aku terdiam. Di depanku bukan lagi Trista yang menyebalkan. Di depanku adalah Elias delapan tahun lalu. Seseorang yang menjerit meminta pertolongan tapi tak ada yang mendengar. Namun di sudut hatiku, masih ada sisa-sisa benci—ingatan bagaimana kelahirannya merenggut Ibu, bagaimana Ayah selalu memujanya sementara aku diabaikan, bagaimana dia mengambil ular tanggaku. Semua bersatu membentuk badai.