Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #28

Bahasa Cinta

Klik.

Aku memutar kenop kompor, mematikan api yang baru saja mematangkan tumis ayam madu—resep lain dari Junjie yang kuharap bisa membangkitkan selera makan Trista. Sambil menjepit ponsel di antara bahu dan telinga, aku memindahkan potongan ayam itu ke atas piring porselen putih dengan satu tangan.

“Sudah kukirim nomor telepon wali kelasnya lewat chat-room,” suara Mas Roy terdengar dari seberang sana, sedikit teredam suara bising jalanan. “Tapi, El… kau yakin akan meliburkan Trista? Ujiannya tinggal menghitung hari.”

Aku terdiam sejenak, menatap uap panas yang membubung dari piring. “Iya, Mas. Dia agak…” Kalimatku menggantung di udara. Aku ingin mengatakan 'dia sedang hancur', atau 'mentalnya tidak stabil', tapi lidahku mendadak kelu. Bahkan kepada Mas Roy yang mungkin sudah bisa menebak segalanya, aku merasa perlu melindungi privasi luka Trista. “Dia agak tidak enak badan. Lagipula, ini sudah pekan tenang, bukan? Tidak banyak materi lagi di kelas.”

“Baiklah, El. Kau walinya sekarang. Aku ikut keputusanmu saja,” balas Mas Roy, suaranya melunak. “Ngomong-ngomong, kau mau menemaniku cari dasi anakku nanti sore? Dia menghilangkannya lagi untuk ketiga kalinya bulan ini. Gurunya sudah mengamuk, apalagi ibunya. Aku butuh saksi kalau aku benar-benar membelinya agar tidak dikira mampir ke tempat lain.”

Aku tertawa singkat, tawa pertama yang terasa tulus hari ini. “Tentu, Mas. Kabari saja jam berapa.”

Telepon ditutup. Hampir bersamaan dengan itu, suara langkah kaki pelan terdengar. Trista muncul, masih setia dengan kaus lengan panjangnya yang membungkus rapat luka-lukanya. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih pucat tapi terlihat lebih ada dibanding kemarin.

Aku tersenyum tipis padanya, meletakkan piring ayam itu di tengah meja. “Makanlah selagi hangat. Aku baru saja mematikan kompornya.”

Trista menarik kursi, duduk dalam diam. Ia menatap potongan ayam madu itu cukup lama sebelum akhirnya mencentong sedikit nasi ke piringnya. Gerakannya ragu, seolah ia sedang menimbang apakah perutnya bisa menerima makanan itu atau tidak.

Aku memperhatikannya dari sudut mata sambil mencuci wajan di bak cuci piring. “Tris,” panggilku tanpa menoleh. “Mulai besok, sebaiknya kau libur sekolah dulu.”

Gerakan sendoknya terhenti. “Maksudnya?”

“Kau butuh istirahat total. Pekan tenang ini lebih baik kau gunakan untuk menenangkan dirimu di rumah. Aku akan urus izinnya ke sekolah.”

Trista mendongak, matanya yang kemerahan menatapku tajam. “Tidak bisa. Aku harus mengikuti ujian minggu depan.”

Aku berbalik, menyandarkan punggung di tepi bak cuci piring, melipat tangan di dada. “Kesehatanmu lebih penting daripada satu minggu ujian, Tris. Kau bisa ikut ujian susulan nanti setelah keadaanmu membaik.”

“Keadaanku baik-baik saja!” suaranya meninggi satu oktav. “Aku tidak mau ketinggalan. Aku sudah belajar keras untuk ini. Jangan memutuskannya secara sepihak seolah aku ini anak kecil.”

“Aku walimu!” balasku, mencoba menahan nada suaraku agar tidak meledak, meski ketegangan mulai merayap di antara kami. “Ujian itu hanya akan menambah beban di kepalamu. Aku tidak mau kau jatuh lagi.”

“Justru kalau aku di rumah terus, aku akan gila!” Trista berdiri, kursinya berderit keras di lantai. Napasnya mulai tak beraturan. “Aku ingin merasa normal! Ujian itu membuatku merasa… setidaknya aku punya tujuan. Tolong. Jangan ambil itu dariku.”

Ia menatapku dengan tatapan memohon yang menghancurkan hatiku. Sorot matanya bukan lagi kemarahan, tapi ketakutan akan kehilangan satu-satunya rutinitas yang membuatnya tetap merasa hidup.

Aku memejamkan mata, menghela napas panjang yang terasa panas. Menang darinya dalam debat ini akan terasa seperti kekalahan besar bagiku. “Baiklah,” bisikku akhirnya. “Kau boleh ikut ujian. Tapi dengan satu syarat, aku akan mengantar dan menjemputmu. Dan selama itu kau tidak boleh sendirian.”

Lihat selengkapnya