Aku Berharap Kau Tidak Pernah Lahir

Ulat Bulu
Chapter #29

Bahasa Musik

“El! Apoteknya bukan di seberang jalan. Itu ada di sana,” ujar Mas Roy.

“Kak? Kak El?” suara Trista memanggil, tapi jiwaku masih tertinggal di seberang sana, menatap wanita yang pernah menjadi segalanya bagiku, yang kini tampak begitu asing dalam pelukan orang lain.

Aku akhirnya menoleh. Trista dan Mas Roy sudah melangkah, terburu-buru.

Aku kembali menoleh ke seberang, seolah ingin memastikan bahwa mataku tidak sedang mengkhianatiku. Di tengah lautan manusia yang mulai bergerak gelisah menanti giliran melangkah, mata itu bertemu denganku.

Nala mematung. Tawa yang tadi menghiasi bibirnya lenyap seketika, digantikan oleh gurat keterkejutan yang amat dalam. Tangannya yang melingkar di lengan pria itu mengendur, namun tidak lepas. Pandangan kami terkunci—sebuah garis lurus tak kasat mata yang menarik kembali ratusan malam dingin di Hong Kong, janji-janji yang membusuk, dan aroma hujan di flat kecil kami dulu.

Waktu seolah melambat, membiarkan kesunyian yang memekakkan telinga merambat di antara kami, meski klakson kendaraan berteriak di sekeliling. Aku bisa melihat bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin memanggil namaku, namun ia tertahan oleh kenyataan yang berdiri di sampingnya.

Klik.

Lampu pejalan kaki berubah hijau.

Lautan manusia mulai tumpah ke aspal. Pria di samping Nala tersenyum kecil, lalu menggandeng tangannya dengan protektif, menuntunnya menyeberang ke arahku. Nala melangkah mengikuti pria itu, namun matanya tidak pernah lepas dariku. Ia semakin dekat. Setiap langkahnya adalah dentuman di dadaku.

Sepuluh meter. Lima meter.

“El!” Suara Mas Roy memecah mantra itu.

Aku menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sangat berat hingga ke ulu hati. Aku menatap Nala untuk terakhir kalinya—menatap wanita yang pernah menjadi alasanku untuk hidup, dan kini menjadi alasanku untuk benar-benar pulang. Di matanya, aku melihat bayangan pria yang pernah ia cintai, namun di senyum pria yang menggandengnya, aku melihat masa depannya yang tak lagi melibatkan aku.

Aku tersenyum tipis. Bukan senyum sinis, melainkan senyum yang melepaskan. Senyum yang mengatakan bahwa aku ikut bahagia dia tidak lagi menangis karena pecundang sepertiku.

Aku tidak menunggu Nala sampai ke titik di mana kami harus bersinggungan bahu. Sebelum aroma parfumnya sempat menyentuh inderaku, aku memutar tumit. Aku membelakanginya, melangkah mantap menyusul Trista dan Mas Roy yang sudah menanti di depan apotek.

Aku membiarkan sosok Nala hilang di balik punggungku, terkubur bersama keramaian kota dan deru knalpot yang bising. Aku tidak lagi lari. Aku hanya sedang berjalan pulang ke tempat yang benar.

***

Cahaya jingga keemasan membasuh kursi taman tempat kami duduk. Awan-awan tipis berarak santai di kaki langit, memberi kesan damai yang kontras dengan denyut perih di telapak tangan Trista. Di sudut lain, beberapa meter dari kami, Mas Roy sedang sibuk mondar-mandir sambil menempelkan ponsel di telinga, beradu argumen dengan istrinya yang suaranya sesekali terdengar melengking kecil.

Aku menarik gulungan perban putih, melilitnya dengan saksama di telapak tangan Trista. Gerakanku terhenti sejenak saat ujung perban itu menyentuh batas pergelangan tangannya. Di sana, sisa sayatan itu mengintip—garis-garis trauma yang masih tampak nyata. Tanpa banyak bicara, aku menarik perban itu lebih tinggi, menggulungnya lebih jauh ke atas lengan hingga seluruh luka itu tersembunyi di balik kain putih yang bersih.

“Tris,” panggilku tanpa mendongak, “apa ada tempat yang ingin sekali kau tuju?”

Trista menatapku dengan kening berkerut. “Maksudmu? Pergi jauh… seperti dirimu pergi ke Hong Kong?”

Aku mengangguk kecil, merapikan simpul perban.

Trista terdiam cukup lama. Ia melemparkan pandangannya ke arah air mancur yang mulai menyala di tengah taman. Ia mengangkat kedua bahunya pelan. “Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Meski… kadang rasanya memang ingin pergi ke mana saja yang sangat jauh dari sini.”

Aku mengunci perbannya dengan klip besi, lalu menepuk punggung tangannya pelan. Aku mencoba memasang nada bicara yang lebih riang, berharap bisa menariknya keluar dari lubang kelabu itu.

“Ayolah, pasti ada satu tempat di dunia ini yang ingin kau lihat.”

Trista tampak berpikir keras. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu bergumam pelan, “Selandia Baru.”

“Selandia Baru?” aku mengulang, agak terkejut dengan pilihannya.

“Katanya di sana ada seekor penguin yang pernah tersesat dan berenang sangat jauh dari Antartika,” ucapnya dengan suara lirih, seolah sedang menceritakan rahasia besar. “Dia sampai di sana sendirian, melewati samudra yang luas, seolah… seolah dia sedang mencoba menemukan hidupnya yang baru.”

Aku tersenyum tipis, meski dahi ini sedikit berkerut heran. “Penguin? Memangnya ada penguin di Selandia Baru?”

“Sudah selesai?” Suara Mas Roy memotong percakapan kami. Ia memasukkan ponsel ke saku dengan wajah sumringah. “Istri dan anak-anakku sedang menginap di rumah mertua malam ini. Kita bebas! Jadi, kita mau ke mana lagi?”

Lihat selengkapnya