Sinar matahari pagi menyelinap melalui kaca depan mobil, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat hari ini. Di sampingku, Trista duduk dengan tenang. Tidak ada lagi tudung sweter yang menutupi kepalanya; ia membiarkan wajahnya terpapar cahaya, meski guratan lelah di bawah matanya belum sepenuhnya hilang.
Ia sesekali melirikku, memerhatikan penampilanku dari ujung kepala hingga dada. “Kenapa rapi sekali? Pakai batik segala,” tanyanya, memecah keheningan yang nyaman di antara kami.
Aku membetulkan letak kerah kemeja batik sogan yang kupinjam dari lemari Ayah, satu-satunya pakaian formal yang muat di tubuhku. “Ada acara yang harus kudatangi nnati,” jawabku sambil tetap fokus pada jalanan. “Kau fokus saja pada ujian terakhirmu. Jangan pikirkan yang lain.”
Aku menoleh sejenak saat lampu merah, menatapnya lurus.
“Tenang saja. Sebelum bel pulang berbunyi, aku sudah akan berdiri di depan gerbang menunggumu.”
Trista mendengus kecil, sebuah suara yang terdengar hampir seperti tawa. “Aku bukan anak SD. Aku bisa pulang sendiri, aku tahu jalannya.”
Aku menghela napas panjang, sedikit mendesah. “Kita sudah setuju soal ini, Tris. Tidak ada debat.”
Trista terdiam, lalu mengangguk pelan. Ia tidak lagi membantah, seolah ia mulai menerima bahwa memiliki seseorang yang mengkhawatirkannya bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah kemewahan yang baru ia miliki kembali.
Mobil melambat saat kami mendekati gerbang sekolah. Suasana riuh dengan deru motor dan mobil orang tua murid lainnya yang juga mengantarkan anak-anak mereka. Aku menghentikan mobil tepat di depan gerbang besar yang tampak kokoh itu.
Trista membuka pintu, bersiap keluar. Namun, sebelum kakinya menyentuh aspal, aku memanggilnya.
“Trista!”
Ia menoleh, satu tangannya memegang pintu. “Apa lagi?”
“Alat tulis? Kartu ujian? Papan jalan? Semua sudah masuk?” tanyaku memastikan, rasa cemas wali murid tiba-tiba menyerangku tanpa ampun.
Trista memutar bola matanya, tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya. “Semua sudah ada di tas. Aman.”
Ia keluar dari mobil, menyampirkan tas ranselnya ke bahu. Sebelum melangkah masuk, ia menyempatkan diri berbalik dan melambaikan tangan—sebuah gestur sederhana yang dulu mustahil ia lakukan. Aku membalas lambaiannya dengan anggukan mantap.
Aku mematung di balik kemudi selama beberapa saat, memerhatikan punggungnya yang mulai menjauh, perlahan tertelan oleh kerumunan siswa berseragam putih-abu-abu lainnya. Ia tampak kecil di antara massa itu, namun langkahnya terlihat lebih tegak.
Setelah sosoknya benar-benar hilang di balik gerbang, aku menghela napas berat, memutar kemudi, dan membelokkan mobil menuju tujuan utamaku hari ini. Sebuah tempat yang harus kudatangi untuk merebut apa yang seharusnya jadi milikku.
***
Aku mematikan mesin mobil, namun jemariku masih mencengkeram kemudi. Dari balik kaca depan, aku menatap pintu gedung yang kini dikepung keramaian. Papan bunga ucapan selamat berderet rapi, membentuk lorong berwarna-warni yang menyambut tamu.
Mataku menangkap sosok Kenta. Ia tampak berbeda dalam balutan batik, sedang bersenda gurau dengan beberapa teman SMA kami yang wajahnya mulai samar di ingatanku. Lalu, pandanganku beralih pada pria itu—pria dari Surabaya. Ia mengenakan setelan jas yang terlalu sempurna, mondar-mandir sambil bicara di telepon dengan raut panik, seolah sedang memastikan seluruh dunia tunduk pada hari besarnya. Hingga akhirnya, ia melangkah masuk dan pelataran gedung perlahan sepi.
Aku keluar dari mobil. Setiap langkah menuju pintu masuk terasa seperti menyeret beban berton-ton. Gedung itu dihiasi begitu indah; aku menaiki tangga yang pegangannya dibalut ronce bunga melati yang harumnya menyesakkan dada.
Sesampainya di depan aula, sunyi menyambutku. Pertanda acara akan atau sudah dimulai. Langkahku terhenti di depan sebuah bingkai foto raksasa. Di sana, Nala dan prianya berpose dengan busana adat Jawa. Mereka tampak serasi, tampak... benar. Aku termenung, merasakan gelombang kekonyolan menghantamku. Untuk apa aku di sini?
Aku berbalik, memutuskan untuk pergi sebelum luka ini berdarah lebih dalam. Namun, baru satu langkah, sebuah suara yang sangat kukenal memanggil namaku.
“Elias?”
Aku berbalik dan seketika membeku. Nala berdiri di sana. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang mengembang megah—persis seperti gaun yang dulu sering kupandangi di balik etalase butik di Hong Kong saat aku tak punya apa-apa.
Perlahan aku mendekat. Tanganku merosot ke dalam saku kemeja batik, menyentuh kotak beludru berisi cincin yang pernah kubeli dengan keringat dan darah.
“Kau tampak cantik, Nala,” ujarku, suaraku parau.
Nala tersenyum dalam, matanya berkaca-kaca. “Akhirnya aku menemukan tempat untuk pulang, El. Dan kau... kau juga sudah pulang sekarang.”
Aku mengecap rasa pahit di pangkal lidah. “Meski karena terpaksa, tapi aku berhasil pulang.”
Nala mengernyit. “Terpaksa?”