Aku Bermimpi Gigiku Patah

Heren setun
Chapter #1

Memutuskan Hubungan Dengan Keluarga

Karena Anwar bukan laki-laki yang macho dan tangguh seperti bintang film. Paling dekat misalkan, istrinya membandingkan dirinya dengan tetangga yang mampu mengangkat gelondongan kayu sendirian. Padahal Anwar sebenarnya, tidak perlu mengangkat gelondongan kayu untuk menghasilkan uang dan memberi makan anak istrinya. Seperti malam kemarin ketika Anwar bertengkar dengan istrinya hanya karena lampu kamar mandi mati dan, Anwar maupun istrinya tidak berani memanjat tangga demi mengganti lampu itu. Malam itu, Anwar mendapati istrinya mengeluarkan suara yang amat tinggi dan, berisi penghinaan yang sangat durhaka terhadap suami, baginya.

"Dasar kamu bencong! Aku sudah menikahi si bencong yang tidak berguna!"

Begitu kata-kata berhasil menggungah hati dan pikiran Anwar secara radikal. Malam ini bersama anak laki-lakinya yang masih berusia 2 tahun dan, Anwar bahkan tidak tahu persis apa anaknya masih menyusu atau tidak, mereka menaiki kapal besar yang akan membantu mereka menyebrangi lautan. Istrinya, masih tertidur dan tidak akan ada yang tahu bagaimana kabarnya setelah Anwar dan anaknya pergi.

Ini kali pertama baginya menginjakkan kaki di atas laut untuk membuat siapa pun, termasuk dirinya percaya bahwa "Anwar adalah laki-laki pemberani yang tak seperti istrinya bayangkan!". Begitu ia ingin berpikir setelah dikatai bencong dengan sangat keras.

Anwar umur 16 tahun, persis saat ia duduk di bangku SMA dan suka menari tarian tradisional di atas panggung, seorang perempuan yang tidak bisa menari tiba-tiba saja meneriakinya "Si bencong sedang menari!". Sementara di depan panggung berdiri begitu banyak orang dan, nampaknya mereka mulai mempertimbangkan apa yang mereka dengar, tentang laki-laki yang sepertinya bencong karena suka menari. Di rumah ia pulang dengan kostum tari dan tata rias wajah yang masih menempel rapi. Orang tuanya: tak lebih dari sekadar bertanya berapa harga sewa kostum dan riasan wajahnya. "Bajunya hanya 100 ribu, riasan wajahnya juga 100 ribu. Tapi tadi aku juga mewarnai tubuhku, jadi menambah 30 ribu."

Buang-buang uang saja kalau kata orang tuanya. Yang seharusnya, untuk anak laki-laki seusianya bisa membeli mainan keren, nongkrong sambil minum kopi paling keren, atau menabung – meskipun sebenarnya Anwar memang punya tabungan mandiri.

Seharusnya pengalaman masa kecilnya memang cukup untuk mengguncang hatinya hingga ia kabur keluar pulau, demi mencari sandaran baru. Pagi ini sebelum memutuskan menguras tabungan rumah tangga untuk naik kapal, Anwar telah membaca surat kabar lebih dulu. Informasi tentang rusunawa Maliurang yang baru saja selesai digarap oleh pemerintah daerah di pulau seberang berhasil memanggilnya. Kemungkinan-kemungkinan baik adalah modalnya untuk pergi dan membalaskan dendam atas harga diri yang mati di tangan orang-orang terdekatnya.

Pukul 23.21 saat orang-orang duduk sambil menahan kantuk, Anwar siaga menggendong anaknya yang untungnya belum rewel. Sesekali ia mengelus kepala anaknya dan berpikir kenapa juga seorang ayah yang katanya pemberani harus menjadikan anaknya tameng untuk hidup. Artinya, ia sadar bahwa tanpa anaknya atau siapa pun, ia memang tidak memiliki motivasi yang cukup dan pantas dipanggil bencong.

Kantuk dan ombak kerap bertemu sebagai kejutan, ditambah telepon Anwar yang bunyi beberapa kali. Orang-orang menebak istri laki-laki ini sedang khawatir dan ingin mengetahui bagaimana perjalanan laut suaminya, atau ingin tahu apakah anaknya rewel. Sementara Anwar mengintip sesekali dan, itu hanyalah nomor asing yang jika diangkat akan marah-marah menagih utang. Terakhir sebelum ia naik kapal, menempuh perjalanan dari rumahnya menuju pelabuhan sekitar 47 menit. Dalam waktu-waktu itu – selain berat batinnya berkelahi dengan harga diri, telepon itu juga ikut campur menggerogoti emosinya. Anwar dan anaknya naik motor butut, dan siapa yang menyangka bahwa Anwar berhenti sebanyak 16 kali karena teleponnya bergetar.

"Apa istriku sudah terbangun dan mendapati aku tidak ada di sana?"

Jadi sebanyak 16 kali itu juga Anwar mengangkat teleponnya dengan harapan yang sama,

"Dia akan minta maaf dan memohon agar aku kembali dan, dia berjanji bahwa sepanjang hidupnya tidak akan lagi meneriaki aku sebagai bencong!"

Jadi, sebanyak 16 kali itu juga Anwar semakin kecewa dan marah karena tak seorang pun menyadari kepergiannya selain penagih utang yang kejam.

Sekarang ini, di atas kapal yang tidak mengizinkan siapa pun tidur enak, ia sedikit khawatir istrinya akan diperkosa atau dibunuh oleh para penagih utang yang kejam. Mereka akan bertanya di mana Anwar dan jika istrinya tidak berhasil menemukannya, maka nyawa atau kehormatannya akan membayar semua itu, atau mungkin keduanya. Jadi, Anwar sepanjang perjalanan lautnya ini, hanya merenungi apakah ia benar-benar ingin pergi? Atau ia hanya sebenarnya, hanya memikirkan tanggapan orang lain yang ia pikir, sangat mempengaruhi kehidupannya. Bahwa ia bencong itu benar, dan ia tidak terima.

Ombak dan kantuk kembali membuat kejutan, sekarang ditambah suara tangisan anak laki-lakinya, Basuki. Setelah sekitar 2 jam perjalanan, Basuki yang anteng itu akhirnya menangis. Anwar teringat setiap malam istrinya bangun dan menepuk-nepuk bokong atau punggung Basuki agar anaknya kembali tertidur. Sebagai ayah yang berani membawanya kabur, Anwar mencoba hal yang sama, yaitu menepuk-nepuk punggung Basuki perlahan-lahan. Tidak ada perubahan yang berarti. Basuki tetap merengek dan, Anwar tidak membawa apa-apa selain beras, pisang, dan umbi-umbian.

"Uki... Basuki... Anteng ya nak..."

Anwar selama beberapa menit terakhir mengulang kalimat itu, yang mungkin juga terinspirasi dari istrinya.

Dari waktu-waktu itu, Anwar mungkin merasa seseorang sedang memperhatikan dirinya, atau hanya penasaran dengan keriwehan yang dialaminya. Ekor matanya mencoba memastikan siapa dan kenapa, seorang laki-laki yang belum bisa dipastikan apakah benar dia laki-laki – sedang duduk di pojok sambil merokok. Sepertinya orang itu memang sedang memperhatikan aku dan, bukan tidak mungkin bahwa orang itu adalah rampok. Sayangnya Anwar tidak punya terlalu banyak uang dan, tidak bisa berkelahi sama sekali.

Basuki masih merengek dan Anwar harus membagi fokusnya ke banyak ketakutan dan kekhawatiran yang datang bersamaan. Sementara laki-laki yang dari tadi menembak tatapan ke arah mereka, perlahan nampak berjalan mendekat. Ahh, rampok sialan! Apa orang-orang akan membantuku? Atau mereka akan pura-pura tidak melihat saja? Apa rampok itu membawa senjata? Di bagian mana aku akan dipukul? Tangan dan kaki, mana yang lebih dulu mereka patahkan?

"Heh bencong!"

Anwar terbelalak. Ketakutannya seolah bergeser menjadi rasa marah dan, sedikit penasaran.

Lihat selengkapnya