Anwar terburu-buru sambil menyeret-nyeret barang bawaannya, menggendong anaknya, dan menjaga jangkauan penglihatannya ke arah Kakak yang nampaknya tak ingin lagi berurusan dengan mereka.
"Kak! Kakak! Tunggu Kak!"
Saat kapal telah berhasil berlabuh di pulau seberang, nampaknya orang-orang menaruh tertib di nomor dua, sementara berdesakan terasa lebih baik dan wajar. Di saat-saat seperti ini, orang bisa saja berdoa agar diberikan 3 mata, seperti Anwar yang harus memperhatikan barangnya, menjaga anaknya, dan pasang mata ke arah Kakak. Jadi karena matanya sekarang hanya ada dua, maka ia terpaksa harus kehilangan satu fokusnya yang sejak awal terbagi-bagi, yaitu Kakak.
Di atas kapal, sebelum jam 4 subuh datang meminta waktu menyandarkan kapal ke pelabuhan, Kakak telah memaksa Anwar untuk menerima uang pemberiannya sebesar 400 ribu. Cukup untuk menambah isi kantong Anwar, dan bersama anaknya ia bisa pulang – kembali ke rumah. Ayah satu anak itu berpikir bahwa, Kakak tidak begitu mengerti apa yang aku alami, tentang bagaimana orang tua dan istri melihatku, tidak lebih dari sekadar laki-laki letoy. Begitu saja, kerah bajunya yang rapi dan bersih terasa mencekik lehernya bersama cengkraman tangan Kakak yang sangat kuat.
"Heh, gue bukan anak kemarin sore. Orang mati, sama orang idup tapi kaya orang mati, itu udah gue liat seumur hidup!"
Sebelum itu terjadi, lama Anwar bercerita tentang pengalaman masa kecilnya yang buruk, kehidupan rumah tangganya, orang tuanya yang tidak pernah mendukungnya – bahkan terang-terangan merobek tiket kompetisi tari tradisional yang ia dambakan seumur hidup, tetangga yang meniru gaya bicaranya, caranya berjalan, dan gestur tubuhnya. "Tentang istriku, meskipun aku tahu ia menganggapku begitu, tapi mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulutnya, tetap saja menyakitkan." Juga kekhawatiran akan penolakan dari anaknya ketika ia dewasa yang, hingga saat ini paling menghantuinya. "Anakku, Basuki, ia akan tumbuh menjadi laki-laki tampan yang pintar. Ia akan berteman dengan banyak orang. Saat dewasa ia akan bertemu dengan banyak perempuan. Ia akan belajar sesuatu yang ia sukai dan aku pasti akan mendukungnya. Dan semua itu akan terjadi beriringan dengan rasa bencinya terhadap diriku yang semakin membabi buta. Sebab tak ada anak yang mau dan sudi memiliki ayah bencong."
"Basuki tu anak lo War, tega banget lo bawa-bawa dia."
"Aku takut akan menyesal jika Basuki tumbuh besar dan membenci ayahnya sendiri."
"Basuki tu punya ibu! Punya kakek nenek! Punya temen! Lo mati juga hidup dia baik-baik aja War! Waras ga sih pikiran Lo!"
"Basuki harus ikut bersamaku."
"Lo kalo mau jadi bencong, jadi bencong sendirian! Gue temenin Lo jadi bencong! Tapi anak lo jangan dibawa-bawa!"
"Sekarang, aku hanya punya Basuki."
"Bertahun-tahun gue balikin orang-orang kaya lo ke kampung halamannya, orang-orang pada nurut tau ngga War. Mereka mikirin masa depan anak-anaknya. Kalo anak Lo mati, lo masih bisa idup. Kalo masa depan anak lo ancur, lo cuma jadi kakek-kakek centil yang nonton. Tapi kalo lo jadi bencong dan mati dikeroyok preman, si Basuki gapunya siapa-siapa War."
"Aku tahu."
Sedikit lagi kerah baju itu bisa robek sia-sia, bahkan jika tidak sayang maka sangat mungkin Kakak merobek juga leher Anwar. Suaranya tidak lebih keras dari apapun, tapi siapa pun yang mendengar akan tahu bahwa Kakak sedang menahan emosi yang hampir meledak. "Terus lo mau gedein dia biar sehati sama lo? Biar ikutan letoy kaya lo?", "Heh, lo denger ya! Meskipun gue jadi bencong bertahun-tahun, kalo gue punya anak, gabakal gue kasih dia tinggal di tempat begitu!". Siapa pun orang tua yang waras seharusnya berpikir seperti Kakak. Logika paling sehat seharusnya sudah cukup terpanggil dengan pukulan keras, tapi hati yang kotor dan keras sering kali membentuk tameng yang jauh lebih tebal.
Kini Kakak benar-benar hilang dari pandangannya. Kakinya sudah menginjak pulau baru, keringatnya terasa dingin karena udara sebelum fajar menyambutnya datang, juga Basuki di pangkuannya sedang terlelap. Ia berjalan 200 meter dari sana, duduk di depan warung kecil sambil celingak-celinguk mencari Kakak. Disusunnya barang-barang bawaan itu di atas kursi kayu. Basuki sudah membuka matanya, mungkin juga merasa rindu dan jauh dari dada ibunya. Anwar menegur penjaga warung itu lebih dulu, seperti rasa malu dan takutnya hilang karena Basuki lebih penting saat ini.
"Bu, ada susu dan bubur?"
"Ada, buat dedenya ya?"
"Iya Bu. Tolong buatkan ya."
Di tempat ini, ayam berkokok lebih keras, matahari lebih cepat naik, suara adzan terdengar lebih merdu dan, orang-orang terasa lebih ramah. Anwar membuka kantong kainnya yang berisi lontong sayur dan gorengan, itu bekalnya 2 hari lalu. Keduanya dicium berkali-kali, memastikan baik lontong atau gorengan itu belum basi dan bisa dimakan, meskipun akhirnya ia harus menerima bahwa keduanya sudah basi dan bau. Artinya selain memesan susu dan bubur, ia juga setidaknya harus membeli nasi untuk mengganjal perut. "Bu, minta nasi sama sayurnya juga ya."
Selama perjalanan ini, ia harus menghemat uang tabungannya. Berjaga-jaga jika di tengah jalan ia dirampok atau tiba-tiba anaknya sakit dan harus keluar uang. Jadi makan seadanya adalah pilihan, yang terpenting mereka harus sampai di rusunawa Maliurang.
"Mas, ini susu dan buburnya. Nasi dan sayurnya tunggu dulu ya, gasnya habis, jadi lagi beli dulu."
"Oh, iya. Tidak apa-apa, Bu."
Basuki duduk di pangkuan ayahnya sambil menikmati susu hangat yang rasanya lain dengan susu yang pernah ia minum dari ibunya. Melihat Basuki di pangkuannya sekarang, Anwar harus mengakui bahwa: Meski istriku adalah perempuan yang durhaka kepada suaminya, tapi dia adalah ibu yang sangat baik untuk Basuki. Dia adalah perempuan yang sangat siap menjadi ibu. Dia juga, sekarang, mungkin sudah gila karena kehilangan belahan jiwanya. Bukan aku, tapi Basuki."
Klakson truk dan motor pengangkut barang terus menemani sarapan mereka. Di sini, asap terasa lebih tebal dan semakin menganggu pernapasan. Anwar menyantap nasi dan sayur capcay yang terasa kurang matang, seperti dimasak dengan cara yang terburu-buru. Tapi menghabiskannya adalah pilihan yang harus, demi mengganjal perutnya dan menghormati pemilik warung itu.
"Susu 4 ribu, bubur 3 ribu, nasi sama sayurnya 8 ribu. Jadi 15 ribu."
"Terima kasih Bu. Ini uang pas."
"Sama-sama. Sebenarnya kalian mau pergi kemana? Jumpa saudara? Atau mencari kerja?"
"Ah, ini anakku, Basuki. Kami mau pergi ke rusunawa Maliurang dan sudah siapkan uang sewanya."
"Oh? Sudah tahu itu tempatnya seperti apa?"
"Iya, tahu."