“Wah, enak banget tinggal sama cewek!”
“Hidupmu pasti terjamin!”
“Jadi yang paling ganteng di antara cewek-cewek!”
“Bisa bebas, kan nggak ada ortu!”
Aku mendengkus dan tertawa mendengar komentar-komentar itu. Yang mereka lihat hanya permukaannya saja.
Kenalkan, aku Ezra yang baru saja menjadi anak SMA. Aku anak keempat dari lima bersaudara. Karena suatu dan lain hal, aku harus tinggal bersama keempat saudara perempuanku.
Katanya, biar hidupku lebih tertata dan tidak terjerumus dalam hal-hal negatif. Tahu sendiri berita-berita di medsos atau televisi tentang remaja zaman sekarang yang bikin heboh.
Tentu saja, alasannya tidak sesederhana itu. Papa kabur entah ke mana. Mama meninggal saat aku masih membutuhkan kasih sayangnya untuk melewati masa SMP-ku. Masa yang labil dan tanggung. Tidak bisa disebut anak-anak, tapi juga belum termasuk dewasa.
Jadi, sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, aku tinggal bersama mereka. Tapi, aku tidak otomatis jadi kepala keluarga karena usia masih muda. Kakak pertamakulah yang membiayai seluruh kehidupan kami, dengan sisa-sisa warisan Mama yang ditangani oleh pengacara keluarga. Dia hanya mengatur setiap pos keuangan yang dibutuhkan dan penting.
Bagi sebagian orang, menjadi satu-satunya gender di dalam keluarga bisa mempunyai keuntungan lebih. Awalnya memang begitu. Aku menikmati semua perhatian yang diberikan oleh orang tua saat masih ada, dan saudara-saudaraku. Mereka semua sangat menyayangiku, meski terkadang usil dan jahil.
Semua kakakku suka menggoda dan “menindas” dengan menyuruhku melakukan banyak hal. Tanpa ada orang tua yang mengawasi, mereka dengan leluasa memintaku mengambil makanan atau minuman, membeli sesuatu, atau lainnya. Mereka juga overprotektif, meski aku laki-laki.
Tak jarang, permintaan mereka aneh-aneh dan tidak masuk akal. Salah satunya, Edith, kakak ketigaku.
“Ez! Ke sini sebentar!” Edith memanggilku dari meja makan di samping sofa yang kududuki.
Aku menoleh sekilas dari layar televisi yang kutonton. Dia sedang berkirim pesan dengan seseorang. Wajahnya tampak gusar. Rambut pendeknya juga berantakan karena diacak-acak sendiri.
“Apa?” tanyaku sambil kembali menonton televisi. Dugaanku, dia pasti memintaku untuk melakukan sesuatu, dan aku sedang tidak ingin meladeninya.
“Ez! Ezra! Sini sebentar aja kenapa, sih?” Edith masih memanggilku dari sana.
Aku pura-pura tidak mendengar dan malah memperbesar suara televisi
“Ezra!” Sebuah teriakan dan pukulan di bahu membuatku meringis.
Aku langsung menoleh. “Apa, sih?! Sakit, tahu?!” sentakku sambil mengusap bahu.
Edith berkacak pinggang dan melotot di depanku. Dia lalu balas menyentak, “Makanya, kalau dipanggil itu dijawab! Bukan pura-pura nggak denger!”