Aku dan Empat Bidadari Reseh

Lirin Kartini
Chapter #2

BAB. 2 - MAJU KENA MUNDUR KENA

Kalau setiap orang punya cara sendiri menunjukkan rasa sayangnya, maka begitulah Edith. Tingkahnya kadang tidak kumengerti.

Bukan hanya Edith, tapi dua kakak dan satu adikku pun serupa. Cara mereka sangat jauh dari kata wajar dan aku harus menghadapinya.

Echa, anggota termuda di keluarga ini, sedikit berbeda dalam menunjukkan rasa sayangnya. Dia akan menempel seharian bila aku ada di rumah. Permintaannya juga lebih tidak masuk akal dan akan bereaksi berlebihan bila aku menolaknya.

“Kak, aku mau baca komik One Piece terbaru,” katanya di hari Sabtu sore.

Kami sedang berada di lantai tiga ruko empat lantai ini. Gadis berambut sepanjang siku itu duduk menekuk lutut di sofa sebelahku.

Aku yang sedang bermain game di ponsel, menjawab asal, “Baca aja.”

Dia mendesah pelan dan berkata, “Iya, emang mau baca.”

“Emangnya kamu punya?” tanyaku tanpa menghentikan permainan jari di layar ponsel. Mataku masih bergerak ke kanan dan kiri mengikuti gerak karakter dua dimensi itu.

“Nggak punya.”

“Terus, gimana mau baca?”

Perasaanku mulai tidak enak, tapi kuabaikan. Aku tetap fokus bermain.

Mendadak Echa memelukku erat.

Aku segera mengangkat tanganku. Mengamankan ponsel yang bisa kapan saja direbut atau terjatuh karena gerakan mendadak itu.

“Cha! Kak Ez lagi main ini!” seruku panik. Suara game yang mengatakan aku hampir kalah, membuatku mendorong Echa pergi.

Bukannya lepas, Echa malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggangku. Aku heran dari mana dia mendapat kekuatan ini dengan badan mungilnya.

“Cha! Kakak lagi main, nih! Nanti kalah!” ulangku di sela-sela suara ribut game.

“Aku bilang, aku mau baca komik One Piece!” ulangnya.

“Iya, tapi kalau kamu nggak punya bukunya, gimana mau baca?”

“Pokoknya Kak Ezra adalah kakak terbaik di dunia!” Pelukannya semakin erat.

Aku jadi tidak bisa berkutik.

Percuma saja menolak permintaan gadis berusia 14 tahun itu. Akibatnya akan lebih fatal.

Aku menyerah dan melemaskan tubuh. Kurasakan pelukan Echa mulai mengendur dan akhirnya lepas. Kini dia duduk menatapku dengan mata berbinar.

“Kakak tahu Yogi, teman sekelasku yang tinggal di ruko ujung jalan itu? Dia punya,” katanya. Senyumnya yang sudah manis, dibuat semakin manis lagi.

“Terus?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Pinjamin ke dia dong!” Echa mulai merajuk manja.

“Kenapa kamu nggak pinjam sendiri, Cha? Dia, kan temanmu, masa Kak Ez yang harus pinjam? Kan kamu yang mau baca.”

“Dia pasti nggak mau kasih pinjam ke aku.”

“Kok gitu?”

“Itu ….” Echa tampak ragu. Bibirnya manyun. Bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, lalu melanjutkan, “Terakhir aku pinjam, bukunya sobek dan basah. Dia jadi marah nggak mau pinjamin aku lagi.”

Lihat selengkapnya