Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #1

Prolog

Hujan turun perlahan di luar jendela kamar Ghea. Rintik gerimisnya terdengar seperti bisikan-bisikan kecil di tengah malam.

Sesekali angin meniup tirai jendela kamar yang sedikit terbuka hingga bergerak perlahan. Dan aroma tanah basah pun masuk bersama udara dingin yang menusuk kulit.

Kamar Ghea terlihat gelap hanya diterangi lampu meja belajar yang redup kekuningan. Jam dinding menunjukkan pukul 22.47. Semua penghuni rumah sudah tidur.

Papa yang tadi dilihatnya, sudah terlelap di kamar bawah setelah seharian bekerja lembur. Begitu juga dengan adiknya sudah memeluk guling sambil tidur miring seperti biasanya.

Sementara itu terlintas juga bayangan mamanya setelah merapikan dapur, tidur di samping papa dengan wajah tenang dan posisi tangan terlipat di atas perut. Setenang kehidupan keluarga mereka yang selama ini Ghea percayai.

Malam itu Ghea duduk di lantai sambil bersandar di dinding pojok kamarnya. Sebuah buku harian usang bersampul merah muda yang sudah memudar warnanya berada dalam pangkuannya.

Buku itu dia temukan di lemari tua milik mamanya yang telah lama di simpan di gudang. Sudut-sudutnya pun sudah mengelupas dimakan usia. Ada bercak kekuningan di beberapa lembar kertasnya.

Saat Ghea membuka lembaran buku itu, aroma kertas lama pun menguar bercampur bau kayu tua dari lemari tempat buku itu disimpan bertahun-tahun.

Tulisan tangan mamanya terlihat rapi dan lembut. Tangan Ghea gemetar saat membaca kalimat di dalamnya.

Aku hampir tak memilihmu.

Napas Ghea tercekat. Matanya terus bergerak perlahan mengikuti kalimat-kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang sudah memudar.

Lihat selengkapnya