"Ghea ... bangun, Nak! Kalau nanti terlambat kuliah lagi, jangan salahin Mama!"
Suara perintah itu menggema dari dapur bersamaan dengan aroma bawang putih dan mentega yang memenuhi rumah sederhana mereka.
Ghea mengerang pelan sambil menarik selimut lebih tinggi menutupi kepala.
"Lima menit lagi, Ma," suara parau Ghea terdengar dari lantai atas.
"Kamu sudah bilang itu sepuluh menit yang lalu. Mau nambah lagi tidurnya?" balas mamanya disusul suara tawa kecil seseorang anak laki-laki dari kamar bawah.
"Udah, Ma. Bangunin pakai siraman air aja! Biar kayak kucing tetangga yang habis nyolong ikan kita kemaren."
Suara anak laki-laki itu terdengar lagi. Dia adalah Bayu, adik bungsu Ghea yang baru saja menginjak bangku SMA.
"Itu ide bagus!" sahut mama sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Maaa ...!” teriak Ghea sambil bangun dari tempat tidurnya. Dia mendengar gelak tawa dari bawah.
Ghea membuka mata dengan malas lalu menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih kusam. Matahari pagi menembus sela tirai jendela membentuk garis-garis cahaya tipis di lantai kamar.
Rumah mereka bukan tergolong rumah yang besar. Hanya rumah sederhana yang terletak di gang kecil dengan dua lantai di bagian belakang. Mereka menempati rumah itu sejak Ghea masih TK.
Cat dinding bagian depan mulai memudar seiring berjalannya waktu. Atap teras kadang-kadang bocor saat musim hujan datang terlalu deras.
Tapi rumah itu selalu terasa hidup dan hangat. Ghea baru sadar bahwa sebagian besar kehangatan itu berasal dari satu orang. Yaitu Rahma, mamanya.
Ghea akhirnya bangkit dari tempat tidur sambil mengacak-acak rambut panjangnya yang berantakan. Langkahnya pelan dan kakinya diseret saat keluar dari kamar. Sesekali dia berhenti di anak tangga sambil menguap.
"Kalau bangun kesiangan terus ... nanti jadi kebiasaan jelek." Terdengar suara papanya, Baskoro, di ruang makan. Nadanya datar dan tegas seperti biasanya.
Dia duduk di kursi makan sambil membaca koran digital dari tablet lamanya. Ujung lengan kemeja kerjanya sudah terlipat dua dengan rapi dan sepasang pantovel hitam megkilat membungkus kakinya.
Wajah Baskoro membawa ekspresi serius yang hampir selalu sama setiap pagi. Sementara itu di samping cangkir kopinya sudah tersedia segelas susu cokelat yang hangat untuk Ghea.
"Pagi, Pah," ucap Ghea sambil meraih gelasnya kemudian duduk.
"Hmm ...," jawaban khas papanya, "belum mandi?"
Ghea hanya menggeleng lalu menyesap susu coklat hangatnya. Sementara Bayu yang sudah berseragam sekolah dan duduk di seberangnya langsung menyeringai jahil.
"Wih, mahasiswa baru tapi gagal bangun pagi akhirnya muncul juga," ejek Bayu.
"Mulut kamu kenapa sih, pagi-pagi udah nyebelin?" Ghea menyahut tisu dari kotak tisu di meja dan melemparkan ke wajah adiknya.
"Biar rumah ini ada hiburannya," jawab Bayu.
"Udah, jangan ribut terus." Terdengar suara lembut dari dapur. Rahma melangkah keluar dari dapur sambil membawa dua piring nasi goreng.
Rahma mengenakan daster biru muda sederhana dengan celemek bunga kecil di pinggang. Rambutnya digelung seadanya menggunakan jepit plastik.
Ghea terpaku menatap mamanya. Entah kenapa saat melihat celemek bunga-bunga dan senyum lelah di wajah mamanya meluruhkan sisa kantuk dan kesal di kepala Ghea. Rasa hangat yang familier pun menjalar di dadanya.
"Mama ...," gumam Ghea. Seulas senyum pun menghiasi bibirnya.
Rahma menaruh piring di depan Ghea dan Bayu sambil tersenyum kecil kemudian duduk di samping Ghea.