Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #3

Bab 2. Senandung yang Tertinggal

Langit sore menggantung muram di atas deretan rumah di ujung gang. Mendung belum benar-benar pecah menjadi hujan tetapi udara sudah membawa aroma air. Dan dari kejauhan mulai terdengar suara azan Maghrib bersahut-sahutan.

"Aku pulang." Ghea membuka pintu rumah tanpa tenaga.

"Hmm ....." Jawaban pendek terdengar dari ruang depan.

Bayu sedang duduk selonjoran di lantai ruang keluarga dengan earphone terpasang di telinganya. Jemarinya bergerak cepat di atas layar ponsel, sementara wajahnya serius seperti sedang menentukan nasib negara.

"Kamu ngomong sama aku atau sama musuh game kamu?" tanya Ghea sambil melepas sepatu kemudian menaruhnya di rak sepatu dekat pintu.

"Dua-duanya," jawab Bayu.

"Kalau kalah jangan nyalahin aku, ya."

"Diam dulu, bentar lagi menang." Bayu masih menatap layar ponselnya.

Beberapa detik kemudian terdengar suara efek kemenangan dari ponselnya. Bayu langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Let’s go!" teriaknya.

"Kamu tuh kalau belajar ... semangatmu setengah dari main game aja mungkin udah jadi profesor." Ghea tertawa kecil sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.

"Dan Kakak kalau drama hidupnya dikurangin sedikit aja ... mungkin hidupnya damai." Bayu menoleh sambil menyeringai.

"Kurang ajar!" sahut Ghea dengan nada tinggi. Bayu terkekeh.

Suasana rumah sederhana di sore itu terasa hangat. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Kipas angin berputar pelan di pojok ruangan. Bau pewangi sabun cuci dari jemuran di belakang yang belum benar-benar kering terbawa angin masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.

Rahma muncul dari dapur sambil membawa sepiring pisang goreng. "Kamu udah pulang, Sayang?" katanya sambil memandang Ghea.

"Iya, Ma …." Ghea masih rebahan di sofa. Matanya memperhatikan tingkah Bayu. Sesekali melirik ke arah televisi.

"Capek?" tanya Rahma sambil menaruh piring di meja.

"Lumayan." Ghea mengalihkan pandangan ke mamanya. Tangannya bergerak mengambil sepotong pisang goreng yang masih hangat.

Tanpa banyak bicara, Rahma mengusap kepala putrinya sebentar sebelum kembali ke dapur. Gerakan kecil yang sederhana. Namun, selalu berhasil membuat lelah Ghea sedikit berkurang.

"Papa belum pulang?" Ghea mengunyah pisang goreng sambil menendang kaki Bayu. Sang adik menggeleng tanpa mengalihkan mata dari layar ponselnya.

"Tadi chat, katanya lembur," ucap Bayu kemudian.

Ghea mengangguk pelan. Hal itu bukan sesuatu yang aneh. Baskoro memang sering pulang terlambat. Bukan karena tidak peduli pada keluarga tapi karena pekerjaan kantor yang menumpuk dan tidak pernah selesai.

"Aku ke kamar dulu deh." Ghea bangkit dari sofa. Langkahnya diseret menuju kamarnya.

"Kalau belum mandi jangan langsung rebahan, Kak," celetuk Bayu.

"Emang kenapa?" Ghea membalikkan badan.

"Bau matahari," jawab Bayu cepat.

"Huh ...!" Ghea mendengus lalu memasang muka masam dan berkacak pinggang. Dia kembali ke sofa.

"Rasakan kekuatan kakak sulung!" Ghea mengambil bantal sofa lalu melemparnya tepat mengenai kepala adiknya.

Bayu menyeringai sementara Ghea kembali menuju kamar sambil tersenyum kecil. Pintu pun ditutup. Dan para penghuni rumah itu tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Bayu kembali dengan dunianya sendiri di layar ponsel. Ghea sibuk dengan tugas kuliah dan musik dari earphone-nya. Baskoro masih terjebak di kantor. Sementara itu Rahma benar-benar sendirian dengan pikirannya.

©*©

Suara minyak mendesis pelan di dapur. Rahma berdiri di depan kompor sambil mengaduk sayur sup perlahan. Uap hangat naik memenuhi ruang sempit itu membawa aroma bawang putih, lada, dan kaldu ayam.

Lihat selengkapnya