Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #4

Bab 3. Kotak Kayu dalam Lemari Tua

Bayu duduk setengah sadar sambil mengaduk nasi goreng di piringnya. Rambutnya masih berantakan seperti sarang burung.

"Kenapa hari libur harus bangun pagi …?" gumamnya dengan mata nyaris tertutup.

"Karena matahari nggak ikut jadwal tidur kamu," jawab Ghea sambil menyesap teh hangatnya.

Bayu mendecih. Rahma tersenyum kecil sambil menuangkan teh untuk Baskoro yang baru duduk di kursinya. Pria itu mengenakan kaus rumahan abu-abu dengan koran digital di tangannya. Seperti biasa, ekspresinya tenang dan sulit ditebak.

"Nanti anak-anak aku minta beresin gudang." Rahma melirik ke arahnya. Baskoro mengangkat mata sebentar dari layar tablet.

"Hmm ...," jawabnya singkat.

Sedangkan Bayu menahan sendoknya yang hampir masuk ke mulutnya. Matanya menatap mamanya.

"Aku harus ikut?" Bayu langsung memprotes.

"Ikut ... kamu bagian dari keluarga juga," kata Rahma santai.

"Aku kan masih anak-anak." Bayu memberi alasan.

"Kemarin minta dianggap dewasa waktu mau pulang malam," sahut Rahma.

"Kena ...!" Ghea langsung tertawa kecil.

"Kenapa bukan Kak Ghea aja? Barang-barang lamanya kan kebanyakan punya dia." Bayu menunjuk kakaknya dengan sendok.

"Karena tenaga kamu lebih banyak," jawab Rahma tanpa kehilangan senyum.

"Itu eksploitasi!" sahut Bayu cepat.

Baskoro menyesap tehnya lalu berkata pendek tanpa menoleh, "Jangan banyak alasan!"

Kalimat itu langsung membuat Bayu diam sambil cemberut. Sementara Ghea hanya bisa menahan tawa. Baskoro memang seperti itu. Dia tidak pernah bicara panjang. Tetapi setiap perkataannya selalu terdengar final.

"Nanti Mama bantu di awal. Setelah itu Mama bikinkan es sirup." Rahma berdiri sambil membawa piring kotor ke dapur.

Bayu yang tadinya murung langsung mendongakkan kepalanya. "Sirup melon?"

"Tergantung rajin atau nggaknya."

"Siap laksanakan!"

Ghea menggeleng geli melihat perubahan mood adiknya yang terlalu mudah ditukar dengan gula.

©*©

Rahma berjalan paling depan sambil membawa lap kain. Sementara Ghea dan Bayu mengikuti di belakang. Bayu membawa sapu di pundak seperti tentara yang dipaksa perang.

Kreek ... kreekk ...!

Rahma membuka pintu gudang secara perlahan. Bunyi engsel tua itu berderak memanjang. Dan seketika aroma debu, kayu lembap, dan barang-barang lama menyeruak keluar.

Mereka melihat tumpukan kardus memenuhi hampir setengah ruangan. Beberapa sudah penyok dan lapuk di bagian bawah. Ada koper tua dengan resleting rusak, kipas angin yang baling-balingnya patah, rak plastik retak, serta kursi kayu tanpa sandaran bersandar miring di dinding.

Jaring laba-laba menggantung di setiap sudut atas gudang seperti kain tipis berwarna abu-abu. Debu pun beterbangan pelan di udara dan terlihat jelas seperti butiran-butiran kecil yang menari saat terkena cahaya matahari yang masuk dari celah ventilasi kecil.

"Ini gudang apa situs purbakala?" Bayu menutup hidung dengan kausnya.

"Makanya dibersihin." Rahma tertawa kecil.

Ghea melangkah masuk lebih dulu. Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan. Dia melihat boneka kelinci kecil tanpa satu mata di salah satu kardus mainan. Boneka miliknya waktu masih SMP dulu.

"Eh ...," Ghea mendekat dan mengambil boneka itu. "aku masih punya ini?"

"Yang dulu bikin Kakak nangis seminggu gara-gara hilang?" Bayu melirik sekilas lalu tertawa.

"Kamu yang nyembunyiin, kan?" Mata Ghea melotot ke arah Bayu.

"Itu pendidikan mental." Adiknya hanya bisa tertawa.

Rahma menggelengkan kepala mendengar celotehan ke dua anaknya. Dia masuk dan membuka jendela kecil di pojok gudang. Udara pagi langsung masuk bersama cahaya yang lebih terang. Debu beterbangan semakin jelas.

"Nah ...,” kata Rahma sambil menepuk tangan, "yang penting dipilah dulu. Yang masih bagus disimpan, yang rusak dibuang."

Lihat selengkapnya