Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #5

Bab 4. Kunci yang Disembunyikan

Gudang itu kembali sunyi setelah Bayu keluar. Hanya terdengar suara kipas angin tua yang berputar lambat di langit-langit dan bunyi samar dedaunan yang bergesekan di luar ventilasi.

Cahaya matahari masih masuk dari ventilasi kecil di dinding dan membentuk berkas tipis yang membuat sisa-sisa butiran debu terlihat melayang tanpa tujuan di udara.

Di tengah kesunyian itu, Ghea duduk bersila di lantai dengan sebuah kotak kecil di pangkuannya. Kotak kayu estetik itu ukurannya tidak lebih besar dari sebuah buku tulis.

Jemari Ghea menyentuh gembok kecil yang menggantung di bagian depan kotak. Dia mencoba menariknya, tapi tidak bisa lepas. Dicoba menggeser dan memutarnya pelan tetap tidak bergerak sedikit pun.

Gadis itu menyandarkan punggungnya ke lemari tua sambil memandangi kotak kayu. Semakin lama dia merasakan penasarannya menguat bahwa benda itu menyimpan suatu rahasia.

Kalau ini memang punya Mama ... harusnya aku enggak boleh buka. Tapi ... kenapa aku semakin penasaran? Dia menarik napas panjang dan mengembuskan pelan.

Saat itu Ghea teringat kembali pada Mamanya yang diam-diam menghapus air matanya saat di dapur. Ada raut kesedihan di wajah mamanya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya pada malam itu dan disembunyikan dengan sangat rapi.

"Mama sebenarnya nyimpen apa sih?" bisiknya.

Tidak ada jawaban, hanya kesunyian di kamar yang merasuk semakin dalam. Dia memutuskan tidak akan membuka kotak itu setidaknya untuk saat ini.

Ghea bangkit dan melangkah menuju tumpukan barang masa kecilnya di sudut ruangan. Ada sebuah kardus yang berisi buku-buku pelajaran sekolahnya dulu dan beberapa majalah remaja yang sudah menguning.

Gadis itu menyelipkan kotak kayu di bagian paling belakang tumpukan buku hingga tidak kelihatan. Setelah selesai melakukan itu, telinga Ghea menangkap suara langkah kaki mendekat.

"Permisi ... petugas logistik dataaang ...." Bayu muncul dari balik pintu. Di belakangnya, Rahma datang dengan ke dua tangan memegang nampan berisi tiga gelas es sirup melon yang berembun di sisi gelasnya.

"Astaga, panas banget di sini," keluh Bayu sambil meletakkan pantatnya di lantai kemudian menggerakkan telapak tangan mengipasi wajahnya.

"Kamu itu ... baru aja kerja setengah jam," kata Ghea.

"Tapi jiwaku sudah lelah, Kak," sahut Bayu.

Ghea tidak bisa menahan tawa mendengar itu. Rahma pun ikut tersenyum sambil mengulurkan tangannya membagikan gelas.

"Nih, minum dulu," ucap Rahma.

Dinginnya air es menyentuh tenggorokan Ghea dan menghapus dahaganya. Sementara itu pandangan Rahma menyapu sekeliling gudang yang kini tampak lebih rapi.

"Bagus juga ya, kalau dibersihin." Rahma tersenyum.

"Masih kurang banyak, Ma." Ghea memandang Mamanya.

"Namanya juga barang puluhan tahun," sahut Bayu sambil mengangkat gelas meneguk es sirupnya hingga tersisa setengahnya.

"Mama yakin semua ini nggak mau dibuang aja?" Pandangan mata Ghea beralih pada tumpukan kardus-kardus.

"Nggak," jawab Rahma menggelengkan kepalam

"Kenapa?" Pandangan mata Ghea bergulir ke arah Mamanya kembali.

"Karena ... kadang kenangan lebih susah dibuang daripada barangnya." Rahma hanya tersenyum kecil.

Kenangan ...? Kata itu membuat aliran udara berhenti sejenak di dada Ghea. Tanpa disadari tatapan matanya dengan cepat beralih ke kardus tempat kotak kayu disembunyikan.

Namun, Rahma melewatkan gestur tubuh putrinya. Dia berdiri lalu berkata, "Udah, istirahat dulu di ruang makan. Ada pisang goreng. Di sini debunya bikin batuk." Rahma dan Bayu melangkah keluar bersama diikuti Ghea di belakangnya.

©*©

Aroma pisang goreng menyeruak di ruang makan. Bayu bergerak cepat menuju tempat duduknya. Sementara itu Ghea datang berpapasan dengan papanya yang baru muncul dari ruang depan.

Lihat selengkapnya