Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #6

Bab 5. Lembar Pertama

Lampu belajar di sudut meja memancarkan cahaya lembut kekuningan. Sementara itu seluruh rumah telah tenggelam dalam keheningan malam.

Di pangkuan Ghea tergeletak buku kecil yang baru saja dia keluarkan dari kotak kayu tua. Jemarinya meraba perlahan permukaan sampulnya. Kertas tebal merah muda yang jadi sampul buku itu sudah memudar warnanya. Sudut-sudutnya sebagian mengelupas karena dimakan waktu.

Tangan Ghea mengangkat buku itu lebih dekat ke wajahnya, aroma khas kertas tua langsung menyentuh indera penciumannya. Aroma yang sulit dijelaskan, antara campuran debu, usia, dan kenangan penulisnya.

Di samping buku itu tergeletak kaset pita lama berwarna hitam kusam. Label putih yang menempel di permukaannya terlihat sudah sedikit menguning. Namun tulisan tangan dengan tinta hitam yang juga sudah memudar itu masih bisa dibaca oleh Ghea.

Untuk Rahma — R

Beberapa detik matanya tidak beralih dari tulisan itu. Huruf "R" membuat rasa penasarannya bergerak.

Siapa R? Mengapa dua benda ini disimpan bersama, begitu rapat selama bertahun-tahun?

Ghea turun dari tempat tidur menuju meja belajarnya dan menyimpan pita kaset lama ke dalam laci. Dia membalikkan badan mengambil buku yang tergeletak di atas kasur kemudian mengangkatnya hingga menempel di dada. Sebentar kemudian dijauhkan dan dilihat dengan pandangan penasaran.

Aku tahu ini salah ....

Dia menghela napas panjang kemudian mendekapnya lagi.

Tapi aku ingin tahu ....

Ghea melangkah mendekati jendela kamar yang belum ditutup sempurna. Pandangan matanya lurus ke luar menembus kegelapan malam. Sementara rintik hujan turun semakin deras.

Udara dingin bercampur aroma tanah basah masuk melalui celah jendela meluruhkan rasa ragu di hati Ghea. Dia melangkah lagi ke pojok kamar dan duduk dengan punggung bersandar pada tembok yang dingin.

Cahaya redup lampu kamar menemani jemari Ghea membuka lembar pertama. Kertasnya berdesir lembut. Dan untuk pertama kalinya dia melihat tulisan tangan Mamanya ketika masih muda.

Napas Ghea berhenti sebentar di dada. Tulisan tangan itu sangat rapi dan terlihat tegas. Huruf-hurufnya miring sedikit ke kanan dengan jarak antar huruf yang teratur. Ghea menangkap getar keyakinan kuat yang tersirat di setiap goresan kata-katanya.

Tulisan itu sama sekali berbeda dengan tulisan tangan Mamanya sekarang ini. Berupa coretan-coretan tangan yang akrab dia lihat setiap hari pada sobekan kertas yang menempel di kulkas.

Beli minyak goreng, telur satu kilo, bayar listrik sebelum tanggal dua puluh ....

Tulisan tangan pada buku harian itu seperti milik orang asing yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan mamanya.

Mata Ghea bergerak perlahan mengikuti kata demi kata di lembar pertama.

—————

12 Agustus 1993

Hari pertama kuliah.

Pagi ini Aku berdiri cukup lama di depan gerbang kampus dan tiba-tiba merasa dunia terasa jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Aku ingin melihat semuanya ...

Aku ingin pergi ke tempat-tempat yang bahkan belum bisa kusebut namanya.

Aku ingin mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Aku ingin belajar sebanyak mungkin dan ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.

Kalau suatu hari aku membaca tulisan ini lagi, aku berharap aku sedang berada di negara yang belum pernah kukunjungi hari ini.

Aku tidak ingin hidup biasa-biasa saja.

Aku tidak ingin sekadar tumbuh, menikah, lalu menghabiskan hidup tanpa pernah mencoba terbang.

Aku ingin ... dunia mengenal namaku.

—————

Mata Ghea berhenti di kalimat itu. Perlahan dia mengangkat wajahnya dari lembar pertama. Dahinya berkerut menganalisa tulisan Rahma.

"Kalimat-kalimatnya terasa begitu hidup. Penuh gairah. Dan begitu berani," bisik Ghea.

Dia tidak menyangka bahwa semua itu ditulis oleh Rahma waktu muda, Mamanya sendiri. Yang sekarang telah menjelma menjadi perempuan paruh baya yang setiap pagi bangun lebih awal daripada semua anggota keluarga. Perempuan yang hafal jadwal cucian, harga cabai, dan menu makan malam selama seminggu ke depan. Dan perempuan yang hampir tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri.

Ini semua Mama yang nulis ... bagaimana bisa? Ghea menurunkan matanya kembali ke tulisan itu. Sulit baginya untuk mempercayai.

Aku kira dunia Mama hanya di sekitar rumah, dapur, belanja bulanan, tagihan listrik dan urusan keluarga. Ternyata jauh lebih luas dan penuh mimpi.

Lihat selengkapnya