Malam pun semakin larut ketika Ghea membalik lembar berikutnya. Meski jarum jam di meja menunjukkan pukul setengah dua dini hari, mata Ghea masih terjaga di atas lembaran itu.
Rahma muda terus hidup melalui tulisan-tulisannya. Perempuan yang kini menjadi mamanya dan selama ini hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga biasa itu ternyata pernah menjadi gadis yang penuh semangat, keras kepala, dan begitu berani bermimpi.
Tahun-tahun dalam buku harian mulai bergerak maju. Tahun 1999 ... 2000 ... kemudian 2001. Tulisan Rahma menjadi semakin dewasa. Dan nama Rian semakin sering muncul.
—————
Hari ini aku dan Rian kembali bertengkar tentang masa depan.
Bukan pertengkaran besar sebenarnya.
Hanya dua orang keras kepala yang sama-sama takut kehilangan mimpinya.
Dia ingin membangun studio musik sendiri suatu hari nanti.
Aku ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri.
Lucunya, kami sama-sama tidak ingin menyerah.
Dan mungkin itu alasan kami saling menyukai.
—————
Dalam catatan itu Rahma juga menggambarkan hari-hari yang sederhana. Belajar bersama di perpustakaan. Naik bus kota yang penuh sesak. Membagi satu porsi bakso karena uang saku menipis. Dan berteduh saat hujan turun mendadak.
Tidak ada kemewahan dan tidak ada kisah cinta yang berlebihan. Namun justru itulah Ghea merasakan kehidupan mereka terasa nyata dan hangat.
Dia melanjutkan membaca dengan lebih pelan.
—————
Hari ini aku menerima hasil seleksi tahap pertama beasiswa.
Aku hampir menangis saat melihat namaku ada di daftar.
Aku takut gagal.
Aku takut terlalu berharap.
Tapi Rian malah lebih bahagia daripada aku sendiri.
"Apa aku bilang?" katanya sambil menunjuk wajahku.
"Suatu hari kamu pasti pergi melihat dunia."
Aku bilang dia terlalu percaya diri.
Tapi dia bilang "Aku cuma percaya sama kamu."
—————
Mata Ghea berhenti di lembar ini. Dia membayangkan Mamanya duduk di bangku kampus sambil mendengarkan kata-kata itu dari seseorang yang benar-benar percaya padanya. Seseorang yang tidak meminta untuk mengecilkan mimpinya tapi justru mendorongnya untuk terbang lebih tinggi.
Jemari Ghea membuka lembar berikutnya.
—————
Kadang aku berpikir hidup akan sangat sederhana kalau aku dan Rian bisa terus seperti ini.
Dia ingin melihat dunia, Aku juga.
Dia ingin hidup bebas, Aku juga.
Dia bilang kalau aku berhasil mendapat beasiswa, dia akan mencari cara agar bisa menyusul.
"Kita lihat negara lain bareng-bareng," katanya.
"Naik kereta yang nggak kita ngerti bahasanya."
"Nyasar di kota asing."
"Terus pulang bawa cerita."
Aku menertawakannya.
Tapi diam-diam aku menyukai rencana itu.
—————
Ghea menelan ludah. Mamanya dan Rian adalah dua orang yang berjalan ke arah yang sama. Dua orang yang saling mendukung mimpi masing-masing dan mencintai satu sama lain.
"Lalu ... kenapa semua itu tidak pernah sampai ke akhir yang bahagia? Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Ghea.