Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #8

Bab 7. Senyum yang Palsu

Ghea duduk di meja makan dengan semangkuk bubur di hadapannya. Sementara sendok di tangannya bergerak malas mengaduk-aduk bubur tanpa benar-benar berniat menyuapkannya ke mulut.

Baskoro yang duduk di seberangnya melirik sebentar ke arah putri sulungnya. Dia sudah selesai sarapan dan sedang membaca koran digitalnya.

"Kenapa nggak di makan?" tanya Baskoro. Matanya tetap fokus pada layar tablet.

"Masih panas." Nadanya datar dan tangan Ghea tidak berhenti mengaduk.

Sementara Rahma masih bolak-balik antara dapur dan meja makan seperti yang selalu dia lakukan setiap pagi.

Segalanya terlihat sama. Tapi justru itulah yang membuat dada Ghea terasa sesak. Apalagi semalam dia hampir tidak tidur. Karena kalimat dalam buku harian itu terus berputar di kepalanya.

Aku hampir tak memilihmu.

Selama delapan belas tahun Ghea mengira keluarganya dibangun oleh cinta yang sederhana dan kokoh. Memang tidak terlalu romantis dan tidak penuh dengan kata-kata manis. Cukup membuat mereka bertahan bersama. Namun, sekarang Ghea tidak yakin lagi.

Pagi itu suasana rumah terasa jauh lebih sunyi ketika tidak ada suara candaan Bayu. Yang tersisa hanya bunyi sendok beradu pelan dengan mangkuk dan suara berita di halaman tablet Baskoro.

Beberapa menit kemudian, Baskoro berdiri. Dia mengambil tas kerjanya yang tergantung di kursi. Rahma meletakkan piring kotor yang sedang dibawanya dan segera menghampiri suaminya.

"Kerahnya miring."

"Mana?"

"Sini."

Rahma menjinjit kemudian menjulurkan tangannya untuk merapikan lipatan kerah kemeja suaminya. Jemarinya bergerak ringan karena sudah menjadi kebiasaannya selama ini.

Setelah selesai, Rahma tersenyum melepas keberangkatan suaminya. Senyum yang selama ini selalu dianggap oleh Ghea sebagai sesuatu yang hangat dan tulus.

Namun pagi ini, senyum Rahma terasa berbeda. Ghea melihatnya seperti topeng kayu yang dipajang lama di etalase. Bentuknya indah bahkan sempurna. Tetapi tidak lagi terasa hidup. Atau mungkin ... memang sejak dulu tidak pernah hidup.

Apa Mama melakukan ini karena cinta?

Atau karena sudah terlalu terbiasa?

Pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Ghea. Saat itu rahangnya terasa mengeras.

©*©

Rahma mengantar Baskoro dengan tersenyum, sementara Baskoro hanya mengangguk singkat.

"Aku berangkat."

"Hati-hati."

"Hmm ...."

Selesai begitu saja. Tidak ada kecupan, tidak ada pelukan, dan tidak ada tatapan yang hangat. Semua terlihat sebagai rutinitas yang bergerak dari hari ke hari.

Dan di mata Ghea sekarang, momen itu terlihat seperti adegan yang sudah dihafalkan oleh dua aktor tua yang terlalu lama memainkan peran yang sama.

Terdengar suara pintu depan ditutup dan suara mobil Baskoro menjauh. Keheningan kembali memenuhi rumah. Rahma kembali ke ruang makan dan duduk di kursi sebelah putrinya dengan pandangan lurus ke depan.

Sementara itu Ghea menunduk, tapi dari sudut mata gadis itu memperhatikan Rahma. Baru kali ini dia menyadari betapa lelah wajah mamanya ketika tidak sedang tersenyum. Namun, setelah Ghea berkedip senyum itu muncul lagi. Dia melihatnya seperti kosmetik yang dipoles untuk menutupi retakan di bibir.

"Ghee ...." Rahma menoleh ke arah Ghea. Suaranya nyaris tertelan bunyi detak jarum jam dinding.

"Hmm ...?" Ghea tidak mengangkat kepala.

"Kamu ada masalah kuliah?" Pandangan Rahma masih melekat pada Ghea.

"Enggak ...."

"Atau lagi nggak enak badan?"

Rahma mengusap bahunya pelan. Sentuhan yang biasanya menenangkan itu kini membuat Ghea meremang. Dia merasakan sesuatu yang menyengat dari balik kelembutan tersebut dan membuatnya teringat pada lembaran-lembaran buku harian Mamanya.

Rahma muda yang tertawa. Rahma muda yang bermimpi keliling dunia. Rahma muda yang mencintai seseorang dengan seluruh jiwa dan raga.

Ghea kemudian melihat perempuan yang duduk di sampingnya sekarang. Perempuan yang selalu tersenyum lembut itu adalah perempuan yang menyembunyikan seluruh masa lalu hidupnya.

Lihat selengkapnya