Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #9

Bab 8. Tempat Bersandar

Malam telah lewat dari pukul sebelas ketika suara motor Ghea menghilang di ujung jalan. Setelah itu suasana rumah kembali tenggelam dalam kesunyian.

Baskoro yang baru saja mematikan lampu kamarnya berhenti sejenak ketika mendengar deru kendaraan itu menjauh. Awalnya dia mengira tetangga depan rumah pergi larut malam.

Namun, setelah beberapa detik berlalu dan dia menyadari suara itu berasal dari halaman rumahnya sendiri, langkahnya segera berbalik keluar kamar menuju ruang depan.

Baskoro melihat Rahma berdiri mematung di depan pintu rumah. Wajahnya lurus ke arah pintu. Sementara ke dua tangannya menggenggam samping daster begitu erat.

"Ada apa?" tanya Baskoro.

"Ghea ...." jawab Rahma tanpa menoleh.

Baskoro mengerutkan dahi. "Ghea ke mana malam-malam begini?"

Rahma menoleh perlahan. Matanya tampak basah meski belum benar-benar menangis.

"Enggak tahu." Suaranya terdengar lirih. "Sejak pulang kuliah sikapnya aneh. Tadi sore saya tanya baik-baik, dia malah marah-marah."

Baskoro terdiam beberapa saat dengan pandangan mata ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.

"Mungkin lagi ada masalah sama kuliahnya." Laki-laki itu mengembuskan napas panjang.

"Bukan cuma itu," ucap Rahma sambil menggeleng pelan.

"Terus ...?"

"Saya juga nggak tahu."

Baskoro mendekat dengan canggung seperti biasa. Dia tidak pandai menghibur dan memilih kata-kata. Namun, setelah lebih dari dua puluh tahun bersama Rahma, dia tahu kapan harus diam dan kapan harus hadir.

"Ghea anak baik," kata Baskoro, "kalau lewat tengah malam belum pulang, saya cari."

Perempuan itu mengangguk pelan. Dan malam pun kembali tenggelam dalam hening yang mencekam.

©*©

Sementara itu, motor Ghea membelah jalanan yang semakin lengang. Angin malam menerpa wajahnya tanpa ampun, sementara lampu-lampu jalan melintas seperti garis-garis cahaya yang kabur.

Beberapa kali dia menyadari pandangannya mengembun oleh air mata yang terus ditahannya. Namun, dia tidak memperlambat laju motornya. Dia tidak ingin berhenti dan tidak ingin kembali, setidaknya untuk malam ini.

Aku hanya ingin menjauh dari rumah, batin Ghea.

Rumah yang telah dia tempati selama delapan belas tahun dan menjadi tempat paling aman baginya, kini terasa seperti panggung besar tempat semua orang memainkan peran masing-masing.

Motor itu akhirnya masuk ke halaman yang masih terbuka pintu gerbangnya dan berhenti di depan sebuah rumah kos dua lantai yang lampu di dalamnya masih menyala. Ghea turun dengan langkah goyah menuju teras rumah. Dan pintu sudah dibuka dari dalam sebelum dia mengetuk pintu lebih dari tiga kali.

Devan muncul dengan kaus hitam kusut dan rambut yang masih berantakan, namun ekspresinya menjadi ceria dengan senyum lebar begitu melihat wajah Ghea.

"Ghea ...?"

Ghea tidak menjawab. Matanya tampak merah, tangan gemetar, dan ransel digantung di bahunya. Devan membuka pintu lebih lebar. Dia tidak bertanya macam-macam.

"Masuk, Ghee!"

Gadis itu mengangguk dan masuk tanpa berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian dia sudah duduk di sofa ruang tamu. Devan membawakan segelas air hangat dan ditaruh di meja. Cowok itu kemudian duduk di samping Ghea.

Ghea merasa tidak perlu berpura-pura kuat di depan Devan. Dia membuka ranselnya, mengeluarkan buku harian tua itu, lalu membantingnya di atas meja.

Braaak ...!

Bunyi keras itu membuat Devan terkejut.

"Ini ...!" Suara Ghea bergetar. "Ini sumber semuanya!"

Devan memandang buku itu, kemudian memandang Ghea.

"Kamu tahu enggak rasanya hidup delapan belas tahun sambil percaya kalau keluargamu baik-baik saja?" Air mata mulai menggenang. "Ternyata semuanya bohong."

Lihat selengkapnya