"Ghee ..., Mama udah buatin nasi goreng kesukaanmu." Rahma berdiri di samping railing tangga sambil memandang pintu kamar Ghea. Dia menunggu beberapa detik tapi tidak ada jawaban dari Ghea.
"Turun, Sayang. Kamu ada kuliah pagi kan?"
Belum ada jawaban. Rahma menghela napas. Pandangan matanya beralih ke piring nasi goreng yang dibawanya lalu berjalan pelan menuju meja makan.
Cekleekk ... Cekleekk ...!
Suara kunci pintu dibuka terdengar jelas di telinga Rahma. Dia menengok ke atas. Ghea keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dengan langkah goyah.
©*©
Pagi datang dengan cara yang sama seperti hari kemarin. Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan, lalu memantulkan warna keemasan di atas meja makan kayu yang telah menemani Ghea dan keluarga selama bertahun-tahun.
Aroma nasi goreng dan telur dadar memenuhi ruang makan bercampur dengan suara sendok dan garpu yang beradu pelan dengan piring.
Segalanya tampak normal. Namun bagi Ghea, meja makan itu kini terasa seperti tempat asing yang dipenuhi orang-orang yang tidak benar-benar dia kenal.
Bayu dengan ekspresi masih mengantuk duduk di kursi favoritnya sambil mengunyah roti tawar kesukaannya. Seragam sekolahnya belum sepenuhnya rapi. Dan dasinya masih menggantung di leher belum selesai dipasang.
"Mama ...," keluhnya sambil menyandarkan kepala ke kursi. "hari ini ada presentasi Bahasa Indonesia."
"Bagus dong." Rahma tersenyum. Tangannya bergerak menuangkan teh ke dalam gelas suaminya.
"Bagus dari mana? Aku belum hafal." Bayu terlihat murung.
"Kemarin kan Mama sudah bilang ... jangan main game terus!"
"Itu namanya motivasi negatif," ucap Bayu dengan cepat.
"Bukan, itu ... peringatan." Rahma tertawa kecil.
Di seberang meja, Baskoro sedang membaca berita dari tabletnya. Dia mendengar percakapan itu.
"Hafalin sekarang." Baskoro menatap Bayu.
Bayu menghela napas panjang. "Papa kalau ngasih solusi selalu sesingkat itu ya ...."
"Tapi benar!" Rahma kembali tersenyum.
Senyum Rahma selalu sama. Senyum yang selama ini membuat rumah terasa hangat. Namun pagi itu, dada Ghea justru terasa sesak ketika melihatnya. Karena sekarang dia yakin ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum tersebut.
"Ghee ...." Rahma menarik kursi di sampingnya. "Mama ambilin nasi lagi?"
"Enggak," jawab Ghea tanpa semangat bahkan tidak dengan mengangkat kepala.
"Kamu makannya sedikit."
"Udah kenyang."
"Tapi baru dua suap."
"Aku bilang udah kenyang." Nada suaranya dingin dan tajam.
Bayu yang sedang mengunyah roti langsung diam dan menoleh ke arah kakaknya. Sementara Rahma terdiam sesaat.
"Ya sudah." Rahma tersenyum lagi. Senyum tipis yang tampak dipaksakan di mata Ghea.
Baskoro mengangkat pandangannya dari tablet. Dia menatap Ghea dengan dahi berkerut. Tatapan mata khas seorang ayah yang tidak banyak bicara tetapi tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Ghea!" tegur Baskoro.