Pagi itu Ghea sengaja berangkat satu jam lebih awal untuk menghindari Rahma setelah pertengkarannya tadi malam. Namun, tatapan mata mereka bertemu saat kakinya menapaki anak tangga paling bawah.
"Makan dulu, Ghee," sapa Rahma yang sedang menyiapkan meja.
"Aku langsung berangkat." Ghea melangkah cepat menuju pintu. Sementara Rahma hanya bisa memandang punggung putrinya menghilang di balik pintu.
Hari itu berjalan seperti biasa sampai siang saat Bayu pulang sekolah. Menjelang sore, Ghea baru pulang kuliah dan langsung masuk ke kamarnya.
Rumah tenggelam dalam sunyi hingga lembayung senja perlahan menghilang berganti dengan gelapnya malam. Cahaya redup rembulan jatuh di atas rumah yang biasanya hangat.
©*©
Lampu menyala terang dan aroma sup ayam buatan Rahma bercampur dengan wangi nasi hangat yang baru saja matang memenuhi ruang makan. Semuanya tampak seperti malam-malam biasa.
Namun, ada satu kursi kosong di sisi kiri meja. Kursi itu milik Ghea dan Rahma tanpa sadar melirik ke sana beberapa kali. Namun, dia segera mengalihkan pandangannya. Kebiasaan kecil yang selama ini tidak pernah dia sadari kini terasa begitu jelas.
Bayu yang duduk di seberangnya memperhatikan hal itu. Tapi suasana ruang makan yang terlalu sunyi membuatnya tidak nyaman. Dia menoleh pada Baskoro yang hari ini tidak pulang malam.
"Pah, enak loh kalau papa nggak lembur terus ... bisa makan malam bareng kayak gini."
"Hmm ...." Seperti biasa hanya itu yang terucap dari mulut papanya. Sementara Rahma tersenyum kecil.
Kembali sunyi dan canggung. Saat itu Bayu teringat pada presentasi Bahasa Indonesia di kelasnya tadi pagi.
"Mama ..."
"Iya?" Rahma mengangkat wajah.
"Tadi presentasiku dapat nilai paling tinggi." Rahma langsung tersenyum tulus. Senyum yang selalu muncul setiap kali anak-anaknya membawa kabar baik.
"Serius?" Bola mata Rahma membesar. Sementara Bayu mengangguk bangga.
"Bu guru sampai bilang cara penyampaianku paling jelas."
"Wah, hebat dong." Rahma meletakkan sendoknya.
"Terus teman-temanmu gimana?"
"Ada yang grogi."
"Kalau Bayu?"
"Aku sebenarnya ... grogi juga."
"Kalau groginya kayak gitu, Mama jadi penasaran kalau lagi nggak grogi, kayak apa." Rahma tertawa pelan. Bayu hanya tersenyum.
Percakapan mereka cukup untuk membuat suasana meja makan terasa hangat. Setidaknya selama beberapa menit.
Baskoro hanya mendengarkan tanpa komentar. Sesekali dia mengangguk sambil melanjutkan makan malamnya. Setelah beberapa saat dia meletakkan sendoknya lalu memandang Rahma.
"Kemarin malam kenapa Ghea membentakmu?" tanya Baskoro.
Pertanyaan itu membuat suasana ruang makan menjadi hening. Bayu langsung menunduk. Rahma yang sedang mengambil air minum berhenti sesaat lalu tersenyum tipis.
"Oh, itu ... hanya salah paham soal sweater," jawab Rahma dengan santai.
"Mama salah nyetrika sweater kesukaannya, terlalu panas. Mungkin dia lagi capek juga karena tugas kuliahnya ... jadi bicaranya keras," lanjutnya.
"Sesimpel itu?" pandangan Baskoro belum beralih.
"Anak muda memang kadang sensitif kalau barang kesukaannya rusak." Rahma tersenyum sambil tangannya bergerak merapikan ujung taplak meja.
"Nanti juga baik sendiri," lanjut Rahma. Dia tidak menjelaskan tapi bermaksud menghentikan pertanyaan Baskoro selanjutnya.