"Kakak egois ...!"
Kalimat terakhir yang diucapkan Bayu sebelum meninggalkan kamar masih menggema di rongga kepala Ghea. Berulangkali kalimat itu muncul dan menghilang tanpa bisa dia hindari. Sehingga membuatnya tetap berdiri di tempat yang sama sambil memandangi pintu yang telah tertutup rapat.
Ghea berharap adiknya kembali dan menarik semua ucapan itu. Namun, tidak ada langkah kaki yang kembali maupun ketukan kedua. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar pelan dan detak jarum jam yang terdengar jauh lebih nyaring di kesunyian kamarnya.
Gadis itu membalikkan badan dan kembali duduk di kursi meja belajarnya. Dia menghela napas panjang lalu membuka laci meja paling bawah. Di sana terlihat buku harian mamanya, benda yang selama beberapa hari terakhir menjadi pusat dari semua kekacauan ini.
Buku dengan sampul merah muda itu tampak usang di bawah cahaya lampu kamar. Sudut-sudutnya telah aus dimakan waktu. Namun justru karena itulah buku itu terasa begitu nyata. Seperti sebuah pintu menuju kehidupan lain di masa lalu yang selama ini tersembunyi.
Ghea mengusap sampul buku itu sebentar lalu jemarinya membuka lembaran selanjutnya. Aroma khas dari kertas tua segera menyambutnya dan mengingatkan dia pada perpustakaan lama serta lemari kayu yang bertahun-tahun tidak dibuka.
Lembaran berikut tampak tintanya sedikit memudar. Namun, tulisan tangan Rahma masih terlihat rapi dengan bahasa yang tegas dan penuh keyakinan.
Ghea membaca baris demi baris itu dengan dahi berkerut. Sulit mempercayai bahwa perempuan yang setiap pagi sibuk memikirkan daftar belanja dan menu makan sehari-hari itu pernah menulis tentang negeri jauh yang menjadi tujuan ambisinya.
Selama ini Ghea mengira mamanya memang terlahir untuk hidup sederhana, untuk mencintai rumah, dapur, dan rutinitas yang sama setiap hari. Namun, tulisan-tulisan itu menunjukkan sesuatu yang berbeda. Dan bagi Ghea, perempuan yang sekarang dia panggil Mama itu telah menjadi bayangan pudar dari seseorang yang dulu pernah bermimpi menaklukkan dunia.
Sesaat Ghea menghela napas. Dan ketika membaca tulisan tahun di buku itu, dunia di sekelilingnya perlahan memudar dan berganti dengan dunia yang sama sekali asing baginya. Yaitu dunianya Rahma semasa kuliah jauh sebelum Ghea dilahirkan.
©*©
Tahun 1997 ....
Pagi masih terasa dingin ketika Rahma berlari menyeberangi halaman kampus dengan setumpuk buku yang dipeluk erat di dada. Sebagian rambutnya berkibar diterpa angin. Sementara langkahnya tergesa karena jam kuliah pertama akan segera dimulai.
"Rahma!" Seseorang memanggil dari kejauhan. Rahma menoleh. Seorang teman sekelas melambaikan tangan dari depan gedung A Fakultas Ekonomi.
"Kamu semalam tidur nggak sih?"
"Sedikit ...." Rahma tertawa.
"Kamu habis bikin tugas lagi?"
"Iya, bikin proposal." Rahma mengangguk.
"Proposal apa?"
"Beasiswa."
"Kamu ini ... apa enggak capek?" Temannya menggelengkan kepala pelan dengan alis sedikit terangkat.
"Capek ...? Pastilah! Tapi selama mimpiku masih terasa dekat, lelah selalu terasa lebih ringan," Jawab Rahma sambil tersenyum.
Dia memang berbeda dari kebanyakan teman-temannya. Banyak mahasiswa lain yang mulai sibuk memikirkan pekerjaan setelah lulus. Ada juga yang membahas rencana menikah beberapa tahun lagi. Tapi Rahma justru menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan membaca buku tentang universitas-universitas di luar negeri.
Belanda ... negara itu selalu membuat matanya berbinar. Bukan karena foto-foto kanal yang indah dan bangunan tuanya yang terkenal. Tapi karena program pascasarjana, Magister Ekonomi Pembangunan yang dia impikan berada di sana.