Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #13

Bab 12. Pemuda yang Memikat (flashback)

... merayakannya dengan seseorang yang memahami mimpiku ...

Rian ...? Ghea menarik napas panjang.

Nama itu kini terasa hidup. Bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas tua. Dia adalah seseorang yang memahami Rahma jauh lebih dalam daripada siapa pun. Dan seseorang yang pernah membuat mamanya tersenyum melalui lembaran buku harian ini.

Ujung jemari Ghea terasa dingin. Entah karena malam yang semakin larut atau karena nama yang sejak tadi terus berputar di kepalanya. Dia lalu membuka lembar berikutnya.

©*©

Tahun 1997.

Sore itu matahari menggantung rendah di langit di atas Gedung A Fakultas Ekonomi. Saat itu Rahma berjalan sendirian menyusuri sepanjang koridornya menuju halaman belakang Gedung Senat Mahasiswa.

Hari itu menjadi hari yang membahagiakan bagi Rahma. Karena namanya baru saja dinyatakan lolos seleksi tahap pertama program beasiswa luar negeri yang selama ini dia impikan.

Namun, ada satu hal yang paling ingin dia lakukan setelah ucapan selamat dari teman-teman mereda dan hiruk-pikuk kampus kembali normal. Dia ingin bertemu seseorang.

Angin sore menggerakkan dedaunan pohon beringin besar di halaman belakang Gedung Senat Mahasiswa. Dan dari arah sana sebuah melodi gitar akustik mengalun pelan.

Rahma mendengar melodi itu dan langsung tahu siapa orangnya. Karena hanya ada satu orang yang memainkan melodi gitar seperti itu. Dia terus berjalan hingga langkahnya berhenti di bawah pohon beringin.

Di sana terlihat seseorang duduk di atas bangku kayu sedang bermain gitar. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan ditiup angin.

Seseorang itu ... Rian. Rahma tersenyum memandangnya. Cara Rian bermain gitar selalu membuat orang yang melihatnya mengernyitkan dahi.

Setiap kali jari-jemari tangan kirinya bergerak memetik senar-senar gitar, nada-nada yang keluar justru terdengar lebih hidup daripada permainan musisi kampus mana pun yang pernah Rahma dengar.

Rahma menulis dalam buku hariannya tentang keunikan Rian saat bermain musik.

"Cara Rian bermusik selalu berbeda. Melodinya unik tapi terdengar lebih hidup. Petikan jari tangan kirinya justru melahirkan harmoni paling tenang di kepalaku."

—————

Pandangan mata Ghea mendadak berhenti pada paragraf yang menceritakan Rian pandai bermain gitar. Jantungnya berdesir. Bayangan gitar tua di gudang muncul begitu saja. Lalu Ghea merasakan bulu kuduknya meremang perlahan.

Jangan-jangan ... gitar tua itu milik Rian dulu. Mungkin hadiah atau kenang-kenangan untuk Mama.

Ghea menatap kosong ke arah dinding.

Papa pasti tahu dan enggak suka melihat benda yang mengingatkan Mama pada laki-laki lain. Dan mungkin karena itulah gitar itu disembunyikan jauh di gudang.

Pikiran itu membuat Ghea merasa berat untuk menarik napas. Tapi dia menurunkan pandangannya pada buku harian itu lagi dan membacanya kembali.

—————

"Aku dengar ada orang yang lolos seleksi beasiswa." Jemari tangan kiri Rian tidak menghentikan petikan gitarnya.

"Kamu pura-pura enggak tahu ya?" Rahma mendengus kecil.

"Aku cuma memastikan."

Rian mengangkat wajahnya memandang Rahma. Tatapan matanya selalu terlihat berkilat hidup. Seolah ada matahari kecil yang bersembunyi di sana.

"Selamat, Rahma," ucap Rian.

Lihat selengkapnya