Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #14

Bab 13. Distorsi Realitas Ghea

Haruskah aku bertanya langsung kepada Mama?

​Pertanyaan itu mengambang di rongga kepala Ghea dan tidak sempat memudar meskipun fajar mulai menyelinap di balik tirai jendela. Setelah berpakaian rapi, Ghea melangkah keluar kamar dan berdiri di depan pintu. Dia mendengar riuh rendah suara minyak dari arah dapur bersahutan dengan suara koran digital di ruang depan. Namun, rumah itu terlanjur sunyi bagi Ghea.

Gadis itu turun, tapi langkahnya berhenti di anak tangga ke tiga dari atas. Pandangannya tertuju ke cermin besar di ruang tengah. Di sana Baskoro sedang melipat ujung lengan kemeja panjangnya dengan dua lipatan sempurna tanpa kerutan kemudian membungkuk menjejalkan kakinya ke dalam sepasang sepatu pantofel hitam mengkilat.

Ghea meremas pegangan tangga kayu. Selama dua puluh tahun, pemandangan itu hanyalah rutinitas pagi yang biasa. Namun hari ini, setelah membaca buku harian mamanya, kemeja rapi dan sepatu pantofel itu berubah menjadi simbol kepatuhan yang membosankan. Sebagai wujud pria yang telah merenggut seluruh idealisme dan warna-warni masa muda Rahma.

Ghea melangkah dengan menyeret kakinya menuju ruang makan. Di sana, Bayu sudah duduk menghadap piringnya sambil memainkan sendok.

"Mama, hari ini jangan telur lagi dong," pinta Bayu.

"Kemarin juga kamu bilang begitu." Rahma tertawa kecil.

"Ya ... karena kemarin telur juga."

"Besok Mama masakin ayam," janji Rahma. Bayu mengangguk puas.

Ghea datang dan menarik kursi yang posisinya paling jauh dari Bayu tanpa mengatakan apa-apa. Atmosfer di antara mereka berdua langsung terasa kaku. Karena imbas dari pertengkaran hebat tadi malam masih menyisakan dinding pembatas yang tebal.

"Mau Mama ambilin nasi, Ghee ...?" Rahma segera berdiri.

"Ghea ambil sendiri," jawabnya pendek.

Rahma sempat terdiam sesaat sebelum kembali duduk sementara Bayu mendengus pelan. Menyadari gelagat tidak beres itu Rahma mencoba mencairkan suasana. "Bayu, nanti pulang sekolah langsung ke toko buku, kan? Sekalian temani kakakmu cari referensi tugas kalau dia butuh."

"Enggak usah, Ma. Ghea bisa sendiri," potong Ghea cepat, bahkan sebelum Bayu sempat merespons.

Di ujung meja, Baskoro yang sejak tadi diam menikmati kopi hitam tanpa gula, menurunkan cangkir ke tatakan dengan tegas.

"Ada masalah?" Pandangan matanya yang tajam menatap Ghea dan Bayu bergantian.

"Enggak ada." Ghea cepat menjawab. Bayu hanya menggeleng.

"Kalau ada masalah, selesaikan baik-baik. Kalian sudah dewasa. Berhenti bersikap kekanak-kanakan di meja makan," kata Baskoro tegas.

Keheningan langsung menyergap mereka di ruang makan. Bayu menenggelamkan wajahnya. Sementara Ghea semakin tidak nyaman dan hanya menatap piring nasinya dengan rahang mengeras.

Dalam hitungan menit, Bayu telah menghabiskan suapan terakhirnya dan segera berpamitan pada papa mamanya tanpa melirik Ghea sedikitpin.

Suasana rumah kembali terasa jauh lebih sepi bagi Ghea. Sementara Baskoro dan Rahma masih duduk di makan.

"Nanti pulang jangan terlalu malam, ya," kata Rahma

"Ada rapat." Baskoro melirik jam dinding lalu beralih pada Rahma.

"Oh ...."

"Kalau selesai cepat, saya pulang," janji Baskoro. Rahma mengangguk.

"Itu keran depan sudah dibetulkan?" tanya Rahma.

"Sudah."

Lihat selengkapnya