Aku Hampir tak Memilihmu

bomo wicaksono
Chapter #15

Bab 14. Trauma Ghea

Pagi itu, Ghea terbangun dengan kepala yang terasa berat. Dia hanya bisa memejamkan mata selama beberapa jam saja sambil memeluk bantal semalaman. Sementara pikirannya terus berputar pada wajah mamanya yang letih di dapur dan punggung papanya yang menghilang ke dalam kamar.

Ghea duduk di tepi tempat tidur dan mulai mengingat kembali semua yang telah dibacanya. Tentang masa muda mamanya yang penuh mimpi, Rian yang penuh energi, dan tentang seorang perempuan yang perlahan kehilangan sayapnya.

Pelan tapi pasti, ketakutan muncul di dadanya. Ghea takut kalau semua hubungan akan berakhir seperti itu. Takut kalau cinta hanya hangat di awal, lalu perlahan berubah menjadi rutinitas yang dingin membosankan. Dan setiap orang pada akhirnya harus mengubur dirinya sendiri demi bertahan.

Kalau begitu ... untuk apa mencintai seseorang kalau semua hubungan akhirnya jadi penjara? Dan semua orang yang jatuh cinta pada akhirnya hanya akan saling menyakiti?

Ghea memeluk kedua lututnya. Pertanyaan itu membuat dadanya sesak. Beberapa menit berlalu dia hanya duduk diam hingga terdengar suara notifikasi dari ponselnya.

Dengan rasa malas Ghea menggerakkan tangan mengambilnya. Dan nama Devan muncul di kotak masuk layar ponselnya.

Udah bangun?

Jangan lupa sarapan.

Nanti siang makan bareng, ya?

Biasanya pesan-pesan sederhana itu akan membuatnya tersenyum. Namun, di pagi itu dia hanya memandanginya tanpa ekspresi. Lalu membalasnya dengan singkat.

Aku banyak tugas.

Dia segera meletakkan ponselnya kembali dan beranjak keluar dari kamar.

©*©

Pagi itu, Ghea berangkat kuliah sebelum aroma kopi hitam papanya memenuhi ruang makan. Dia sengaja berangkat satu jam lebih awal untuk menghindari tatapan lelah mamanya. Dan juga untuk mengabaikan keheningan canggung yang selalu menjebak mereka di meja sarapan.

Bagi Ghea, melarikan diri ke kampus terasa jauh lebih nyaman daripada harus berpura-pura normal di bawah atap yang penuh kepalsuan itu. ​Namun, melarikan diri dari rumah ternyata tidak membuat kepala Ghea menjadi tenang.

​Saat kakinya melangkah keluar dari tempat parkir dan melewati kantin yang mulai ramai, dadanya justru terasa semakin sesak. Setiap kali melihat sepasang mahasiswa yang berjalan beriringan sambil bercanda dan tertawa atau duduk berdua menikmati sarapan, batin Ghea langsung berbisik sinis.

Kalian pikir canda dan tawamu itu akan bertahan berapa lama? Komitmen akan mengubah kalian menjadi orang asing yang membosankan.

Trauma dari buku harian Rahma telah berkembang menjadi kacamata baru bagi Ghea. Dia mulai memandang semua bentuk kedekatan sebagai ancaman. Dan ancaman terbesar yang ingin dia hindari saat ini adalah Devan.

Menjelang siang setelah selesai kuliah, Ghea berjalan melintasi koridor Gedung A sambil membawa beberapa buku. Langkah kakinya berlanjut melewati koridor gedung perpustakaan. Di ujung koridor langkahnya terhenti ketika sebuah suara memanggil namanya.

"Ghee ...!"

Ghea menoleh dan melihat Devan berjalan cepat menghampirinya.

"Akhirnya ketemu juga. Dari tadi aku nyariin kamu." Wajah cowok itu tampak sedikit lega. Sementara Ghea hanya mengangguk kecil.

"Kamu udah makan?"

"Belum," Ghea menjawab singkat.

"Makan, yuk."

"Aku banyak tugas."

"Kamu menghindar terus dari pagi." Devan mengerutkan kening.

"Aku beneran sibuk." Ghea memalingkan wajah.

"Sepuluh menit aja." Devan mencoba merayunya.

"Enggak bisa!" jawab Ghea cepat.

Devan terdiam. Dalam beberapa detik dia memperhatikan Ghea. Ada sesuatu yang berubah dalam diri pacarnya itu.

Lihat selengkapnya