Sore itu, Ghea baru saja pulang dari kampusnya. Dia segera melangkah masuk rumah tanpa mengeluarkan suara. Suasana rumah sedang sepi. Tidak ada suara televisi dari ruang tengah, tidak ada suara Bayu bermain game, dan tidak terdengar gemericik air dari dapur.
Kaki Ghea terus melangkah menuju tangga masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Dia duduk di kursi lalu meletakkan tas dan ponselnya yang telah dimatikan dayanya di atas meja belajar. Gadis itu sedang tidak ingin melihat apa pun. Terutama ruang obrolannya dengan Devan yang kini kosong dan membisu.
Ghea memejamkan mata beberapa menit. Bayangan wajah Devan muncul lagi di kelopak matanya dengan senyum yang tampak sedih.
"Aku jahat ya, Van ...," bisiknya pelan. Tanpa sadar jemari Ghea meremas ujung bajunya.
Rasa bersalah yang teramat besar menghujam dadanya saat mengingat bagaimana siang tadi di kampus dia mendorong cowok itu menjauh. Namun, ego di kepalanya terus berbisik bahwa ini adalah jalan terbaik.
Ghea masih duduk termenung di kursi. Setelah beberapa menit, dia membuka laci mejanya. Di sana, buku harian itu tergeletak diam. Dengan tangan sedikit gemetar, Ghea mengambil buku itu kemudian duduk di lantai bersandar di kaki tempat tidur.
"Kalau saja semua ini enggak pernah aku temukan ...," gumamnya lirih, "mungkin semuanya masih baik-baik saja."
Namun, rahasia itu sudah ada sejak lama bahkan sejak dia belum lahir. Dan dia adalah orang terakhir yang mengetahuinya.
Jemari Ghea membuka lembar berikutnya dengan pelan, melompati garis waktu menuju catatan di tahun terakhir kuliah mamanya. Tulisan Rahma masih rapi, tegas, dan penuh semangat.
—————
14 April 1997
Hari ini rasanya seperti mimpi ... surat dari komite seleksi akhirnya datang dan namaku ada di urutan pertama.
Aku lolos lagi tahap pertama, kali ini beasiswa ke Australia. Rasanya seluruh kerja keras dan malam-malam tanpa tidur di perpustakaan terbayar lunas.
Aku langsung menyerahkan draf proposal cadangan yang kemarin kubuat ke dekanat untuk jaga-jaga jika ada opsi universitas lain sebagai perbandingan.
Kata Rian, aku harus punya rencana cadangan karena dunia kadang terlalu suka membuat kejutan.
Saat aku memberi tahu Rian di kantin, dia langsung mengangkat tubuhku dan berputar-putar seperti orang gila sampai semua orang melihat kami.
Rian selalu seperti itu. Dia berjanji akan merayakan ini dengan mendampingiku ke mana pun aku pergi.
Dia bilang, impianku adalah impiannya juga. Dukungannya membuatku merasa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak bisa kami taklukkan bersama.
Jemari tangan Ghea membalik lembaran berikutnya dengan napas yang mulai tertahan. Tulisan tangan mamanya di lembar itu tampak lebih rapat, digoreskan dengan tinta hitam yang tegas.
09 Oktober 1997
Kami akhirnya memutuskan untuk menikah. Banyak orang bilang ini terlalu cepat, apalagi kami berdua masih berada di tahun terakhir kuliah dan keuangan kami sepenuhnya masih ditopang oleh orang tua masing-masing.
Tapi Rian meyakinkanku bahwa menunggu lulus hanya akan membuang waktu. Pernikahan ini justru akan menjadi bahan bakar baru bagi impian kami.
Rian berkata, rumah tidak dibangun oleh uang terlebih dahulu, melainkan oleh dua orang yang bersedia berjalan ke arah yang sama. Dan aku ingin berjalan ke arah itu bersamanya.
Dua hari setelah akad nikah yang sederhana, kabar gembira itu datang bertubi-tubi. Tiga proposal beasiswa lainnya yang kukirimkan beberapa bulan lalu diterima sekaligus!
Ada satu program yang menerimaku langsung tanpa tes, ada yang masih harus menunggu nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) final setelah sidang kelulusanku. Dan ada satu lagi yang mengharuskanku mengikuti tes wawancara lanjutan di Jakarta.
Aku sangat bersemangat. Langkahku menuju Eropa sudah di depan mata, dan Rian tidak pernah berhenti mendorongku untuk mengambil kesempatan terbaik.